menebar ancaman sebelum berunding - News | Good News From Indonesia 2026

Menebar Ancaman Sebelum Berunding

Menebar Ancaman Sebelum Berunding
images info

Menebar Ancaman Sebelum Berunding


Pada Sabtu (11/4/2026) lalu, negosiasi antara Amerika Serikat yang diwakili Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), JD Vance, dan Iran yang diwakili Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, serta Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi berlangsung. Dengan turut dihadiri 70 anggota delegasi yang terdiri dari spesialis teknis di bidang ekonomi, keamanan dan politik serta wartawan plus staf pendukung, pertemuan perdamaian ini merupakan “highly sensitivity of negotiations”.

Seperti banyak diberitakan, negosiasi yang berlangsung lebih dari 20 jam itu gagal menghasilkan kesepakatan. Meski demikian, dramanya sudah berlangsung sejak sebelum negosiasi dimulai. Pertemuan di Islamabad, Pakistan, ini sejatinya adalah pertemuan perdamaian untuk mengakhiri konflik antara AS dan Israel melawan Iran. Namun, pihak Amerika Serikat selalu melancarkan ancaman-ancaman sebelum berunding.

Menteri Perang Amerika Serikat Pete Hegseth pernah berujar bahwa “we negotiate with bombs” pada Maret 2026 lalu. Ini menunjukkan seperti apa pendekatan AS dalam mencapai perdamaian ini dengan Iran. Pada awal April 2026, Trump mengancam akan meluluhlantakkan Iran sampai kembali ke zaman batu.

Pernyataan ancaman Trump menjelang pertemuan perdamaian di Pakistan merupakan ancaman yang mengerikan dan mendapatkan kecaman dari berbagai negara dan politisi di AS sendiri.

A whole civilisation will die tonight, never to be brought back again. I don’t want that to happen, but it probably will,” kata Trump di Truth—akun sosial medianya.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres dan Paus Leo XIV telah mengutuk ancaman Trump di atas yang mengatakan bahwa seluruh peradaban Iran akan mati kecuali Iran menyetujui kesepakatan untuk mengakhiri perang dan membuka blokir Selat Hormuz. Guterres mengatakan dirinya sangat terganggu dengan pernyataan itu. Paus Leo XIV pun mengatakan ancaman semacam itu tidak dapat diterima.

Ancaman Trump menjelang pembicaraan perdamaian di Pakistan memang meresahkan dunia karena itu berarti ia akan menggunakan senjata nuklir untuk menghapus Iran dari peta dunia dan membunuh semua rakyatnya yang berjumlah 90 juta.

Jika peradaban atau civilization diartikan sebagai: “the stage of human social and cultural development and organization that is considered most advanced”, maka itu termasuk di dalamnya sejarah bangsa, agama, budaya, bahasa, pendidikan, teknologi, dan sebagainya. Nah, unsur-unsur peradaban tersebut yang berada di Iran sebetulnya sudah dihancurkan oleh AS dan Israel. Salah satu di antaranya yakni Sharif University di Teheran. Universitas ini terkenal di bidang science dan bisa disandingkan dengan Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Amerika Serikat. Selain itu, masjid dan berbagai laboratorium juga menjadi target pemboman.

Kementerian Sains dan Teknologi Iran menyatakan bahwa setidaknya 30 universitas telah terkena pemboman sejak awal perang pada Sabtu (28/2/2026). Kementerian juga mencatat bahwa serangan terhadap industri farmasi Iran dapat menimbulkan masalah besar bagi sistem perawatan kesehatan. Untuk diketahui, pada (31/3/2026), juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) sendiri mengatakan pihaknya telah melakukan serangan terhadap Tofigh Daru Research & Engineering Company, salah satu perusahaan farmasi terbesar Iran yang memproduksi obat anestesi dan kanker.

Tak hanya itu, serangan AS dan Israel terhadap Iran telah merusak setidaknya empat situs budaya dan sejarah, termasuk istana dan masjid kuno. Ini sekaligus merupakan alarm tentang dampak perang yang melebar pada landmark yang dilindungi yang penting bagi identitas Iran dan sejarah dunia.

Seperti diketahui Iran seperti tidak gentar dengan segala ancaman pihak Amerika Serikat dengan selalu menyatakan bahwa “Iran is not a country, but it is a civilization." Artinya, Iran yang rakyatnya adalah bangsa Aria itu memiliki peradaban yang lama selama ribuan tahun, ada yang mengatakan lebih dari 5.000 tahun.

Kini, Trump berusaha menghancurkan kebanggaan Iran akan peradabannya itu.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AC
AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.