GoodTalk Off-Air yang diselenggarakan oleh Good News From Indonesia (GNFI) bersama Perhimpunan Hubungan Masyarakat (Perhumas) Indonesia di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) mengangkat tema “Navigating Crisis: Strategi Komunikasi di Era Ketidakpastian Global”.
Forum ini menghadirkan akademisi, praktisi komunikasi, serta kreator konten untuk membahas peran strategis komunikasi dalam menghadapi krisis yang semakin kompleks dan dinamis di tengah perubahan global.
Dekan FISIP UHAMKA, Dra. Tellys Corliana, M.Hum., dalam sambutannya menegaskan bahwa dinamika global saat ini menuntut pemahaman komunikasi yang lebih adaptif dan solutif. Ia menyampaikan, “Hari ini kita akan bicara tentang komunikasi krisis. Saya rasa sebenarnya hidup kita ini beralih dari satu krisis ke krisis yang lain yang tak pernah henti dari krisis.”
Menurutnya, mulai dari pandemi, bencana alam, hingga konflik global, seluruhnya menunjukkan bahwa komunikasi memiliki peran penting dalam meredam gejolak dan membangun kepercayaan publik.
Ia juga menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah dan aktor non-pemerintah, termasuk kreator digital, dalam menyampaikan informasi. “Kita melihat sekarang dengan perkembangan teknologi komunikasi juga banyak bermunculan kreator atau influencer yang punya peran penting dalam mengatasi krisis melalui pendekatan yang berbeda dengan pemerintah,” ujarnya.
Wakil Sekretaris Umum Perhumas, Fransisca Vena Apriliana, menekankan relevansi forum ini di tengah derasnya arus informasi. “Kita sedang berada di era ketidakpastian. Hari demi hari kita melalui krisis, baik secara pribadi maupun profesional,” katanya. Ia menambahkan bahwa komunikasi yang efektif bukan hanya soal jangkauan, tetapi dampak.
“Keberhasilan komunikasi di era pasca media besar ini bukan lagi soal seberapa luas jangkauannya, tetapi keberdampakannya,” ujarnya, sembari menegaskan pentingnya gerakan “Indonesia Bicara Baik” sebagai upaya menjaga reputasi bangsa.
CEO GNFI, Wahyu Aji, menekankan pentingnya perspektif optimisme dalam melihat krisis. “Krisis itu memang masalah kita semua, tapi bukan berarti kita ingin energi kita habis di situ. Kita ingin menjadi bagian dari solusi, bukan menyebarkan kecemasan,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa GNFI berupaya mengangkat narasi yang memberikan harapan di tengah situasi sulit.
Memahami Krisis Komunikasi
Dalam sesi pemaparan, Magvira Yuliani, S.Sos., M.I.Kom., dosen Ilmu Komunikasi FISIP UHAMKA, menjelaskan bahwa krisis sering kali berawal dari isu yang diabaikan. “Gosip adalah fakta yang tertunda. Dalam konteks krisis, kita bisa menyebutnya sebagai isu yang tertunda,” ujarnya. Ia menggambarkan bahwa banyak krisis sebenarnya dapat dicegah jika isu dikenali dan ditangani sejak awal.
Ia juga memperkenalkan konsep VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity) sebagai kerangka untuk memahami kondisi global saat ini. Menurutnya, perkembangan teknologi, media sosial, dan kecerdasan artifisial membuat arus informasi semakin cepat dan kompleks, sehingga sulit membedakan fakta dan opini. “Strategi komunikasi terbaik di era ketidakpastian adalah narasi yang paling adaptif, bukan yang paling keras,” tegasnya.
Magvira menambahkan bahwa komunikasi tidak hanya berfungsi menyampaikan pesan, tetapi juga membangun kepercayaan. Dalam konteks ini, kemampuan untuk menjaga konsistensi pesan dan beradaptasi dengan perubahan menjadi kunci utama dalam menghadapi krisis.
Komunikasi sebagai Alat Pertahanan
Dr. Prabu Revolusi, S.T., M.I.K., menyoroti bahwa krisis merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan dan harus dikelola secara strategis. “Krisis tidak boleh dibiarkan. Bukan ‘gimana nanti’, tapi harus ‘nanti gimana’,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya pola pikir antisipatif dalam komunikasi krisis.
Ia juga menyoroti perubahan struktur komunikasi akibat teknologi digital. Menurutnya, media sosial dan AI telah mengubah cara informasi diproduksi dan dikonsumsi, sehingga menimbulkan tantangan baru seperti disinformasi dan fragmentasi publik. “Komunikasi itu adalah tools untuk surviving. Ketika tidak berkomunikasi, krisis justru membesar,” katanya.
Dalam praktiknya, ia menekankan dilema antara kecepatan dan akurasi informasi. “Cepat dan akurat ini selalu menjadi dilema,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa penyebaran hoaks dapat jauh lebih cepat dibandingkan klarifikasi, sehingga diperlukan strategi komunikasi yang tepat sasaran, termasuk memahami audiens, memilih kanal komunikasi yang sesuai, serta menentukan komunikator yang tepat.
Krisis Narasi dan Pentingnya Storytelling
Rian Fahardhi, S.Sos., content creator dan Founder Distrik Berisik dan Sekolah Tanah Air mengangkat perspektif bahwa krisis saat ini tidak hanya terkait informasi, tetapi juga narasi. “Masalah kita hari ini bukan kekurangan informasi, tapi kehilangan cerita,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa fragmentasi informasi dan fenomena echo chamber membuat publik hanya terpapar pada sudut pandang tertentu.
Ia juga menekankan bahwa kekuatan saat ini telah bergeser menuju narrative power. “Kita semua adalah storyteller. Kita sedang menulis cerita yang akan membekas,” katanya. Menurutnya, strategi komunikasi yang efektif harus mampu membangun narasi yang koheren, berempati, dan relevan dengan audiens.
Rian menambahkan bahwa dalam menghadapi ketidakpastian, penting bagi individu maupun bangsa untuk memahami identitas dan membangun kepercayaan diri. “Strategi menghadapi krisis terletak pada kemampuan kita untuk berempati dan mengikat kebersamaan,” ujarnya.
Mendorong Strategi Komunikasi yang Adaptif
Diskusi dalam GoodTalk Off-Air menegaskan bahwa komunikasi tidak lagi dapat diposisikan sebagai fungsi pendukung, melainkan sebagai bagian integral dari strategi dalam mengelola krisis. Dalam lanskap media yang terfragmentasi dan bergerak cepat, pendekatan komunikasi harus lebih adaptif, terintegrasi, dan berorientasi pada kepercayaan publik.
Forum ini menjadi ruang untuk mengeksplorasi berbagai pendekatan komunikasi krisis yang relevan dengan kondisi global saat ini. Dengan melibatkan akademisi, praktisi, dan kreator, GoodTalk Off-Air diharapkan dapat mendorong lahirnya strategi komunikasi yang lebih efektif dalam menghadapi ketidakpastian.
Melalui diskusi ini, GNFI dan Perhumas Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kapasitas komunikasi publik di Indonesia, sekaligus membangun narasi yang kredibel, adaptif, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


