menelusuri sumur kridanggo boyolali - News | Good News From Indonesia 2026

Menelusuri Sumur Kridanggo: Sumber Air Berusia 101 Tahun di Simpang Lima Boyolali yang Tak Pernah Kering

Menelusuri Sumur Kridanggo: Sumber Air Berusia 101 Tahun di Simpang Lima Boyolali yang Tak Pernah Kering
images info

Menelusuri Sumur Kridanggo: Sumber Air Berusia 101 Tahun di Simpang Lima Boyolali yang Tak Pernah Kering


Simpang Lima Boyolali identik dengan landmark utamanya yakni Patung Kuda yang mencerminkan modernitas dan kepadatan aktivitas di kawasan tersebut. Namun siapa sangka, jika Kawan menepikan pandangan ke sisi timur, terdapat Sumur Kridanggo, sebuah situs cagar budaya berupa sumber air berusia lebih dari satu abad yang masih aktif digunakan hingga saat ini.

Sumur Kridanggo tidak berada di kawasan khusus, melainkan di median jalan berbentuk segitiga, tepat di bawah monumen dua tangan yang menyangga bola dunia, di kawasan Simpang Lima yang dahulu dikenal sebagai Simpang Siaga. Mari menelusuri lebih dekat kisah di balik sumur tua namun sarat makna yang dekat dengan keseharian warga Boyolali ini.

Sumur Kridanggo Boyolali dan Jejak Sejarah Sejak 1923

Keberadaan Sumur Kridanggo tidak bisa dilepaskan dari awal perkembangan Boyolali sebagai kabupaten. Pada masa itu, kebutuhan air bersih masih menjadi persoalan utama, terutama di kawasan pusat kota yang mulai berkembang.

Sejarah Sumur Kridanggo bermula pada tahun 1923, saat Boyolali dipimpin oleh KRMT Suronagoro. Ia baru setahun menjabat sebagai bupati ketika memerintahkan pembangunan sumur umum ini. Tujuannya sederhana namun sangat mulia, yaitu menyediakan sumber air bagi masyarakat yang saat itu masih kesulitan mendapatkan air bersih.

Penentuan titik sumur dilakukan dengan cara yang tidak biasa. Konon, lokasi sumber air ditentukan terlebih dahulu oleh tokoh spiritual sebelum akhirnya digali secara manual. Prosesnya tidak lama, namun hasilnya dapat bertahan hingga lebih dari satu abad.

Nama Kridanggo sendiri diambil dari kawasan Sasono Kridanggo, yang pada masa itu dikenal sebagai pusat kegiatan masyarakat. Sumur ini kemudian menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga untuk mendukung aktivitas ekonomi di sekitar pasar dan jalur transportasi, termasuk kereta uap Solo Boyolali pada masa itu.

Keunikan Sumur Kridanggo yang Berbeda dari Sumur pada Umumnya

sumur kridanggo di boyolali

Jika dilihat sekilas, sumur ini memang tidak besar dan nampak sangat sederhana. Namun bentuknya langsung menarik perhatian. Berbeda dari sumur pada umumnya yang berbentuk bulat, Sumur Kridanggo Boyolali justru berbentuk kotak. Inilah yang membuatnya juga sering disebut dengan Sumur Kotak Boyolali.

Dindingnya terlihat kokoh, tersusun dari material lama yang masih bertahan hingga sekarang. Kedalamannya sekitar 10 meter, tetapi airnya tampak dekat dari permukaan. Bahkan dari atas, kejernihan airnya bisa langsung terlihat.

Yang membuatnya semakin dikenal, air dari sumur ini tidak pernah kering. Saat musim kemarau panjang sekalipun, debit airnya tetap stabil. Warga yang datang hanya perlu beberapa detik untuk menimba air, karena permukaannya selalu terisi.

Keunikan bentuk dan ketahanan sumber air inilah yang membuat sumur ini tetap digunakan. Bukan hanya karena nilai sejarahnya, tetapi karena memang masih berfungsi.

Di Tengah Modernitas Kota, Sumur Tua Ini Masih Digunakan Warga

Berada di pusat kota yang tak pernah surut dari keramaian, setiap harinya selalu ada warga yang datang membawa jerigen untuk mengambil air di Sumur Kridanggo.

Sebagian digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, sebagian lagi dibawa untuk keperluan usaha. Pedagang kaki lima di sekitar Simpang Lima Boyolali juga masih memanfaatkan air dari sumur ini.

Ada juga pemandangan yang cukup menarik perhatian. Di tengah lalu lintas kota, sesekali terlihat orang mencuci sepeda motor di dekat sumur. Aktivitas ini sempat viral, karena jarang ditemui di ruang publik seperti ini. Namun bagi warga sekitar, hal tersebut bukanlah sesuatu yang aneh.

Ada juga warga yang menjadikan air dari sumur ini sebagai sumber penghasilan tambahan. Air ditimba, dimasukkan ke dalam jerigen, lalu dijual ke pedagang sekitar. Aktivitas ini sudah berlangsung bertahun-tahun dan menjadi bagian dari keseharian di kawasan tersebut.

Sumur Kridanggo sebagai Cagar Budaya Boyolali yang Tetap Bertahan

Dengan usia yang sudah melewati satu abad, Sumur Kridanggo kini masuk sebagai salah satu cagar budaya Boyolali. Status ini menegaskan bahwa sumur tersebut bukan sekadar fasilitas umum, tetapi bagian dari sejarah kota.

Saat kawasan Simpang Lima mengalami revitalisasi, keberadaan sumur ini sempat menjadi perhatian. Namun warga tetap mempertahankannya karena sumur ini telah dianggap sebagai bagian dari identitas kota yang tidak bisa digantikan.

Di tengah riuh redam Simpang Lima, Sumur Kridanggo tetap berada di tempat yang sama. Airnya masih diambil, jerigen masih silih berganti, dan orang-orang tetap datang dengan kebutuhannya masing-masing. Tidak ada yang berubah dari sumur itu, meski kawasan di sekitarnya terus berkembang. Barangkali justru di situlah letaknya. Ia tidak perlu menonjol, cukup tetap ada dan setia dalam memberikan manfaat.

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Raras Wenny lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Raras Wenny.

RW
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.