candi ngempon semarang pusat pendidikan brahmana dan sastra budaya era mataram kuno - News | Good News From Indonesia 2026

Candi Ngempon Semarang, Pusat Pendidikan Brahmana dan Sastra Budaya Era Mataram Kuno

Candi Ngempon Semarang, Pusat Pendidikan Brahmana dan Sastra Budaya Era Mataram Kuno
images info

Candi Ngempon Semarang, Pusat Pendidikan Brahmana dan Sastra Budaya Era Mataram Kuno


 

Kabupaten Semarang menyimpan sebuah kompleks purbakala yang berdiri tegak di tengah hamparan hijau persawahan Kecamatan Bergas.

Candi Ngempon, atau yang sering dijuluki Candi Muncul, merupakan situs Hindu peninggalan era Mataram Kuno yang diperkirakan dibangun sekitar abad ke-8 atau ke-9.

Berjarak sekitar dua kilometer dari Pasar Karangjati, kompleks candi ini seakan memberikan ketenangan spiritual yang berpadu dengan keasrian alam Kabupaten Semarang.

Nama "Ngempon" secara filosofis merujuk pada kata empu atau ngempu, yang menandakan fungsi situs ini di masa lampau. Kawasan ini diyakini sebagai pusat penggemblengan kasta brahmana untuk dididik menjadi empu dalam berbagai bidang, mulai dari sastra budaya, kerohanian, hingga olah kanuragan.

Sejak ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1952 oleh seorang petani bernama Kasri, candi ini menjadi bukti penting ketahanan warisan budaya di tengah dinamika zaman.

 

 

Daya Tarik Candi Ngempon

Kompleks ini awalnya terdiri dari sembilan titik fondasi candi, namun hingga saat ini baru empat bangunan yang berhasil direkonstruksi.

Struktur bangunannya menampilkan arsitektur khas Hindu yang kokoh dengan detail ukiran yang masih terjaga.

Penemuan situs ini juga disertai dengan sepuluh arca ikonik seperti Durga, Ganesha, Kinara Kinari, dan Nandi, yang kini menjadi koleksi berharga di Museum Ronggowarsito, Semarang.

Secara administratif, lokasi situs berada di Kelurahan Ngempon, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang.

Proses pemugaran dilakukan secara bertahap, mulai dari Dinas Purbakala pada tahun 1952 hingga Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala pada tahun 2006.

Tidak jauh dari kompleks utama, terdapat petirtaan kuno berupa pemandian air hangat yang saat ini juga sedang dalam tahap pengembangan untuk mendukung ekosistem wisata sejarah di kawasan tersebut.

Selain dari nilai historisnya, magnet utama situs ini adalah perpaduan antara nuansa sakral candi dan panorama persawahan yang melingkarinya secara konsisten.

Pengunjung dapat mengeksplorasi setiap sudut bangunan untuk mengagumi detail ukiran yang menggambarkan kisah-kisah spiritual masa lampau.

Selain wisata sejarah, kedekatan lokasi dengan petirtaan air hangat juga memungkinkan Kawan GNFI untuk merasakan kesegaran alami setelah berkeliling area candi.

Aura spiritual yang kuat di tempat ini masih sering dimanfaatkan untuk ritual keagamaan yang telah diruwat oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia.

 

Akses dan Rute Perjalanan

Menjangkau Candi Ngempon sangat mudah dilakukan dari jalur utama Semarang-Solo melalui Pasar Karangjati.

Kawan dapat mengambil arah tenggara menuju Jalan Syekh Basyarudin sebelum masuk ke Jalan Merak Mati yang membelah area perkebunan. Jalur darat menuju situs ini sudah teratur rapi meskipun lokasinya menjorok ke tengah sawah.

Bagi wisatawan yang datang menggunakan kendaraan pribadi, jarak tempuh hanya berkisar 4,7 kilometer dari persimpangan Karangjati.

 

Ayo Menjelajahi Candi Ngempon!

Untuk harga tiket, pengunjung cukup membayar Rp2.000 untuk memasuki Candi Ngempon. Untuk jam operasionalnya, pengujung bisa datang antara jam 07.00-17.00.

Mengunjungi Candi Ngempon memberikan kesempatan untuk menyentuh langsung jejak pendidikan brahmana di masa keemasan Mataram Kuno.

Struktur batu andesit yang kokoh dan keheningan di tengah persawahan seakan membawa pesan tentang kedamaian dan pengetahuan yang harus terus dihargai oleh generasi mendatang.

Jadi, ayo agendakan waktu Kawan untuk berkunjung ke Candi Ngempon!

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.