gasing dari kalimantan hingga bali lebih dari sekadar permainan putaran - News | Good News From Indonesia 2026

Permainan Gasing dari Kalimantan hingga Bali: Lebih dari Sekadar Permainan Putaran

Permainan Gasing dari Kalimantan hingga Bali: Lebih dari Sekadar Permainan Putaran
images info

Permainan Gasing dari Kalimantan hingga Bali: Lebih dari Sekadar Permainan Putaran


Ketika berbicara tentang permainan gasing, mungkin ingatan kita langsung tertuju pada sebuah benda kayu bundar yang berputar kencang di tanah lapang. Namun, di balik kesederhanaannya, gasing menyimpan kekayaan budaya yang luar biasa di Nusantara. Tak hanya sebagai hiburan, di berbagai daerah, gasing bahkan menjadi bagian dari ritual adat hingga seleksi pasukan kerajaan.

Berikut adalah lima fakta unik tentang permainan gasing tradisional Indonesia yang jarang diketahui, mulai dari varian langka di Kalimantan hingga tradisi megangsing yang masih bertahan di tengah gempuran zaman.

1. Gasing Dayak Sa'ban: Simbol Keuletan dari Pedalaman Kalimantan

Di ujung utara Kalimantan, tepatnya di Kabupaten Malinau, masyarakat Suku Dayak Sa'ban masih menjaga tradisi bermain gasing sebagai bagian dari warisan leluhur. Dikutip dari laman RRI, Johnson, Ketua Lembaga Adat Dayak Sa'ban, menjelaskan bahwa gasing telah dikenal turun-temurun sebagai permainan yang mengasah keahlian dan ketepatan gerak.

"Gasing ini dibuat dari kayu keras atau tanduk binatang, dibentuk menyerupai kerucut agar bisa berputar seimbang. Memainkannya butuh teknik dan keahlian," ujarnya pada Selasa (21/10/2025) usai pertunjukan gasing dalam Festival Irau ke-11 di Malinau.

Yang membedakan gasing Dayak Sa'ban dari gasing pada umumnya adalah bahan bakunya. Mereka menggunakan kayu keras atau tanduk binatang yang dibentuk menyerupai kerucut agar bisa berputar seimbang.

Untuk memutarnya, para pemain menggunakan tali dari kulit kayu atau daun fak yang dianyam hingga menjadi kuat dan lentur. Panjang tali pun disesuaikan dengan ukuran gasing, karena cara melilitnya menentukan lamanya gasing dapat berputar.

Lebih dari sekadar permainan ketangkasan, gasing bagi masyarakat Dayak Sa'ban adalah simbol keuletan dan semangat gotong royong. Lewat permainan seperti ini, anak-anak belajar sportivitas, kesabaran, dan menghargai lawan.

Di Festival Irau ke-11, permainan gasing turut dimeriahkan bersama atraksi gulat tradisional dan tarian adat, menjadi bukti nyata bahwa tradisi ini masih hidup di tengah masyarakat.

baca juga

2. Gangsing Desa Gobleg: Filosofi Siklus Kehidupan dari Buleleng

Beralih ke Pulau Dewata, tepatnya di Desa Gobleg, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, terdapat tradisi megangsing yang tak sekadar permainan biasa. Di desa-desa tua yang berada di lereng Danau Tamblingan ini, gangsing dulunya dimainkan seusai warga menunaikan kewajiban di ladang atau merayakan musim panen.

Permainan sederhana dengan kayu berputar ini menjadi sarana rekreasi, sekaligus mempererat kebersamaan antar warga. Dikutip dari laman NusaBali, Perbekel Desa Gobleg, I Made Separsa, menjelaskan bahwa megangsing bukan sekadar hiburan, melainkan warisan budaya yang sudah mengakar di Gobleg dan desa-desa Tamblingan.

Lebih menarik lagi, megangsing menyimpan filosofi mendalam dengan putaran kayu gangsing dianggap mencerminkan siklus kehidupan manusia. Mulai berputar, mencapai puncak, lalu melambat dan berhenti. Filosofi inilah yang diwariskan turun-temurun, membuat generasi muda tidak hanya bermain, tetapi juga belajar tentang makna hidup.

Prestasi membanggakan pun pernah diraih oleh Sekeha Gangsing Desa Gobleg. Dikutip dari laman Bali berkabar, pada tahun 2023, komunitas ini berhasil meraih juara dua dalam kejuaraan nasional di Kuningan, Jawa Barat.

