Besemah adalah salah satu suku asli Sumatra Selatan yang mendiami daerah di sekitar Gunung Dempo, di antaranya wilayah Pagar Alam dan Lahat. Menurut legenda, peradaban di suku Besemah dibangun oleh tiga puyang (nenek moyang). Mereka adalah Dewa Gumay, Dewa Semidang, dan Dewa Atung Bungsu yang turun dari kayangan sebagai manusia.
Legenda berikut dilansir dari Cerita Rakyat Sumatera Selatan: Kisah Tiga Dewa Pendiri Jagat Besemah karya Dian Susilastri. Cerita rakyat ini mengisahkan bagaimana para dewa mengajari masyarakat primitif dan membawa kedamaian di tanah Besemah.
Kondisi Gunung Dempo sebelum Turunnya Para Dewa
Sebelum kedatangan para dewa, kaki Gunung Dempo yang subur telah ditempati oleh Jeme Dempu(orang Dempo) dan bangsa-bangsa lain dari luar, yaitu Kam-Kam, Nik-Nuk, Ducung, Sebakas, Berige, Rebakau, dan Rejang. Mereka memanfaatkan hasil hutan dengan peralatan sederhana dan hidup berpindah dari gua ke gua.
Kehidupan mereka senantiasa terganggu dengan keberadaan masumai, hantu-hantu penunggu Gunung Dempo. Masumai berperawakan menyeramkan, berkulit hitam, berbulu, dan bercula di kepalanya. Mereka mampu bergerak cepat dan melayang-layang dengan jubahnya.
Setiap pagi menjelang fajar dan senja menjelang malam, gerombolan masumai turun dari gunung. Mereka menculik anak-anak untuk diasuh sebagai anak buah atau dijadikan persembahan bagi puyang Gunung Dempo. Karena kekuatan masumai yang melebihi kemampuan manusia, para penghuni lembah memilih untuk berdiam diri di dalam gua setiap kali masumai turun.

Pemandangan Gunung Dempo di Kota Pagar Alam (Gambar dari Wikimedia Commons oleh Susansumi)
Turunnya Para Dewa Ke Bumi
Dewa-dewa penghuni kayangan menyaksikan kekacauan di Gunung Dempo. Mahadewa kemudian mengutus Dewa Gumay, Dewa Semidang, dan Dewa Atung Bungsu ke bumi sebagai manusia.
Mahadewa memerintahkan ketiganya untuk menaklukkan masumai dengan damai. Selain itu, ia juga memerintahkan mereka untuk membangun peradaban di bumi, khususnya di sekitar Lembah Dempo, dengan menetap di daerah baru yang timbangan airnya paling berat dan tanahnya hitam dengan perdu berduri.
Dewa Semidang adalah yang turun pertama ke dunia, diikuti Dewa Gumay yang terperangkap di dalam sebuah buah tempurung raksasa ketika turun di Bukit Siguntang. Setelah tujuh purnama berlalu, Dewa Semidang menemukan buah tersebut dan membantu Dewa Gumay membebaskan diri.
Dewa Atung Bungsu kemudian turun diiringi petir yang menggelegar di puncak Bukit Siguntang. Setelah itu, ketiga dewa berpisah untuk membina para manusia yang tersebar di sekitar Gunung Dempo. Mereka berjanji untuk kembali bertemu di Bukit Siguntang pada purnama ke-24.
Atung Bungsu Mendamaikan Manusia Dan Masumai
Dewa Atung Bungsu menemukan daerah yang diperintahkan Mahadewa setelah menyusuri Sungai Musi, tepatnya di muara sungai yang tidak bernama. Sungai ini kelak dinamai Sungai Besemah karena keberadaan ikan semah di dalamnya. Ia kemudian mendirikan Keratuan Besemah bersama Jeme Dempu, Bangsa Sebakas, Berige, Rebakau, dan Rejang.
Sementara itu, Dewa Gumay mengajari Jeme Dempu dan Kam-Kam untuk tinggal menetap di rumah panggung. Ia bahkan memperistri seorang perempuan dari Bangsa Ducung. Pada purnama ketujuh, Dewa Gumay menemukan bahwa anak tetangganya telah diculik oleh masumai.
Pada waktu yang bersamaan, Dewa Semidang mengembara ke arah Gunung Dempo dan membina Jeme Dempu dan Bangsa Nik-Nuk. Ia menikahi bidadari bernama Anti Kesuma yang tidak bisa kembali ke kayangan. Pada suatu malam, anak Dewa Semidang dan Anti Kesuma juga diculik oleh masumai.
Ketika para dewa kembali bertemu di Bukit Siguntang, Dewa Gumay dan Dewa Semidang melaporkan perbuatan masumai kepada Dewa Atung Bungsu. Meskipun paling muda di antara ketiga dewa, Dewa Atung Bungsu dianggap paling berwibawa dan dipercaya kedua saudaranya untuk menaklukkan Masumai.
Dewa Atung Bungsu mengingat pesan Mahadewa untuk berdamai dengan masumai. Ia kemudian pergi bertapa di puncak Gunung Dempo dan mengajak para masumai untuk berdialog.
Ratu Masumai, pemimpin gerombolan hantu penunggu Gunung Dempo, kemudian menceritakan bahwa mereka terusik dengan api dan asap yang digunakan manusia untuk memanggang daging. Mereka juga menganggap manusia telah mencuri ternak-ternak persembahan mereka. Oleh karena itulah masumai membalas dendam dengan menculik anak-anak manusia.
Sebagai solusi permasalahan tersebut, Dewa Atung Bungsu meminta masyarakat Besemah untuk mengolah makanan dengan cara direbus, sehingga asapnya tidak lagi menganggu. Sebaliknya, hantu-hantu penunggu diperbolehkan untuk tetap menempati Gunung Dempo dengan syarat melepaskan anak-anak yang mereka culik dan berbagi hewan ternak persembahan dengan manusia.
Semanjak saat itu, manusia dan masumai berdamai dan kehidupan di Gunung Dempo kembali tentram. Persoalan antara kedua pihak tersebut ternyata hanyalah salah paham yang dapat diselesaikan dengan musyawarah. Tidak semua konflik harus diselesaikan dengan kekerasan, bukan?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


