sosok suwarsih djojopuspito menulis sebagai jalan membebaskan perempuan - News | Good News From Indonesia 2026

Sosok Suwarsih Djojopuspito, Menulis sebagai Jalan Membebaskan Perempuan

Sosok Suwarsih Djojopuspito, Menulis sebagai Jalan Membebaskan Perempuan
images info

Sosok Suwarsih Djojopuspito, Menulis sebagai Jalan Membebaskan Perempuan


Nama Suwarsih Djojopuspito mungkin belum sepopuler tokoh-tokoh besar dalam sejarah pergerakan Indonesia. Namun, jika kita menelusuri jejaknya, kita akan menemukan satu hal penting: ia tidak hanya menulis cerita, tetapi juga menulis perlawanan.

Di tengah ruang yang sempit bagi perempuan pada masa kolonial, Suwarsih memilih pena sebagai alat untuk menggugat ketidakadilan, patriarki, hingga penjajahan.

Lahir di Cibatok, Bogor, pada 20 April 1912, Suwarsih tumbuh dalam lingkungan yang tak biasa untuk zamannya. Ayahnya, meski bukan dari kalangan terpelajar, punya pandangan progresif tentang pentingnya pendidikan bagi anak perempuan. Dari sinilah, benih keberanian Suwarsih mulai tumbuh.

Pendidikan dan Kesadaran yang Membentuk Arah Hidup

Perjalanan intelektual Suwarsih dimulai dari Sekolah Kartini (sebuah simbol emansipasi perempuan pada masa kolonial). Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke MULO hingga akhirnya menempuh pendidikan di Europese Kweekschool di Surabaya, sekolah guru elite yang saat itu didominasi orang Eropa.

Bayangkan situasinya: seorang perempuan pribumi, berada di ruang pendidikan yang nyaris eksklusif. Di sinilah Suwarsih tidak hanya belajar mengajar, tetapi juga menyerap kesadaran sosial dan politik. Ia mulai terlibat dalam gerakan nasionalis, sekaligus memahami bahwa pendidikan bukan sekadar alat mobilitas sosial, melainkan juga alat pembebasan.

Setelah lulus, ia mengajar di berbagai sekolah, termasuk Perguruan Rakyat dan Taman Siswa. Dunia pendidikan menjadi medan awal perjuangannya, sebelum akhirnya ia menemukan medium yang lebih luas: tulisan.

baca juga

Menulis untuk Melawan: Dari Kolonialisme hingga Patriarki

Di tangan Suwarsih, tulisan bukan sekadar ekspresi, melainkan perlawanan. Ia dikenal sebagai salah satu sastrawan feminis paling awal di Indonesia. Sejak akhir 1930-an, ia sudah menulis esai dalam bahasa Belanda yang secara terang-terangan mengkritik praktik poligami dan ketidakadilan terhadap perempuan.

Karyanya yang paling monumental, Buiten het Gareel (1940), yang kemudian dikenal sebagai Manusia Bebas. Novel inimenjadi bukti keberaniannya. Isinya menggambarkan kehidupan guru-guru pribumi, kemiskinan, dan tekanan kolonial, sekaligus menyuarakan semangat kebebasan.

Namun jalan Suwarsih tidak selalu mulus. Naskah Maryanah yang ia tulis dalam bahasa Sunda sempat ditolak oleh Balai Pustaka karena dianggap terlalu politis. Penolakan itu justru menjadi penegas bahwa tulisannya memang mengganggu status quo. Dan mungkin, memang itu tujuannya.

Menariknya, ia menulis dalam tiga bahasa: Sunda, Belanda, dan Indonesia. Pilihan ini bukan kebetulan. Ia seolah ingin menjangkau berbagai lapisan pembaca, sekaligus menembus batas-batas yang selama ini membungkam suara perempuan dan pribumi.

Wujud Perlawanan dan Perempuan yang Berpikir

Suwarsih bukan hanya penulis, tetapi juga bagian dari generasi awal perempuan yang berani mendefinisikan ulang kebebasan. Ia hidup di masa ketika perempuan sering kali hanya menjadi objek dalam narasi, bukan subjek yang bersuara.

Melalui karya-karyanya, ia mengubah posisi itu. Ia berbicara tentang perempuan yang berpikir, yang melawan. Ia menulis tentang kehidupan nyata: tentang ketimpangan, kemiskinan, dan harapan. Dan yang terpenting, ia menunjukkan bahwa perempuan bisa menjadi agen perubahan.

Bersama suaminya, Soegondo Djojopuspito, ia juga terlibat dalam perjuangan nasional. Berbeda dari banyak tokoh lain, kontribusi Suwarsih tidak selalu hadir dalam pidato atau medan perang. Melainkan dalam kata-kata yang perlahan, tetapi pasti mengubah cara pandang.

Ia wafat pada 24 Agustus 1977 di Yogyakarta. Namun, gagasan yang ia tulis tidak ikut berhenti. Hari ini, ketika kita berbicara tentang kesetaraan gender, kebebasan berekspresi, dan peran perempuan dalam perubahan sosial, jejak Suwarsih masih terasa relevan.

baca juga

Mungkin, Suwarsih Djojopuspito bukan nama yang sering kita dengar di buku pelajaran. Namun, justru di situlah letak pentingnya: ada banyak suara perempuan dalam sejarah yang belum sepenuhnya kita dengar.

Ia mengajarkan bahwa bahwa menulis bisa menjadi alat perlawanan. Di era hari ini, ketika semua orang bisa menulis, pertanyaannya menjadi sederhana: apakah tulisan kita hanya sekadar lewat, atau benar-benar membawa perubahan?

Suwarsih sudah menjawabnya, sejak puluhan tahun lalu.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.