Prestasi itu jadi bukti bahwa tradisi ini tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga mampu bersaing di tingkat nasional. Di tengah gempuran game online dan arus modernisasi, semangat anak-anak yang bermain penuh keriangan di Lapangan Voli Celebung menjadi simbol tekad mempertahankan tradisi.

3. Gasing Jantung Bangka Belitung: Terancam Punah di Tanah Kelahirannya

Tidak semua kabar tentang gasing adalah kabar baik. Di Bangka Belitung, gasing jenis jantung yang diduga kuat berasal dari Muntok kini terancam punah. Dikutip dari laman Antara News Bangka Belitung, pegiat budaya Kabupaten Bangka Barat, Sofyan Sahaba, mengkhawatirkan bahwa gasing akan punah di negerinya sendiri. "Sejak awal 1990 permainan ini semakin meredup. Kami khawatir jika ini dibiarkan gasing akan punah di negerinya sendiri," katanya di Muntok.

Gasing jantung adalah salah satu dari hanya dua jenis gasing yang diakui untuk dimainkan dalam pertandingan tingkat nasional di seluruh Indonesia, bersama dengan gasing belembang dari Tanjungpinang.

Namun, minimnya perhatian pemerintah daerah dan kalah bersaing dengan permainan modern membuat tradisi ini semakin meredup. Sofyan mengungkapkan bahwa sejak 2003, para pegiat gasing terus berupaya memopulerkan kembali permainan itu dengan menggelar berbagai festival, workshop, dan lomba untuk mengenalkan kembali budaya warisan leluhur.

Meski mendapat tantangan besar, semangat pelestarian tetap menyala. "Kami mengabdi untuk pelestarian adat dan budaya yang ada agar bisa dinikmati generasi penerus, kami tetap akan berjuang melestarikan permainan gasing, meskipun tidak ada dukungan dari pemkab," tegas Sofyan yang dikutip dari laman Antara News.

baca juga

4. Gasing Kutai Pendada: Saksi Bisu Kesultunan Abad ke-13

Di Tenggarong, Kalimantan Timur, seorang pengrajin bernama Norsyamdani (akrab disapa Dani) berjuang sendirian melestarikan gasing khas Kutai yang bernama 'pendada'. Gasing ini memiliki keunikan berupa dua kepala dan kabarnya hanya ada di Kutai.

Dikutip dari BBC News Indonesia, Dani menjelaskan bahwa gasing ini telah dimainkan sejak era Kesultanan Kutai Kartanegara sekitar abad ke-13.

Bagi masyarakat Kutai zaman dulu, gasing bukan sekadar hiburan. Saat musim tanam dan panen tiba, bermain gasing menjadi tradisi wajib untuk memperkuat fisik sekaligus sebagai bentuk syukur.

"Untuk perkuat fisik. Kalau otot sudah kuat, baru kita buka kebun. Musim panen juga begitu, main gasing sebagai syukuran," terang Dani. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, permainan gasing meredup akibat minimnya kompetisi dan sulitnya mencari kayu karena penebangan hutan.

Namun, semangat Dani tak pernah padam. Di ruangan berukuran 8x12 meter di sebelah rumah kayunya, deru mesin bubut terdengar setiap hari. Puluhan karung berisi ribuan gasing buatan Dani berjejer di tempatnya berdiri.

Hanya butuh sekitar 10 menit bagi Dani untuk membuat satu gasing. Ia adalah salah satu dari segelintir orang yang terus mengabdikan diri untuk melestarikan gasing Kutai hingga ke dunia.

5. Gasing Kayu Timor: Merentas Batas di Panggung Nasional

Gasing Kayu Timor merupakan permainan tradisional yang dihidupkan kembali, sering dimainkan saat perayaan Natal di tempat-tempat seperti Penkase Oeleta, Kupang, NTT.

Permainan gasing ini memanfaatkan gasing kayu keras, saling diadu ketahanan putarannya di atas tanah untuk membangun suasana kebersamaan yang erat

Komponennya memiliki ujung bawah yang dirancang tajam dan halus, sering kali dilengkapi dengan poros dari material logam. Tali gasing dipakai untuk melilit dan melempar, biasanya terbuat dari bahan nilon atau kulit kayu (seperti serat pohon Melinjo).

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.