Apakah bangsa Viking adalah satu-satunya pelaut yang ditakuti dunia? Ternyata, jauh di ujung timur Nusantara, terdapat Pasukan Bajak Laut Papua sebagai armada laut legendaris yang membuat kapal-kapal Belanda abad ke-18 merinding.
Pasukan Bajak Laut Papua dengan nyanyian perang yang mencekam, mereka menguasai jalur laut dari Raja Ampat hingga Jawa, mengguncang hegemoni VOC dan mengubah wajah sejarah maritim Nusantara.
Banyak orang mengagumi keberanian para pelaut Eropa yang menjelajahi samudra pada abad pertengahan. Namun, seringkali kita lupa bahwa di perairan Nusantara, ada armada laut yang tak kalah legendaris.
Sumber-sumber sejarah modern memperkirakan bahwa jauh sebelum era keemasan bajak laut Karibia, pelaut-pelaut dari Papua sudah menaklukkan gelombang Samudra Pasifik dan Hindia dengan perahu tradisional mereka. Mereka tidak hanya berdagang, tetapi juga menjadi kekuatan militer yang amat ditakuti oleh musuh-musuhnya.
1. Senjata Rasa Takut: Klan Omkai dan Terornya “Papuase Zeeroovers”
Pedagang, nelayan, dan tentara VOC yang melintas di perairan Maluku dan Papua pesisir pada abad ke-18 hidup dalam ketakutan yang nyata. Mereka menyebut armada ini dengan istilah yang penuh getir bernama Papuase Zeeroovers, atau Bajak Laut dari Papua.
Kelompok bajak laut yang paling ditakuti ini ternyata bukanlah gerombolan tak terorganisir. Mereka didominasi oleh para pelaut tangguh dari pesisir Kepala Burung Pulau Cenderawasih, terutama suku Biak dan Numfor. Dalam catatan sejarah maritim, mereka dijuluki “Vikingnya Papua”,sebuah sebutan yang sangat tepat, mengingat keahlian mereka dalam berlayar, bertempur, dan menguasai lautan lepas.
Teror mereka tidak hanya menyasar harta benda, tetapi juga manusia. Mereka dikenal memiliki kebiasaan yang paling ditakuti oleh awak kapal yang melintas: mengambil perempuan dari kapal-kapal yang mereka rampok sebagai sandera.
Basis operasi mereka tersebar di wilayah strategis dari Kepulauan Raja Ampat, Fakfak, hingga Teluk Cenderawasih. Dari sanalah mereka melancarkan ekspedisi-ekspedisi yang meneror kapal-kapal VOC dan pedagang asing lainnya. Perahu mereka cepat dan lincah, sementara pengetahuan mereka tentang medan laut di perairan Papua dan Maluku begitu mendalam dan menjadikan sebuah keunggulan yang tidak dimiliki oleh kompeni Belanda.
Selain ditakuti karena keganasan, para pelaut Papua juga dikenal bersifat pantang menyerah. Mereka memiliki “roh” yang membara dan tak kenal kompromi dalam bertempur, sebuah semangat yang sama-sama dipunyai oleh pasukan De Maccasare ze Rovers (Bajak Laut Makassar) yang juga membuat kompeni VOC gempar pada masanya.
2. Penguasa Laut dari Timur: Navigator Andal
Jika bangsa Viking terkenal dengan kapal “longship” mereka, maka pelaut Papua mengandalkan perahu tradisional yang gesit dan pengetahuan navigasi yang mendalam. Mereka secara turun-temurun menguasai rahasia angin, arus, dan musim untuk membawa armada mereka melintasi lautan lepas.
Kisah legendaris yang hidup di kalangan masyarakat Raja Ampat menceritakan tentang seorang pahlawan agung bernama Sekfamneri dari Pulau Waigeo. Ia digambarkan sebagai pemimpin yang sakti mandraguna, bukan hanya seorang pelaut ulung yang mampu membaca bintang, tetapi juga konon memiliki kekuatan supranatural.
Diceritakan dari Detik, bahwa ketika pasukannya kehausan di tengah laut, ia bisa mendatangkan hujan; dan ketika mereka kelaparan, ia bisa menghadirkan ikan-ikan dari samudra. Ia bahkan berlayar hingga ke Makassar dan Jawa untuk menculik orang-orang dari pulau itu guna dijadikan pendayung kapalnya.
3. Sekutu yang Mengerikan dalam Perang Melawan VOC
Di balik reputasi mereka sebagai “bajak laut”, ada dimensi lain yang lebih penting: peran strategis para pelaut Papua sebagai sekutu dalam Pemberontakan Nuku (1780-1810).
Kompas menuliskan, Sultan Nuku Muhammad Amiruddin merupakan pahlawan nasional yang diangkat pada 1995, adalah pangeran Tidore yang sah. Namun, ia terusir akibat intervensi VOC yang lebih memilih adiknya sebagai Sultan. Daripada menyerah, Nuku memilih bertempur dan membangun aliansi besar.
Aliansi ini bukan hanya kekuatan politik biasa; ia menyatukan berbagai kelompok etnis di Indonesia timur termasuk para “bajak laut” ganas dari Papua. Sultan Nuku dengan brilian memanfaatkan kehebatan maritim mereka untuk membangun basis pertahanan dan armada perang. Para pelaut dari Raja Ampat, yang sangat ditakuti Belanda, menjadi ujung tombak kekuatan laut Nuku.
Hasilnya mencengangkan. Tirto.id menuliskan, perlawanan Nuku yang mengerikan membuat VOC kerepotan dan keluar sebagai pemenang di fase pertama. Mereka bahkan merebut kembali Tidore dan mengusir Belanda pada 1797. Ini terjadi beberapa dekade sebelum perlawanan Pangeran Diponegoro yang lebih dikenal.
4. Warisan yang Tak Padam: Jejak Kebudayaan dan Kehormatan
Setelah melalui konflik berdarah selama bertahun-tahun, kekuatan Eropa akhirnya menang dan Belanda kembali mendominasi. Namun, cerita tentang para pelaut pemberani dari Papua tidak pernah benar-benar padam.
Pasukan Bajak Laut Papua tidak hanya meninggalkan catatan kekejaman, tetapi warisan budaya yang kaya. Mereka membangun kerajaan-kerajaan maritim, seperti Kerajaan Waigeo, yang menjadi pusat kekuasaan di jantung Raja Ampat.
Bajak Laut Papua juga menyebarkan pengaruh budaya dan kekuatan politik yang menghubungkan Papua dengan pusat-pusat kekuasaan di Maluku. Orang-orang Belanda menjuluki mereka “bajak laut”, yang dalam kamus modern memiliki konotasi kriminal.
Namun, dalam konteks peperangan masa itu, tidakkah mereka adalah patriot dan “laksamana perang” yang membela tanah tumpah darah dari cengkeraman kolonial? Pertanyaan ini mengajak Kawan GNFI untuk merenungkan narasi mana yang melanggengkan kekuasaan, dan suara siapa yang selama ini tenggelam oleh gelombang sejarah.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


