Gugurnya Praka Farizal Rhomadhon, prajurit TNI yang bertugas dalam misi perdamaian PBB di Lebanon (United Nations Interim Force in Lebanon atau UNIFIL), memicu gelombang simpati dan kecaman internasional. Insiden tersebut terjadi pada Minggu (29/3/2026) ketika tembakan artileri mengenai posisi kontingen Indonesia di sekitar Adchit Al Qusayr, Lebanon Selatan.
Selain satu prajurit gugur, tiga anggota TNI lainnya dilaporkan mengalami cedera di tengah meningkatnya ketegangan antara militer Israel dan kelompok bersenjata di wilayah tersebut. Insiden ini terjadi hampir bersamaan dengan sorotan global terhadap tindakan otoritas Israel yang mencegah tokoh agama, termasuk Kardinal Pierbattista Pizzaballa, memasuki gereja di Palestina untuk merayakan Minggu Palma.
Sejumlah pemimpin dunia telah menyuarakan sikap tegas terhadap berbagai pelanggaran di wilayah konflik tersebut. Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, menegaskan bahwa pembatasan akses ibadah di Yerusalem merupakan pelanggaran serius.
"Mencegah Pizzaballa memasuki gereja merupakan pelanggaran bukan hanya terhadap umat beriman, tetapi juga terhadap setiap komunitas yang mengakui kebebasan beragama," ujar Meloni seperti dilansir Euractiv.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, secara khusus memberikan atensi terhadap gugurnya prajurit Indonesia. Melalui akun media sosial X, Guterres menyatakan belasungkawa sekaligus kecaman keras atas peristiwa tragis tersebut.
"Saya mengutuk keras insiden hari Minggu yang menewaskan seorang penjaga perdamaian Indonesia dari @UNIFIL_ di tengah permusuhan antara Israel dan Hizbullah," tulis Guterres pada Senin (30/3/2026).
Dukungan diplomatik juga datang dari Tiongkok dan Iran. Pemerintah Tiongkok melalui pernyataan resmi per 30 Maret 2026 mengutuk keras serangan militer Israel yang menyasar personel UNIFIL. Di sisi lain, Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta menyampaikan duka cita mendalam dan menyebut insiden itu sebagai tindakan keji yang merupakan dampak dari agresi berkelanjutan di kawasan tersebut.
Publik kini menantikan pernyataan langsung dan sikap tegas dari Presiden Prabowo Subianto terkait gugurnya pahlawan bangsa tersebut. Sebagai negara dengan populasi hampir 300 juta jiwa dan sejarah panjang dalam menegakkan harga diri bangsa, Indonesia dipandang perlu menunjukkan kedaulatan yang kuat di mata dunia, tanpa rasa ewuh pakewuh terhadap pihak mana pun.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia telah mengeluarkan pernyataan resmi yang mengutuk keras tindakan brutal tersebut. Hingga saat ini, pemerintah terus berkoordinasi dengan pihak UNIFIL untuk memastikan keamanan sisa personel kontingen Indonesia dan memproses nota diplomatik terkait insiden ini.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


