Pada Sabtu (25/4/2026), Trash Ranger Indonesia bersama Teens Go Green, HMNS, serta komunitas lingkungan lainnya menghadirkan aksi nyata peringatan Hari Bumi 2026 melalui kegiatan belajar biopori dan berkebun di Sungai Ciliwung.
Kegiatan ini melibatkan lebih dari 100 anak muda dari wilayah Jabodetabek yang secara langsung terjun dalam aksi lingkungan berbasis pengalaman.
Program tersebut merupakan bagian dari inisiatif berkelanjutan TGGI melalui TGGI Berkelana sekaligus kampanye “Menyebarkan Virus Cinta Lingkungan”. Di mana mendorong generasi muda untuk tidak hanya memahami isu lingkungan, tetapi juga mengambil peran aktif dalam upaya perbaikan.
Direktur Eksekutif TGGI, Bambang Sutrisno, menyampaikan bahwa momentum Hari Bumi harus dimaknai sebagai ajakan untuk bergerak bersama.
Kegiatan bersama ini di Hari Bumi tidak cukup diperingati secara seremonial, acara ini bertujuan ingin mengajak anak muda untuk benar-benar terlibat dalam aksi nyata sebagai bentuk tanggung jawab dan rasa terima kasih terhadap Bumi.
Rangkaian aktivitas dimulai sejak pagi dengan berbagai aktivitas yang menggabungkan edukasi dan aksi lapangan, mulai dari pembersihan sampah sungai dan penimbangan sampah, hingga penanaman pohon di area sempadan Sungai Ciliwung.
Peserta juga mengikuti workshop pembuatan lubang resapan biopori yang bertujuan meningkatkan daya serap air tanah sekaligus mengelola sampah organik, berkebun di area sempadan sungai untuk memperkuat ekosistem riparian, serta pengenalan satwa liar yang hidup di ekosistem sungai.
Hasil Nyata, 318 Kg Sampah Terangkat
Aksi bersih sungai mengumpulkan 318,48 kilogram sampah anorganik, didominasi plastik sekali pakai, kemasan makanan, dan popok sekali pakai. Angka ini menunjukkan tekanan sampah terhadap ekosistem sungai masih tinggi.
Kemudian, dengan adanya workshop biopori dan kegiatan berkebun, para peserta membawa manfaat dengan bekal keterampilan konkret. Sebab, aktivitas tersebut juga melibatkan berbagai komunitas: Yayasan Sahabat Ciliwung, Sahabat Sungai Sukahati, Trash Ranger Indonesia, Forum Kesatuan Pelajar Depok, dan GYBN Indonesia.
Trash Ranger Indonesia ikut serta membantu aksi bersih sungai, mendapatkan edukasi dari Dimas Dwi Pangestu sebagai founder Trash Ranger, menyoroti perubahan perilaku dalam mengatasi sampah, serta menambahkan bahwa plastik sekali pakai sangat dekat dengan kehidupan kita.
Perubahan kecil dari setiap individu bisa berdampak besar jika dilakukan bersama.
Workshop Lubang Resapan Biopori

Aksi workshop pembuatan lubang resapan biopori (Dok. Komunitas/Teens Go Green Indonesia)
Ratusan anak muda juga mengikuti aksi nyata di workshop pembuatan lubang resapan biopori yang dipandu oleh praktisi dari Sahabat Ciliwung.
Dalam sesi ini, anak muda belajar cara membuat biopori berdiameter 10 cm dengan kedalaman 80–100 cm, kemudian mengisi lubang dengan sampah organik untuk diuraikan oleh fauna tanah.
Workshop tersebut bertujuan meningkatkan daya serap air tanah, mengurangi genangan, sekaligus mengelola sampah organik rumah tangga dan biopori sebagai solusi sederhana yang bisa diterapkan di pekarangan rumah. Dengan demikian, workshop ini diajak mempraktikkan langsung, bukan sekadar teori.
Dalam workshop ini, peserta memahami bahwa biopori tidak hanya mempercepat penyerapan air hujan ke dalam tanah, sehingga mengurangi genangan dan banjir. Namun, juga mengubah sampah organik menjadi kompos alami berkat aktivitas fauna tanah.
Satu lubang biopori bisa menyerap air hingga 100 liter per menit. Ini solusi nyata yang bisa kalian buat di rumah masing-masing. Sesi tersebut sukses mencetak 30 lubang biopori baru di kawasan Sahabat Ciliwung.
Berkebun di Sempadan Sungai, Memperkuat Ekosistem Riparian
Selain biopori, peserta juga melakukan kegiatan berkebundi lahan sempadan Sungai Ciliwung. Mereka menanam berbagai tanaman penahan erosi seperti vetiver, serta sayuran lokal. Tujuannya bukan hanya mempercantik bantaran sungai, tetapi juga:
Memperkuat struktur tanah agar tidak mudah longsor.
Meningkatkan keanekaragaman hayati mikro di sekitar sungai.
Mengedukasi warga bahwa sempadan sungai tidak boleh digunakan untuk bangunan permanen.
Bilqis dari Sahabat Sungai Sukahati merasakan keseruan dan antusias nya bahwa setiap anak muda melihat langsung peran penting sungai bagi masyarakat sekitar.
Kegiatan berkebun ini tidak hanya bertujuan menghijaukan area sungai, tetapi juga memperkuat ekosistem riparian dan memberikan alternatif pemanfaatan lahan terbatas secara produktif.
Anak Muda dari Bogor bernama Reni sangat antusias saat berkebun, karena mengajarkan bahwa menjaga bumi bisa dimulai dari hal kecil, seperti merawat tanaman di tepi sungai.
Melalui pendekatan experiential learning, kegiatan ini diharapkan membangun kesadaran mendalam sekaligus mendorong aksi berkelanjutan. Kolaborasi organisasi pemuda, brand, dan komunitas yang sejalan dengan tema Hari Bumi 202 'Kekuatan kita, Planet Kita',menjadi contoh sinergi lintas sektor yang menciptakan dampak nyata.
Hari Bumi di Ciliwung menjadi ruang belajar bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil, seperti membuat biopori atau berkebun, ketika dilakukan secara kolektif.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


