prabowo bawa indonesia gabung board of peace hendri satrio mungkin have no choice - News | Good News From Indonesia 2026

Prabowo Bawa Indonesia Gabung Board of Peace, Hendri Satrio: Mungkin Have No Choice

Prabowo Bawa Indonesia Gabung Board of Peace, Hendri Satrio: Mungkin Have No Choice
images info

Prabowo Bawa Indonesia Gabung Board of Peace, Hendri Satrio: Mungkin Have No Choice


Hendri Satrio (Hensat) adalah seorang analis komunikasi politik terkemuka. Ia dikenal sering memberikan pandangan kritis mengenai dinamika partai politik, oposisi, dan kebijakan pemerintahan di berbagai media massa.

Meski sering terlihat di layar televisi atau podcast ternama, Hendri Satrio tetap menjaga akarnya sebagai seorang pendidik. Sebagai dosen di Universitas Paramadina, ia menularkan ilmu komunikasi politik kepada generasi penerus.

Nama Hendri Satrio terkenal pula lewat KedaiKOPI yang didirikannya pada 2014. Lembaga ini menyajikan diskusi hingga survei terkait isu-isu politik yang terjadi di Indonesia. Menariknya, nama lembaga tersebut pernah diremehkan akibat tidak mencerminkan keseriusan memperbincangkan politik.

Dirikan KedaiKOPI

Kesadaran Hendri Satrio mendirikan KedaiKOPI terdorong dari keinginannya membuka bisnis. Setelah mendapat pencerahan dari teman-teman yang sesama pengamat politik maka didirikanlah lembaga tersebut.

Nama KedaiKOPI kesannya lebih dekat dengan dunia kuliner lalu diambilnya. Menteri Keuangan kala itu, Bambang Bojonegoro bahkan sampai bertanya-tanya mengapa nama itu dipakai.

Hendri pun menjelaskan bahwa nama itu memiliki filosofi di mana masyarakat gemar membicarakan ngalor-ngidul soal politik kala senggang menyeruput kopi di kedai-kedai kopi. Walaupun namanya memang terkesan tidak terlalu canggih untuk kelompok diskusi yang mengedepankan metodologi ilmiah, ia tetap memilih nama itu yang merupakan akronim dari Kelompok Kajian dan Diskusi Opini Publik Indonesia

“Karena perbincangan santai penting, no hard feeling, itu cuma terjadi di kedai kopi. Akhirnya gua panjangin Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia,” ucap Hendri kepada Good News From Indonesia dalam segmen GoodTalk.

Rupanya nama yang dipilihnya tersebut memancing protes dan pandangan remeh dari sejumlah kalangan. Namun, Hendri tetap percaya dengan nama KedaiKOPI keseriusan membahas isu publik dan politik akan terus konsisten diangkat olehnya.

“Diremehin, tapi kan akhirnya mereka ngelihat seorang Hendri Satrio bahwa Hendri Satrio itu serius kemudian memberikan masukan kritis dengan rasionalitas yang mumpuni,” ucap pemilik sapaan Hensat itu.

Board of Peace

Sejak lama nasib rakyat Palestina menjadi perhatian Republik Indonesia. Sikap itu pun masih kukuh dipegang pemerintah hingga kini seiring semakin gencarnya Israel mencaplok wilayah Palestina dari tahun ke tahun.

Di tengah ketidakjelasan nasib rakyat Palestina yang kian hari semakin tidak menentu, Board of Peace atau Dewan Perdamaian lalu didirikan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump pada Januari 2026. Organisasi ini dibentuk sebagai upaya mempromosikan pemeliharaan perdamaian di seluruh dunia termasuk di Gaza, Palestina.

Indonesia melalui Presiden Prabowo Subianto lantas ikut sebagai pendiri yang kemudian disesalkan oleh banyak kalangan di tanah air karena organisasi tersebut di-backing oleh AS sebagai negara pendukung utama pendirian negara Israel. Puncak kekecewaan rakyat Indonesia terhadap Prabowo semakin menjadi karena Israel juga menjadi anggota pada Februari 2026.

Langkah Prabowo yang membuat Indonesia masuk dalam Board of Peace ini lalu ditanggapi oleh Hendri Satrio. Menurutnya keputusan untuk masuk ke dalam dewan mungkin sudah ada perhitungan politis tersendiri dari Prabowo.

“Mungkin kalau lo jadi Prabowo, you have no choice. Lo mesti ikut daripada lo cari perkara sama Amerika Serikat di situ kan. ‘Oke lah gua ikut. Entar gua jelasin aja sama rakyat gua itu maksudnya’. Kita tuh kadang-kadang suka lupa bahwa posisi itu enggak sama untuk semua orang pada saat itu,” ucap Hendri.

Hendri menilai orang-orang mesti berpikir lebih panjang menanggapi keputusan-keputusan yang diambil para tokoh politik termasuk presiden. Ia sendiri yakin ada banyak pertimbangan dilalui Prabowo sebelum memutuskan bergabung dengan Board of Peace.

“Kita memang mesti belajar menempatkan, kalau bahasa komunikasinya put your foot in others person shoes. Jadi memang lo mesti lihat posisi mereka pada saat itu gimana. Gua yakin Pak Prabowo pertimbangannya banyak gitu,” jelasnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dimas Wahyu Indrajaya lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dimas Wahyu Indrajaya.

DW
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.