seminar parenting slb d d1 ypac menciptakan kemandirian anak berkebutuhan khusus bersama orang tua - News | Good News From Indonesia 2026

Seminar Parenting SLB D/D1 YPAC: Menciptakan Kemandirian Anak Berkebutuhan Khusus Bersama Orang Tua

Seminar Parenting SLB D/D1 YPAC: Menciptakan Kemandirian Anak Berkebutuhan Khusus Bersama Orang Tua
images info

Seminar Parenting SLB D/D1 YPAC: Menciptakan Kemandirian Anak Berkebutuhan Khusus Bersama Orang Tua


Selasa, 29 April 2026, Aula SLB D/D1 YPAC Surakarta menjadi tempat pelaksanaan "Seminar Parenting withAwareness." Pentingnya Awareness bagi orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah karena bagaimana anak disadari keberadaannya dan dilakukan latihan kemandirian sedini mungkin.

Agenda ini diselenggarakan oleh Kelompok Hibah JARPAK 2026 Universitas Sebelas Maret (UNS) yaitu bagian dari komitmen mahasiswa Program Studi Pendidikan Luar Biasa (PLB) dalam program pemberdayaan keluarga dan masyarakat. Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber kompeten: Bapak Jalaludin Khawarizmi, S.Pd., Ibu Tri Mulyani, M.Pd., dan Bapak Mohammad Anwar, M.Pd. dari APOI (Asosiasi Profesional Ortopedagogik Indonesia).

Membangun Lingkungan dan Mental Mandiri bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Membuka sesi materi, Bapak Jalaludin Khawarizmi menekankan pentingnya menciptakan sekolah dan lingkungan yang ramah disabilitas. Beliau mengingatkan orang tua harus tidak beranggapan bahwa anak tidak bisa melakukan apa-apa.

baca juga

Sebaliknya, orang tua perlu memberikan kepercayaan kepada anak untuk mencoba hal-hal baru dan memberikan pujian (penguatan) sebagai positive reinforcement, teknik perilaku, yang sering digunakan dalam pendidikan dan psikologi, yang meningkatkan kemungkinan perilaku yang diinginkan dengan menambahkan stimulus yang bermanfaat seperti, pujian atau hadiah segera setelah perilaku tersebut terjadi. Setiap kali anak menunjukkan kemajuan agar kemandirian mereka tumbuh sesuai kemampuan masing-masing. Peran orang tua penting sebagai sosok teladan di rumah.

Melanjutkan materi kedua, Ibu Tri Mulyani menjelaskan bahwa memiliki anak disabilitas bukanlah suatu hukuman atau karma. Beliau mengajak orang tua untuk memiliki kelapangan hati dalam menerima kondisi anak. Orang tua harus mencapai tingkatan acceptance, karena anak paling banyak menghabiskan waktu di rumah, Ibu Tri menekankan peran orang tua harus bisa menjadi role model, yaitu dalam mengelola emosi.

Orang tua harus berhati-hati saat marah, karena anak hidup dengan cara meniru perilaku orang tua dalam mengelola emosi seperti, marah, sedih, bahagia. Selain itu, melatih keterampilan hidup penting dalam membiasakan anak mandiri dalam hal makan dan kebersihan diri melalui rutinitas yang terstruktur. Anak harus memiliki bonding yang kuat dengan orang tua.

Orang tua juga harus dapat membangun hubungan yang baik antara anak disabilitas dengan saudaranya yang normal. Orang tua dianjurkan melakukan kolaborasi dengan profesional seperti, bekerja sama dengan terapis, dokter, atau psikiater agar pola asuh di rumah sejalan dengan saran ahli dan meminimalkan kekeliruan treatment.

baca juga

Sebagai narasumber penutup, Bapak Mohammad Anwar dari APOI memberikan motivasi bahwa masa depan anak disabilitas sangat terbuka, termasuk peluang menempuh pendidikan tinggi di UNS melalui jalur khusus. Harapan anak berkebutuhan khusus (ABK) menempuh pendidikan tinggi sangatlah besar. Beliau berpesan agar orang tua tetap memiliki harapan yang tinggi.

Namun, harapan tersebut harus tetap realistis dan terjangkau oleh anak. "Setiap anak itu unik. Jangan membandingkan mereka dengan anak normal agar tidak mematahkan semangatnya. Orang tua adalah kunci utama perkembangan anak, jangan pasrah sepenuhnya pada guru tetapi, harus terus percaya diri dan yakin pada kemampuan anak sendiri," tegas Pak Anwar.

Melalui inisiatif dari kelompok Hibah JARPAK 2026, seminar ini diharapkan dapat memperkuat semangat orang tua untuk terus mendampingi anak-anak mereka menjadi pribadi yang mandiri dan berdaya. Dukungan penuh dari orang tua merupakan sistem pendukung utama (main support system). Kehadiran orang tua memberikan rasa aman dan meningkatkan kepercayaan diri anak dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AD
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.