pulau buton pulau bersejarah yang tidak pernah dijajah dan punya cadangan aspal melimpah - News | Good News From Indonesia 2026

Pulau Buton: Pulau Bersejarah yang Tidak Pernah Dijajah dan Punya Cadangan Aspal Melimpah

Pulau Buton: Pulau Bersejarah yang Tidak Pernah Dijajah dan Punya Cadangan Aspal Melimpah
images info

Pulau Buton: Pulau Bersejarah yang Tidak Pernah Dijajah dan Punya Cadangan Aspal Melimpah


Pulau Buton adalah pulau di Provinsi Sulawesi Tenggara yang dikenal dengan sejarahnya yang panjang. Pulau ini merupakan daerah di Indonesia yang tidak pernah dijajah.

Selain itu, Pulau Buton juga dikenal sebagai penghasil aspal alam terbesar di Indonesia, bahkan dunia. Cadangan aspalnya sangat besar, bahkan diperkirakan bisa mencukupi kebutuhan nasional sampai 100 tahun.

Mengenal Pulau Buton: Wilayah Indonesia yang Tidak Pernah Dijajah

Sekitar abad ke-12, wilayah Buton dikuasai oleh Kesultanan Buton. Konon, kerajaan ini sangat kuat, hingga Belanda dan Portugis tidak berani “menyentuhnya”.

Kesultanan Buton memiliki sistem pertahanan yang ciamik. Mereka mempunyai benteng yang sangat besar dan luas; sekitar 23,375 hektare. Saking besarnya, Benteng Keraton Buton pernah dinobatkan sebagai benteng terluas di dunia pada 2006 oleh Guiness Book Record.

Benteng ini dilengkapi dengan alat-alat pertahanan yang mumpuni, termasuk meriam. Ada pula pos-pos pengintai untuk mengawasi musuh.

Di sisi lain, letak Buton sangat strategis. Pulau ini berada di jalur pelayaran rempah-rempah timur Nusantara yang banyak dilewati pedagang Eropa pada masanya. Hal ini semakin membuat Kesultanan Buton disegani oleh pelaut Eropa.

Alih-alih berperang, Buton justru melakukan diplomasi. Kerajaan menjalin hubungan yang baik dengan orang-orang asing itu.

Mereka membuat perjanjian soal perdagangan dan keamanan. Walhasil, berbeda dengan kerajaan-kerajaan lain yang berupaya mati-matian untuk melindungi wilayah mereka, Buton justru memilih untuk “berteman” dengan Portugis dan Belanda.

Perjanjian ini membuat Buton tetap berdiri kokoh tanpa intervensi asing. Sementara itu, Belanda juga mendapatkan akses menuju wilayah-wilayah penghasil rempah di timur Nusantara. Penduduk Buton pun tidak pernah mengalami kerja paksa seperti yang terjadi tempat lain di Indonesia.

Namun, sebenarnya Kesultanan Buton pernah berperang dengan VOC selama beberapa kali. Akan tetapi, sistem kerajaan yang kuat terbukti mampu menghalau Belada untuk berkuasa. Hal ini menjadikan Buton sebagai wilayah di Indonesia yang tidak pernah dijajah.

Lalu, mengapa Buton memutuskan masuk wilayah Indonesia padahal tidak dijajah Belanda?

Hal ini dikarenakan kebesaran hati dan kesukarelaan Sultan Buton saat itu, La Ode Muhammad Falihi, yang menyatakan kesanggupannya bergabung dengan Indonesia di tahun 1950-an. Sebelumnya, Presiden Soekarno memang membujuk pemimpin Kesultanan Buton untuk bergabung dengan NKRI. Bahkan, wilayah Buton juga sempat ditawarkan untuk menjadi daerah istimewa seperti Aceh dan Yogyakarta.

Namun, sampai saat ini, wilayah Buton tidak pernah dijadikan sebagai daerah istimewa. Saat ini, Buton berada dalam wilayah administratif Provinsi Sulawesi Tenggara.

baca juga

Pulau Buton: Penghasil Aspal Alam Terbesar di Indonesia

Selain punya sejarah yang unik, Buton juga memiliki kekayaan alam yang melimpah. Pulau Buton dikenal sebagai penghasil aspal alam terbesar di dunia. Total cadangan aspal yang ada di pulau ini diperkirakan mencapai lebih dari 600 ton dan bisa dimanfaatkan antara 100 tahun.

Aspal Buton atau dikenal dengan Asbuton awalnya ditemukan oleh Geologis Belanda, W.H. Hetzer tahun 1924. Pulau Buton juga menjadi satu-satunya lokasi endapan aspal di Indonesia.

Melansir dari Direktorat Jenderal Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum, aspal Buton memiliki keunggulan mutu yang lebih baik dari aspal minyak. Aspal Buton mengandung kadar aspaltin dengan kadar resin yang lebih tinggi dibanding aspal minyak.

Kadar aspaltin yang tinggi inilah yang menjadikan aspal Buton lebih keras dan tahan pada beban lalu lintas yang tinggi. Sementara itu, kadar resin tinggi menentukan elastisitas dan fleksibilitas yang maksimal.

Oleh karena itu, aspal Buton dianggap memiliki daya tahan yang lebih lama dibanding aspal minyak. Aspal ini cocok digunakan untuk proyek infrastruktur strategis nasional, seperti jalan raya, bandara, hingga pelabuhan.

Cadangan aspal di Pulau Buton banyak diolah di berbagai industri atau pabrik yang tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Melalui Kementerian Perindustrian, saat ini industri aspal Buton sudah memproduksi lima jenis olahan aspal, yaitu:

  • Asbuton B5/20
  • Asbuton B50/30
  • Asbuton Pracampur
  • Asbuton CPHMA
  • Asbuton Estraksi Murni

Aspal Buton memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai lebih dari 95 persen. Lebih lanjut, penggunaannya bisa menekan impor aspal minyak dan menghemat devisa negara.

Sayangnya, meskipun memiliki potensi aspal yang sangat melimpah, Indonesia masih mengimpor aspal dalam jumlah yang besar. Per tahun 2023, penggunaan aspal Buton dalam proyek nasional masih sekitar lima persen.

Oleh karena itu, pemerintah berupaya meningkatkan utilisasi Asbuton hingga 90 persen di tahun 2030. Pembangunan pabrik produksi aspal murni juga digalakkan.

Bahkan, ada berbagai regulasi pendukung yang sudah diterbitkan sejak 2018 lalu. Dengan ini, besar harapan agar aspal Buton dapat menopang industri aspal dalam negeri untuk menuju swasembada aspal nasional.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.