Kawan GNFI, pernah merasa seperti dipahami hanya dari membaca sebuah buku? Tanpa percakapan, tanpa penjelasan, tetapi rasanya begitu dekat. Perasaan itu sering muncul tanpa disadari, seolah-olah ada bagian dari diri kita yang akhirnya menemukan tempatnya di dalam cerita. Lalu, apa yang sebenarnya membuat hal itu bisa terjadi?
Membaca Lebih dari Sekadar Mengikuti Cerita
Aktivitas membaca tidak selalu tentang menyelesaikan halaman demi halaman hingga selesai. Ada kalanya, sebuah buku justru membuat kita berhenti sejenak, namun bukan karena ceritanya yang sulit dipahami, tetapi karena ada perasaan yang tiba-tiba terasa tidak asing.
Saat membaca, seseorang tidak hanya mengikuti alur dari cerita, tetapi juga perlahan masuk ke dalam perasaan tokoh di dalamnya. Dari situ, muncul satu pengalaman yang sering dirasakan oleh banyak orang, yaitu merasa dipahami meskipun hanya melalui sebuah buku.
Buku sebagai Cermin Perasaan
Dalam banyak cerita, tokoh-tokoh yang kita temui di buku sering terasa tidak asing bagi. Saat membaca, terkadang ada sesuatu yang terlintas di pikiran kita seperti, “ini kok mirip sama cerita hidup aku?”. Emosi yang dirasakan saat membaca terasa mirip dengan apa yang pernah kita alami.
Mungkin buku terasa seperti cermin bagi kita. Ia tidak benar-benar menunjukkan siapa kita, namun merefleksikan perasaan-perasaan yang kita rasakan tetapi sulit untuk dijelaskan. Hal-hal yang tidak sempat diucapkan, justru bisa ditemukan dalam kalimat-kalimat sederhana di dalam buku.
Ketika Cerita Orang Lain Terasa Sangat Personal
Ada momen tertentu saat membaca buku di mana sebuah bagian terasa ”relate”. Padahal, itu bukan cerita kita. Namun entah kenapa, rasanya begitu dekat dengan apa yang kita alami.
Dalam novel Luka Cita karya Valerie Patkarmisalnya. Salah satu kutipan yang terasa relevan yaitu “ Gimana caranya menghitung seberapa banyak perasaan yang kita punya saat kita nggak merasakan apa pun lagi?”. Mungkin terdengar sederhana, namun kutipan tersebut menyadarkan banyak orang bahwa bukan karena kita tak punya perasaan, tapi karena terlalu banyak yang telah dirasakan hingga akhirnya semuanya terasa hampa menyisakan jarak antara diri dan apa yang dulu begitu berarti.
Hal serupa juga terasa dalam novel Game Over, karya Valerie Patkar. Ada salah satu kutipan yang terasa relate dengan kehidupan, yaitu kutipan ”Hidup harus seimbang, karena kalau cuma mau seneng-seneng aja, giliran dikasih nyebelin, kita malah gak siap”. Di sini buku terasa seperti teman yang seolah memberi nasihat kepada pembacanya dan membuat pembaca merasa dimengerti.
Dua cerita yang berbeda, tetapi menghadirkan perasaan yang sama, yaitu sesuatu yang terasa dekat, meskipun bukan berasal dari pengalaman kita sendiri. Di situlah sebuah buku terasa lebih dari sekadar cerita. Ia menjadi ruang di mana perasaan-perasaan tersebut akhirnya menemukan bentuknya.
Perasaan yang Tertinggal Setelah Membaca
Tidak semua buku meninggalkan kesan yang langsung terasa. Ada yang justru bekerja secara perlahan, tetapi tetap bisa direnungkan oleh pembacanya. Setelah selesai membaca, yang tersisa bukan hanya cerita, tetapi juga perasaan yang sulit dijelaskan.
Tidak selalu sedih dan tidak juga selalu bahagia. Kadang hanya berupa diam yang cukup lama, seolah-olah ada sesuatu yang masih tertinggal. Perasaan itu bisa muncul karena kita merasa dilihat, atau setidaknya, merasa tidak sendirian dengan apa yang diri kita rasakan.
Perasaan dipahami, tanpa perlu banyak kata
Pada akhirnya, buku bisa menghadirkan sesuatu yang sering kali lebih dibutuhkan, yaitu perasaan dipahami. Melalui cerita orang lain, kita menemukan bagian dari diri kita sendiri. Dari situ, muncul kesadaran bahwa apa yang kita rasakan bukanlah sesuatu yang asing.
Penutup
Pada akhirnya, setiap orang mungkin punya buku yang terasa begitu dekat dengan dirinya. Buku yang tidak hanya dibaca, tetapi juga dirasakan. Kawan GNFI, pernahkah ada satu buku yang membuat kamu merasa seperti dipahami tanpa perlu banyak penjelasan?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


