Kalimat di judul tulisan saya itu adalah penggalan kalimat yang diucapkan bukan oleh siapa-siapa, tapi oleh seorang pejabat pemerintahan Amerika Serikat sendiri, yaitu Henry Kissinger, mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat 1973–1977 dan Penasihat Keamanan Nasional AS 1969–1975. Kalimat lengkap yang diucapkannya sekitar tahun 1968 itu: "It may be dangerous to be America's enemy, but to be America's friend is fatal," ("Bisa berbahaya menjadi musuh Amerika, tetapi bisa fatal menjadi teman Amerika").
Itulah yang saat ini yang terjadi pada Spanyol yang sejak lama berkawan bahkan menjadi salah satu sekutu Amerika Serikat dari Eropa. Namun baru-baru ini, Spanyol diancam oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang akan memberlakukan embargo perdagangan penuh terhadap negara tersebut sebagai tanggapan atas penolakannya untuk mengizinkan AS menggunakan pangkalan yang dikelola bersama di Morón dan Rotafor untuk menyerang Iran.
"Spanyol sangat mengerikan, payah," kata Trump selama pertemuan dengan Kanselir Jerman, Friedrich Merz, di Gedung Putih.
Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, telah memberikan sikap keras terhadap ancaman Trump untuk mengakhiri perdagangan dengan negaranya. Ia menegaskan kembali penentangannya terhadap perang dan apa yang dia sebut "kerusakan hukum internasional". Dalam pidato televisi selama 10 menit, Sánchez merefleksikan perang di Ukraina dan Gaza, serta Perang Irak lebih dari 20 tahun yang lalu, dan mengatakan posisi pemerintah Spanyol dapat disimpulkan sebagai "tidak untuk perang".
Sánchez juga mengecam keras Trump, mengutuk apa yang dia anggap sebagai operasi yang melanggar hukum di Timur Tengah dan juga menolak untuk membiarkan pesawat Amerika lepas landas dari lapangan terbang di bawah kendalinya. Akibatnya, Sánchez menimbulkan kemarahan Trump dan Presiden Prancis, Emmanuel Macron,—yang pernah menjadi teman kritis— turut menyebut perang Iran berbahaya. Macron memperingatkan bahwa perang itu tidak sesuai dengan hukum internasional dan tidak dapat didukung. Macron pun membela sikap Spanyol sementara Inggris juga menyatakan keraguannya untuk bergabung dengan Trump (dan Israel) untuk menyerang Iran.
Setelah menghabiskan satu tahun mengkritik, menghina, dan mengancam para pemimpin Eropa, Trump sekarang mulai berpikir bahwa memiliki teman di tempat-tempat penting secara strategis itu perlu agar tidak sendirian (dengan Israel) melawan Iran. Namun, para sahabat dan sekutu AS di Eropa menolak keinginan Trump itu.
Para politisi Spanyol antara lain Manuela Bergerot mengecam keras tindakan Israel yang membunuh anak-anak gadis Iran dengan cara sangat brutal. Dalam sambutannya, dia merujuk pada serangan mematikan di sebuah sekolah perempuan di Iran.
"Tujuan militer pertama Netanyahu dan Trump di Iran adalah mengebom sebuah sekolah perempuan, menewaskan 160 anak perempuan." katanya.
Kritik itu muncul setelah laporan tentang serangan udara presisi di sekolah dasar Shajarah Tayyebeh di Iran selatan pada 28 Februari. Investigasi oleh The New York Times dan Reuters menunjukkan bahwa serangan itu mungkin dilakukan oleh militer Amerika Serikat.
Saya pikir Presiden RI, Prabowo Subianto, sebagai sosok yang banyak membaca buku sejarah, politik, dan perang sangat paham dengan ungkapan Henry Kissinger di atas bahwa menjadi musuh AS itu bahaya dan menjadi sahabat AS itu fatal. Karena itu, Presiden Prabowo harus melaksanakan pendapat-pendapat para pendiri bangsa yang visioner dan tersirat di Mukadimah UUD 1945 yaitu politik bebas aktif khususnya alinea pertama dan keempat, yang diamanatkan sebagai dasar untuk ikut serta melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Konsep ini dicetuskan untuk menjamin kedaulatan negara tanpa terikat blok tertentu.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


