harga plastik indonesia naik - News | Good News From Indonesia 2026

Harga Plastik Naik Di Indonesia: Penyebab, Mengenal Bahan Baku Impor, Dan Solusi Ramah Lingkungan

Harga Plastik Naik Di Indonesia: Penyebab, Mengenal Bahan Baku Impor, Dan Solusi Ramah Lingkungan
images info

Harga Plastik Naik Di Indonesia: Penyebab, Mengenal Bahan Baku Impor, Dan Solusi Ramah Lingkungan


Dilansir dari berbagai media, penyebab utama dari kenaikan harga plastik di Indonesia yaitu konflik geopolitik di Timur Tengah. Perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS), menyebabkan terganggunya jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz. Selat Hormuz yang berada di negara Iran, diketahui merupakan jalur laut utama distribusi dunia.

Pendistribusian bahan baku plastik juga dilakukan melalui Selat Hormuz. Namun, konflik geopolitik menghambat distribusi dan berdampak pada produksi, khususnya di Indonesia.

Terbatasnya bahan baku, menurunkan pasokan plastik sehingga menjadi langka dan memicu kenaikan harga. Di Indonesia sendiri, harga plastik sudah naik mulai dari 50% hingga 100%.

Mengenal Bahan Baku Plastik yang Didapatkan Melalui Impor

Produksi plastik di Indonesia, menggunakan nafta sebagai bahan utamanya. Dilansir dari rri.co.id, nafta merupakan salah satu bahan baku utama di industri petrokimia, berbentuk cairan hidrokarbon yang berasal dari minyak bumi.

Nafta dihasilkan melalui proses distilasi bertingkat minyak mentah berdasarkan titik didihnya. Minyak dipanaskan hingga suhu tertentu untuk memisahkan fraksi-fraksi, termasuk nafta sebagai salah satu hasilnya.

Nafta kemudian diubah menjadi senyawa yang lebih sederhana melalui proses steam cracking. Proses steam cracking membuat nafta terpecah menjadi etilena, propilena, butadiena, dan aromatik seperti benzena, toluena, serta xilena, yang merupakan bahan dasar plastik.

Di Indonesia, kebutuhan nafta selama ini masih bergantung melalui impor dari Timur Tengah. Dikutip dari katadata.co.id, sekitar 70% nafta, dipasok dari Timur Tengah.

Proses distribusi minyak bumi sebagai bahan dasar utama pembuatan nafta, dilakukan melalui Selat Hormuz. Namun, karena konflik geopolitik, jalur di Selat Hormuz menjadi terganggu.

Akibatnya, produksi nafta terhambat, sehingga proses pengimporan nafta ke Indonesia juga ikut terganggu. Dampak berlanjut pada terganggunya produksi plastik di Indonesia, mulai dari menurunnya pasokan plastik, kelangkaan plastik, hingga akhirnya memicu kenaikan harga plastik.

baca juga

Solusi Ramah Lingkungan

Solusi yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk mengatasi harga plastik yang naik yaitu dengan mencari alternatif pasokan dari negara lain. Padahal, nih, ya, Kawan GNFI, ada solusi lainnya yang lebih mudah didapatkan dan yang terpenting, lebih ramah lingkungan, lho.

Kawan GNFI sudah tau belum, kalau di Indonesia, sudah banyak plastik ramah lingkungan yang telah diciptakan, lho. Berbahan dasar ramah lingkungan seperti singkong.

Enviplast

Enviplast, plastik dari singkong | https://www.enviplast.com/

Dilansir dari Instagram enviplast_ina, enviplast merupakan perusaahan pertama di indonesia yang membuat inovasi kantong plastik dari singkong. Singkong diubah menjadi pelet singkong, supaya mudah dibentuk menjadi kantong plastik.

Kantong plastik dari enviplast, tidak mengandung mikroplastik, mudah terurai, aman dimakan oleh mikroorganisme, dan tentunya ramah lingkungan. Untuk penguraiannya, hanya membutuhkan 3-6 bulan saja, lho, Kawan GNFI. Atau, bisa juga dilelehkan dengan cara direndam dalam air panas dengan suhu di atas 80 derajat celcius.

Telobag

Telobag, plastik dari singkong | https://telobagofficial.com/

Dilansir dari dbs.com, telobag merupakan plastik ramah lingkungan yang diciptakan oleh PT. Mogallana Plastic. Telobag berasal dari kata ’telo’ yang berarti singkong, merujuk pada bahan baku utamanya. Adapun ’bag’, yang berarti tas.

Dilansir dari Tiktok Telobag Official, singkong yang dipilih merupakan singkong industrial yang lebih tinggi kandungan patinya. Singkong diubah menjadi pelet singkong, supaya mudah dibentuk menjadi berbagai kantong, seperti kantong plastik, kantong sampah, kantong kotoran hewan, dan kantong mailer.

Telobag tidak mengandung mikroplastik, mudah terurai, aman dimakan oleh mikroorganisme, dan tentunya ramah lingkungan. Untuk penguraiannya, hanya membutuhkan 180 hari saja, lho, Kawan GNFI.

baca juga

Avani Eco

Avani eco, plastik dari singkong | https://avanieco.com/

Dilansir dari binus.edu, Avani eco merupakan plastik ramah lingkungan yang diciptakan oleh perusahaan eco-technology, Avani, yang berbasis di Denpasar, Bali. Avani eco, juga terbuat dari sari pati singkong, yang bisa terurai hanya dengan menggunakan air panas.

Avani eco tidak mengandung mikroplastik, mudah terurai, aman dimakan oleh mikroorganisme, dan tentunya ramah lingkungan. Avani eco juga hanya membutuhkan 180 hari saja untuk mengurainya, lho, Kawan GNFI.

Dari segi harga, plastik ramah lingkungan ini memang cenderung mahal, ya, Kawan GNFI. Namun, keunggulannya adalah plastik ini lebih mudah terurai. Berbeda dengan plastik konvensional, yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa terurai.

Beralih menggunakan plastik ramah lingkungan ini, kita juga turut mendukung inovasi dan penggunaan produk dalam negeri (lokal), sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor dalam memproduksi kantong plastik.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

A
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.