Kawan GNFI yang sering melancong melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta alias Bandara Soetta (CGK) mungkin sudah familier dengan jalan tol yang satu ini. Adalah Jalan Tol Prof. Dr. Ir. Sedyatmo, bagian Jalan Tol Trans Jawa yang menghubungkan Jakarta dengan Bandara Soetta di Tangerang.
Dibangun pada 1985, Jalan Tol Prof. Dr. Ir. Sedyatmo mulai dioperasikan di tahun 1987. Tol ini juga disebut dengan Jalan Tol Bandara Soetta. Saat ini pengelolaannya dilakukan oleh PT Jasa Marga (Persero).
Tol dengan panjang 14,3 km ini cukup istimewa karena menggunakan konstruksi cakar ayam sebagai pondasi jalan. Cakar ayam adalah sebuah teknik konstruksi asli Indonesia yang mendunia.
Pendukung Kelancaran Mobilitas Masyarakat
Melalui Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), pembangunan jalan tol ini masuk dalam pengembangan kawasan aeropolitan, seperti wilayah bisnis kegiatan ekonomi baru perkantoran, pertokoan, kuliner, wisata, perhotelan, dan kawasan industri.
Jalan bebas hambatan ini juga menjadi salah satu jalan tol paling vital di Indonesia. Berkat Jalan Tol Bandara Soetta, perjalanan dari dan menuju Bandara CGK menjadi lebih cepat, efisien, dan semakin lancar. Selain itu, tol ini juga mendukung aktivitas logistik dan ekonomi di kawasan metropolitan Jakarta.
Ruas Jalan Tol Sedyatmo terintegrasi dengan beberapa ruas jalan tol, di antaranya Ruas Tol Dalam Kota (Cawang – Tomang – Pluit), Ruas Tol Cawang – Tj. Priok – Pluit, dan Ruas Tol – JORR W1 (Jakarta Lingkar Barat).
Ada sembilan gerbang tol (GT) di sini, yakni GT Kapuk, GT Kamal 1, GT Kamal 1 Terintegrasi, GT Kamal 2, GT Kamal 3, GT Kamal 4, GT Cengkareng, GT Benda, dan GT Pluit. Selain itu, tol ini juga dilengkapi dengan CCTV dan berbagai fasilitas pendukung lain yang mempermudah perjalanan masyarakat, seperti Mobile Customer Service(MSC), truk derek, ambulans, dan sebagainya.
Kenapa Dinamakan Tol Prof. Dr. Ir. Sedyatmo?
Kawan GNFI, nama tol ini diambil dari seorang insinyur sipil termasyhur Tanah Air, Prof. Dr. Ir. Sedyatmo. Ia adalah sosok penemu teknologi Cakar Ayam yang diakui dunia.
Sebagai informasi, teknologi cakar ayam memungkinkan pembangunan jalan maupun gedung di atas lahan rawa atau gambut maupun lahan yang lembek. Disadur dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU), teknik ini terinspirasi dari ayam yang bisa berdiri di atas lahan lunak.
Teknik ini diterapkan dalam pembangunan apron serta landasan di sejumlah bandara di Indonesia. Tak hanya itu, teknik cakar ayam juga digunakan dalam pembangunan tol menuju Bandara Soekarno-Hatta yang sebagian ruasnya adalah rawa dan berada lebih rendah dari permukaan laut.
Riset Institut Teknologi Bandung (ITB) menyebut, desain cakar ayam bisa mengurangi kerusakan struktural hingga 40 persen saat terjadi gempa berkekuatan di atas 6 SR. Luar biasanya, hak paten konstruksi ini juga sudah didaftarkan di 40 negara.
Nah, atas jasa besarnya dalam dunia konstruksi Indonesia dan dunia, jalan tol yang menghubungkan DKI Jakarta dengan Bandara Soetta akhirnya dinamakan dengan namanya; Jalan Tol Prof. Dr. Ir. Sedyatmo. Top!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


