Lebih dari sekadar olahragawan, Viona Amalia Adinda Putri adalah atlet kickboxing nasional yang tidak hanya penuh motivasi dalam mengejar prestasi. Ia juga memancarkan semangat untuk mewujudkan olahraga Indonesia yang bebas kekerasan seksual.
Viona tidak abai ketika ada dugaan kekerasan seksual di lingkungan kickboxing yang jadi tempatnya hidup. Ia memilih untuk bersuara lantang untuk mencari jalan keluar atas masalah yang ada.
Suara lantang Viona bergema saat ia memutuskan untuk mengungkap dugaan kekerasan seksual yang dialaminya sendiri. Semua bermula pada awal Maret 2026 lalu kala Viona bercerita tentang pengalaman pahit yang selama ini dipendamnya dalam-dalam. Lewat media sosialnya, ia mengaku menjadi korban dugaan pelecehan seksual.
Pelakunya adalah orang yang berada di lingkaran yang cukup dekat dengan Viona. Ia adalah pelatih sekaligus Ketua Pengurus Provinsi Kickboxing Indonesia Jawa Timur berinisial WPC.
Viona tidak menampik bahwa ia sempat takut untuk bicara. Sebab terduga pelaku bukan orang sembarangan di dunia kickboxing. Jabatan tinggi dan kekuasaannya di organisasi yang menaungi kickboxing di Indonesia membuat Viona sempat bungkam.
"Aku memendam kejadian ini sejak lama. Aku takut bersuara karena dia adalah ketua, dan aku hanyalah seorang atlet yang seharusnya fokus untuk juara," demikian petikan pesan Viona di media sosialnya.
Meski sebelumnya tidak bersuara, Viona sesungguhnya tidak sepenuhnya diam. Pada 2024, perempuan kelahiran 25 Juni 2001 itu telah mengadukan apa yang dialaminya kepada manajer tim nasional kickboxing. Lantaran aduannya tidak berakhir dengan penyelesaian seperti yang diharapkan, kemudian pada Januari 2025 ia membuat laporan ke Kepolisian.
Jangan bayangkan Viona melapor ke polisi dengan didampingi kuasa hukum. Dalam proses pelaporan ke Kepolisian, Viona mengaku menjalani semuanya sendirian tanpa pendamping.
Waktu berjalan, laporan Viona diproses oleh Polda Jawa Timur dan WPC ditetapkan sebagai tersangka pada Februari 2026. Polisi menerangkan bahwa kekerasan seksual oleh WPC terjadi di sejumlah daerah berbeda, tidak hanya di Jawa Timur tetapi juga di daerah lain.
"Saya sudah buat pengaduan bersurat ke PP KBI, lalu saya juga terus melakukan follow-up lewat WhatsApp dan telepon sampai akhirnya dibentuk tim kode etik," ujar Viona.
Keberanian dan Harapan Viona
Tentu bukan tanpa alasan Viona akhirnya berani untuk speak up. Di balik keputusannya, ada harapan agar hal serupa tidak terjadi lagi di lingkungan olahraga.
Kekerasan seksual jelas hal yang bertentangan dengan nilai-nilai olahraga itu sendiri. Apalagi, Viona mengalaminya saat dirinya sedang menjalani masa latihan intensif demi mengejar prestasi.
Viona memang termasuk atlet berprestasi yang mampu mengharumkan nama Indonesia hingga ke kancah internasional. Ia pernah meraih pencapaian apik di sejumlah ajang, salah satunya medali emas dan perak Global Association of Mixed Martial Arts (GAMMA) World Mixed Martial Arts Championships 2023 di mana ia menjadi yang terbaik di kategori Full Contact -48 kg Putri.
Oleh karena itulah Viona mengajak atlet-atlet lainnya untuk tidak takut bersuara jika ada kekerasan seksual di sekitar mereka.
"Saya minta tolong kepada atlet perempuan untuk jaga diri masing-masing. Jangan ragu untuk melapor. Mungkin kejadian seperti ini banyak, tapi jarang yang mau bicara," kata Viona.
Viona juga menegaskan bahwa harga diri dan martabat adalah hal yang wajib dijaga setiap atlet. Saking pentingnya bahkan, prestasi pun tidak boleh dibayar dengan mengorbankan dua hal tersebut.
"Jangan pernah menukar prestasi dengan harga diri dan martabat kalian," pungkasnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


