Belangkas atau horseshoe crab merupakan satwa laut purba yang telah hidup di bumi selama ratusan juta tahun dan hingga kini masih dapat ditemukan di sejumlah wilayah pesisir Indonesia.
Secara biologis, belangkas termasuk kelompok artropoda laut yang hidup di dasar perairan dangkal, terutama di kawasan pesisir berlumpur dan berpasir.
Satwa ini memiliki peran penting dalam ekosistem bentik karena terlibat dalam rantai makanan dan membantu menjaga keseimbangan komunitas organisme dasar perairan.
Di Indonesia, belangkas telah ditetapkan sebagai satwa dilindungi karena populasinya terus mengalami tekanan akibat degradasi habitat dan maraknya perdagangan ilegal.
Ancaman Perdagangan Ilegal
Dalam beberapa tahun terakhir, kasus perdagangan ilegal belangkas masih ditemukan di berbagai daerah pesisir Indonesia. Satwa ini kerap ditangkap untuk dikonsumsi, diperdagangkan, atau dimanfaatkan tanpa memperhatikan status perlindungannya.
Penindakan oleh aparat penegak hukum sering kali berhasil mengamankan ratusan individu belangkas dari aktivitas ilegal tersebut.
Namun, penyelamatan ini tidak berhenti pada proses penyitaan, karena langkah lanjutan berupa pelepasliaran ke alam menjadi bagian penting dari upaya konservasi yang lebih luas.
Pakar IPB soal Pelepasliaran Belangkas
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Yusli Wardiatno, menegaskan bahwa pelepasliaran belangkas harus dilakukan secara hati-hati dan berbasis kajian ilmiah. Menurutnya, pelepasliaran bukan sekadar memindahkan satwa dari tempat penampungan kembali ke laut.
“Pelepasliaran belangkas bukan sekadar memindahkan satwa dari tempat penampungan ke laut, tetapi merupakan bagian dari proses konservasi yang harus mempertimbangkan aspek biologis, ekologis, dan teknis secara terpadu,” ujarnya, dikutip dari IPB Today.
Tanpa perencanaan yang matang, pelepasliaran justru berpotensi menimbulkan dampak ekologis baru di wilayah pesisir.
Pertimbangan Aspek Biologis
Dari sisi biologis, kondisi kesehatan individu belangkas menjadi faktor utama yang harus diperhatikan. Belangkas yang dilepasliarkan idealnya berada dalam kondisi fisik yang baik, tidak mengalami luka serius, infeksi, atau stres fisiologis berlebihan.
Kondisi tersebut sangat memengaruhi kemampuan bertahan hidup setelah kembali ke alam. Prof. Yusli menjelaskan bahwa ukuran tubuh dan fase hidup juga perlu diperhatikan.
“Individu yang masih terlalu kecil atau berada dalam kondisi lemah memiliki tingkat kelangsungan hidup yang lebih rendah ketika dilepasliarkan ke lingkungan alami,” katanya. Oleh karena itu, seleksi individu menjadi tahapan penting sebelum pelepasliaran dilakukan.
Menyesuaikan waktu dan habitat
Aspek ekologi habitat menjadi penentu keberhasilan pelepasliaran belangkas. Lokasi pelepasliaran harus memiliki karakter lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan hidup satwa ini, mulai dari jenis substrat dasar perairan, tingkat salinitas, kedalaman, hingga dinamika arus dan gelombang.
Selain itu, waktu pelepasliaran perlu diselaraskan dengan kondisi alam serta periode aktivitas alami belangkas di wilayah pesisir.
“Pelepasliaran idealnya dilakukan di habitat yang masih relatif baik dan minim gangguan manusia, agar belangkas dapat segera melakukan perilaku alaminya,” ujar Prof. Yusli, termasuk mencari makan dan, bagi individu dewasa, berpartisipasi dalam siklus reproduksi.
Pertimbangkan Risiko Ekologis
Keberhasilan pelepasliaran tidak diukur dari jumlah individu yang dilepas, melainkan dari kemampuan belangkas untuk bertahan hidup dan kembali menjalankan fungsi ekologisnya.
Prof. Yusli mengingatkan bahwa pelepasliaran dalam jumlah besar harus mempertimbangkan daya dukung ekosistem setempat.
Jika tidak, hal tersebut dapat menimbulkan tekanan baru bagi organisme bentik lain yang telah lebih dahulu menempati habitat tersebut.
Selain itu, kehati-hatian diperlukan apabila individu berasal dari wilayah geografis yang berbeda. Pencampuran populasi tanpa kajian berisiko memengaruhi struktur genetik populasi lokal.
Ingatkan Peran Masyarakat Pesisir
Sebagai praktik konservasi yang bertanggung jawab, pelepasliaran belangkas idealnya diikuti dengan pemantauan pascapelepasliaran. Pemantauan ini mencakup survei lapangan untuk melihat keberadaan individu, kondisi habitat, serta indikator keberhasilan jangka menengah dan panjang, seperti aktivitas reproduksi.
“Pemantauan pascapelepasliaran merupakan bagian integral dari konservasi,” kata Prof. Yusli. Ia menambahkan bahwa pencegahan perdagangan ilegal belangkas memerlukan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga konservasi, dan masyarakat pesisir, agar upaya perlindungan dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


