Di tengah keriuhan konten hiburan media sosial INdonesia, nama Danang Giri Sadewa muncul sebagai angin segar. Dikenal karena kemampuannya mengemas topik pendidikan yang berat menjadi diskusi santai nan jenaka, Danang telah bertransformasi dari seorang mahasiswa menjadi salah satu pemengaruh pendidikan (edu-influencer) di tanah air.
Sosok kreator konten asal Magelang, Jawa Tengah, yang dikenal dengan konten-kontennya seputar kehidupan mahasiswa. Pemuda lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) telah menyajikan konten bermanfaat untuk mahasiswa atau calon mahasiswa baru mulai dari bahasan mengenai biaya hidup di Yogya, tips masuk PTN, hingga memilih jurusan yang diminati.
Danang menempuh pendidikan sarjana di Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK), Fisipol UGM. Ketertarikannya pada dunia sinematografi sejak kecil membuatnya mulai mendokumentasikan kehidupan kampusnya melalui YouTube pada 2017.
Berbeda dengan kreator lain yang fokus pada sisi akademis yang kaku, Danang mengambil celah "Trivial Education". Ia membahas hal-hal yang dianggap sepele tapi sangat dibutuhkan salah satunya mengenai tradisi ospek yang biasa terjadi di kampus-kampus Indonesia.
Ospek
Tradisi ospek di lingkungan perguruan tinggi kerap terjadi secara turun-temurun. Kegiatan yang seharusnya untuk orientasi pengenalan kampus ini sayangnya sering dibayang-bayangi sisi negatif yang menghantui para mahasiswa baru.
Danang Giri pun merasakan itu semasa menjadi mahasiswa baru di UGM pada 2017. Sadar akan adanya ospek, ia pun mencoba mendokumentasikan apa yang benar-benar terjadi dalam kegiatan tersebut. Dari inisiatif menyoroti tema sensitif itulah kemudian ia mengawali jalannya menjadi kreator konten edukasi.
“Aku dulu tuh mikirnya ospek ini di pikiranku juga sebagai mahasiwa baru di UGM ospek pasti kekerasan. Akhirnya aku nge-vlog dengan gaya-gayaan zaman itu, kamera segede gaban gitu. Ternyata kok yang aku harapkan ini kekerasannya enggak ada. At least aku punya bukti kalau ada kekerasan aku punya bukti ternyata, oh seru-seruan aja,” ucap Danang kepada Good News From Indonesia dalam segmen GoodTalk.
Dari konten ospek itu permintaan mengulik dunia kampus berdatangan dari penontonnya. Danang lantas semakin terpacu untuk membuat konten lain yang umumnya menyasar anak-anak SMA yang tertarik melanjutkan studi ke perguruan tinggi di Yogyakarta.
“Sebenarnya aku enggak punya tim kreatif. Tim kreatifku adalah orang-orang yang komen. Akhirnya dari buy request gitu. Kalau di ekonomi itu ada supply demand, berarti ada demand tuh, ada permintaan di situ. Ya udah, kita supply aja. Ketemu di titik ekuilibrium itu,” kata pemilik akun Instagram @thesadewa itu lagi.
Gap Generation
Sikap saling membanding-bandingkan antargenerasi seringkali muncul di masyarakat Indonesia. Biasanya, generasi pendahulu merasa lebih baik daripada generasi penerus karena sudah makan asam garam kehidupan.
Danang pun menyadari sikap itu di dalam sistem pendidikan Indonesia. Menurutnya pola pikir gap generation yang tertanam dan terus dipupuk ini menghambat kemajuan pendidikan bangsa.
“Orang yang tua ngangapnya orang yang lahir lebih baru dari dia berarti tahu segalanya. Ah, mindset itu yang bikin pendidikan enggak maju gitu,” ujarnya.
Danang juga menilai bahwa tabungan keilmuan dimiliki oleh mereka yang memang benar-benar haus dengan ilmu. Menurutnya mereka yang terus mengejar ilmu akan berani berproses dan belajar tanpa membatasi diri dengan sekat usia.
“Jadi kayak orang-orang yang pengin dapetin ilmu segala macam hingga punya gelar profesor, berarti hidupnya terus-terusan belajar. Beda sama dosen yang sorry to say dalam tanda kutip dia sudah merasa punya limu dia bakal lebih arogan enggak denegerin orang. Nah, itu yang harusnya dihindari,” ucap Danang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

