roti yang datang dari laut - News | Good News From Indonesia 2026

Roti yang Datang dari Laut

Roti yang Datang dari Laut
images info

Masalah pangan, pada akhirnya, bukan hanya soal produksi. Ia adalah identitas. Di banyak desa, orang tua masih ingat rasa nasi jagung, papeda, ubi rebus. Makanan sederhana yang tidak tergantung pada kapal impor.

Di sebuah dapur sempit di pinggir kota, seorang ibu menanak air. Ia tidak menanak padi. Ia merebus mie. Uapnya naik seperti kabut tipis dari negeri jauh—negeri yang ladangnya tidak pernah ia lihat, tanahnya tidak pernah ia pijak. Namun tepung dari sana telah menjadi penghuni tetap di meja makan keluarganya.

Beginilah negeri ini pelan-pelan berubah: perutnya tetap Indonesia, tetapi isinya makin global. Dan global, seperti ombak, tidak pernah berjanji akan selalu datang. Ketergantungan pangan kita bukan dimulai dari rasa lapar. Ia dimulai dari keputusan—dari meja rapat yang dingin, dari grafik impor yang naik pelan-pelan seperti demam yang tidak disadari. Gandum, yang dulu asing bagi lidah Nusantara, kini menjelma menjadi kebutuhan harian. Ia tidak tumbuh di tanah kita, tetapi ia tumbuh di kebiasaan kita.

Tiga puluh persen makanan pokok kini bersandar pada sesuatu yang tidak pernah kita tanam. Seperti menumpang hidup di rumah orang lain—nyaman, tetapi rapuh. Negara, dalam banyak hal, memilih jalan pintas. Impor menjadi obat penenang. Ia menenangkan pasar, menenangkan statistik, menenangkan pejabat. Tetapi ia tidak menyembuhkan akar penyakit.

Di desa-desa, petani melihat tanah mereka mengecil seperti kain yang dicuci terlalu sering. Sawah berubah menjadi perumahan. Ladang menjadi jalan tol. Dan tanah, yang dulu memberi makan, kini hanya memberi alamat.

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.