Amerika kembali berperang. Kali ini Iran. Alasannya terdengar familiar. Stabilitas kawasan. Keamanan global. Ancaman nuklir. Iran perlu dibebaskan dari diktator.
Dunia sudah terlalu sering mendengar alasan seperti itu.
Setiap konflik baru selalu memunculkan satu pertanyaan lama, mengapa negara yang begitu kuat dalam banyak hal, masih begitu sering memilih jalan perang.
Ada satu data yang sering muncul dalam kritik terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Dalam lebih dari 240 tahun sejarahnya, Amerika disebut hanya mengalami sekitar 16 tahun jeda masa damai tanpa keterlibatan militer. Angka ini memang sering diperdebatkan. Tergantung definisi perang yang digunakan. Apakah hanya perang resmi, atau juga termasuk operasi militer dan intervensi di luar negeri.
Namun pesan besarnya tetap sama. Sejak awal berdirinya, Amerika hampir selalu berada dalam konflik peperangan.
Sejarahnya panjang. Amerika pernah mengalami perang kolonial di masa awal berdiri. Lalu Perang Saudara pada 1861 sampai 1865 yang menewaskan ratusan ribu orang. Setelah itu Amerika ikut dalam dua perang dunia. Sesudah Perang Dunia II, keterlibatan militernya justru semakin luas.
Data tentang negara negara yang pernah menjadi sasaran operasi militer Amerika sejak 1945 menunjukkan daftar yang panjang. Jepang dan Jerman pada akhir Perang Dunia II. China beberapa kali pada akhir 1940-an hingga awal 1950-an. Perang Korea melawan Korea Utara pada 1950 sampai 1953.
Lalu Guatemala pada 1954. Indonesia pada 1958. Kuba pada 1961. Laos pada 1964 sampai 1973. Vietnam pada 1965 sampai 1973. Kamboja pada 1969 sampai 1973.
Memasuki dekade berikutnya, intervensi militer itu terus berlanjut. Lebanon pada 1983 sampai 1984. Libya pada 1986. Panama pada 1989. Irak pada 1991. Somalia pada 1993. Yugoslavia pada 1999.
Abad ke-21 pun tidak berbeda. Afghanistan pada 2001 sampai 2021. Irak kembali pada 2003 sampai 2011. Libya pada 2011. Suriah sejak 2014. Yaman sejak 2002.
Itu baru sebagian dari daftar yang ada. Setiap konflik tentu memiliki alasan geopolitik masing masing. Ada narasi tentang keamanan global. Ada argumen tentang stabilitas kawasan. Ada pula pertimbangan strategis dan ekonomi.
Namun satu hal hampir selalu sama. Setiap perang membawa biaya yang sangat mahal.
Biaya pertama adalah manusia. Perang Irak setelah 2003 menelan ratusan ribu korban sipil, bahkan ada yang bilang hingga tembus satu juta jiwa. Afghanistan mengalami konflik hampir dua dekade. Generasi anak anak tumbuh dalam bayang bayang perang.
Biaya kedua adalah ekonomi. Perang Afghanistan saja menghabiskan lebih dari dua triliun dolar menurut berbagai laporan di Amerika sendiri. Angka sebesar itu cukup untuk membangun ribuan rumah sakit atau membiayai jutaan mahasiswa.
Bayangkan jika dana sebesar itu digunakan untuk riset kesehatan global. Untuk pengembangan energi bersih. Untuk kerja sama internasional menghadapi perubahan iklim.
Dunia mungkin terlihat berbeda.
Konflik dengan Iran hari ini membuka kemungkinan eskalasi baru di Timur Tengah. Kawasan ini sudah terlalu lama menjadi panggung persaingan geopolitik negara negara besar. Jika konflik meluas, dampaknya tidak akan berhenti di kawasan itu saja.
Harga energi bisa melonjak. Stabilitas ekonomi global terganggu. Negara negara berkembang yang jauh dari pusat konflik justru sering menjadi pihak yang paling rentan.
Padahal dunia sebenarnya memiliki pilihan lain. Negara negara tetap bisa bersaing tanpa harus saling menyerang. Mereka bisa berlomba dalam teknologi, inovasi, pendidikan, dan kemampuan menghadapi krisis global.
Bayangkan jika negara negara berlomba menciptakan teknologi energi bersih. Berlomba menemukan obat untuk penyakit mematikan. Berlomba mengurangi kemiskinan dunia.
Persaingan seperti itu tidak menghancurkan kota. Tidak menewaskan warga sipil.
Amerika adalah negara besar dengan pengaruh global yang luar biasa. Karena itu dunia berharap Amerika juga menunjukkan kepemimpinan dalam menjaga perdamaian.
Kekuatan militer memang penting bagi sebuah negara. Namun kekuatan terbesar seharusnya adalah kemampuan untuk menahan diri.
Dunia hari ini tidak membutuhkan perang baru. Sama sekali TIDAK !
Dunia membutuhkan keberanian untuk menghentikan perang.
Amerika, cukup sudah!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


