kisah inen mayak teri perlawanan seorang perempuan gayo di masa kolonial - News | Good News From Indonesia 2026

Kisah Inen Mayak Teri, Perlawanan Seorang Perempuan Gayo di Masa Kolonial

Kisah Inen Mayak Teri, Perlawanan Seorang Perempuan Gayo di Masa Kolonial
images info

Kisah Inen Mayak Teri, Perlawanan Seorang Perempuan Gayo di Masa Kolonial


Inen Mayak Teri diyakini lahir di wilayah Serbejadi, Aceh Timur. Beberapa sumber menyebutkan ia berasal dari Kampung Bunin, sementara pendapat lain menyatakan ia lahir di Kampung Sembuang. Kedua kampung ini sama-sama berada di Kecamatan Serbejadi. Namun, di antara perbedaan tersebut, pendapat yang menyebutkan bahwa Inen Mayak Teri berasal dari Sembuang dinilai lebih kuat.

Melansir Serambinews, Geuchik (kepala desa) setempat, Zainuddin pada tahun 2023, menyampaikan bahwa keluarga besar Inen Mayak Teri masih menetap di Kampung Sembuang hingga saat ini. Bahkan, sejumlah benda peninggalannya masih tersimpan dengan baik oleh keluarga, seperti kain, rantai kalung, dan beberapa barang lainnya. Meski demikian, Zainuddin mengaku tidak mengetahui secara pasti di mana Inen Mayak Teri dimakamkan.

Tidak banyak literatur sejarah yang mencatat nama asli Inen Mayak Teri. Dalam struktur adat Gayo, seorang perempuan yang telah melangsungkan pernikahan akan dipanggil dengan sebutan inen mayak, dan amanmayak untuk panggilan laki-lakinya. Oleh karena itu, besar kemungkinan “Teri” atau “Tri” merupakan nama dirinya, sehingga ia kemudian dikenal sebagai Inen Mayak Teri.

baca juga

Di tanah Gayo, sebutan inen mayak bukan sekadar penanda status, tetapi juga simbol kebahagiaan baru awal dari kehidupan rumah tangga yang diharapkan penuh harapan. Namun bagi Inen Mayak Teri, kebahagiaan itu justru berubah menjadi luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Tahun 1916, di tengah kuatnya cengkeraman kolonial Belanda di wilayah pedalaman Aceh, Inen Mayak Teri dan suaminya tengah dalam perjalanan menuju Kampung Lokop, Serbejadi. Saat itu, daerah tersebut telah dikuasai oleh Belanda yang bahkan mendirikan tangsi sebagai pusat kekuatan militer mereka.

Perjalanan yang seharusnya menjadi awal kehidupan baru itu berubah menjadi tragedi. Di tengah perjalanan, pasangan pengantin baru ini berpapasan dengan patroli tentara Belanda. Tanpa alasan yang jelas, para serdadu menghentikan mereka. Suaminya ditarik paksa, lalu dihajar tanpa ampun, ditendang, diinjak, dipukul hingga tak berdaya. Di hadapan mata Inen Mayak Teri, suaminya disiksa hingga kehilangan daya untuk bertahan.

Belum cukup sampai di situ, setelah puas melampiaskan kekejaman, tentara Belanda menembaknya. Tubuh itu roboh seketika. Darah mengalir deras, membasahi tanah yang menjadi saksi bisu kebiadaban penjajahan. Dunia Inen Mayak Teri seketika runtuh.

Dengan mata melotot dan suara yang melengking, ia menuntut pertanggungjawaban atas tindakan keji tersebut. Namun apa daya, tangis dan jeritannya tak berarti apa-apa di hadapan serdadu marsose yang terkenal ganas. Mereka pergi begitu saja, meninggalkan luka yang tak hanya merenggut nyawa, tetapi juga merobek harapan seorang perempuan. Sejak saat itu, Inen Mayak Teri bukan lagi sekadar seorang pengantin baru. Ia menjadi seorang perempuan yang menyimpan dendam yang menyala dalam diam.

Ia tahu, tangsi Belanda berada tidak jauh dari kampungnya, di Lokop. Ia juga memahami bahwa perlawanan terhadap penjajah masih hidup di tanah Gayo. Di berbagai sudut Serbejadi, para pejuang yang dikenal sebagai kaum muslimin masih bergerak, menyusun kekuatan, dan melawan secara gerilya.

Namun sebelum melangkah ke medan pertempuran, Inen Mayak Teri terlebih dahulu menguatkan dirinya dari dalam. Ia mengumpulkan kekuatan batin, memusatkan pikiran, dan berdoa kepada Allah agar diberi keteguhan jiwa, hati, serta keberanian. Dari proses itu, ia tidak hanya menemukan kekuatan, tetapi juga menguasai kemampuan bergerak cepat, sebuah keahlian yang kelak menjadi kunci dalam strategi perlawanan yang ia pimpin. Sasarannya jelas yakni tangsi Belanda yang berada di Lokop.

baca juga

Dengan tekad yang bulat, ia mulai mengumpulkan pengikut. Tidak hanya laki-laki, tetapi juga perempuan. Mereka dilatih bertempur, menggunakan senjata, menyerang secara kilat, lalu menghilang sebelum musuh sempat membalas. Pasukan ini bukan pasukan biasa mereka adalah bayangan yang bergerak dalam sunyi.

Pada tahun yang sama, 1916, ketika semua persiapan dianggap cukup matang, Inen Mayak Teri memimpin langsung serangan itu. Di tengah malam yang gelap, saat para serdadu Belanda terlelap dalam tidur, pasukannya bergerak tanpa suara. Serangan itu datang secepat kilat. Tanpa aba-aba panjang, pasukan Inen Mayak Teri mengobrak-abrik tangsi Belanda. Puluhan serdadu yang sedang tidur nyenyak tak sempat menyadari apa yang terjadi. Dalam waktu singkat, mereka berhasil dilumpuhkan.

Malam itu, tangsi yang sebelumnya menjadi simbol kekuatan kolonial berubah menjadi medan kekacauan.

Namun seperti datangnya, pasukan itu juga menghilang dengan cepat. Sebelum bala bantuan datang atau perlawanan sempat terorganisir, Inen Mayak Teri dan pasukannya telah lenyap ke dalam gelapnya hutan. Serdadu Belanda yang tersisa hanya bisa terperanjat, tidak mengetahui siapa yang menyerang, dari mana mereka datang, dan ke mana mereka pergi. Meskipun mereka sempat mengejar Inen Mayak Teri dan pasukannya, hal itu sia-sia karena mereka telah melanjutkan perjuangan dan bersembunyi di tengah hutan.

Serangan itu bukan sekadar aksi balas dendam. Ia menjadi simbol bahwa bahkan di pedalaman Gayo, perlawanan terhadap penjajahan tetap hidup, tak terduga, dan sulit ditaklukkan.

Kisah Inen Mayak Teri adalah kisah tentang kehilangan yang melahirkan keberanian. Tentang seorang perempuan yang direnggut kebahagiaannya, namun memilih bangkit dan melawan. Dari seorang inen mayak yang berduka, ia menjelma menjadi pemimpin perlawanan. Dan dari luka yang ia simpan, lahir sebuah cerita yang tak hanya tentang dendam, tetapi juga tentang keberanian yang menolak untuk tunduk.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.