Di Desa Pamijahan, Tasikmalaya, Jawa Barat, terdapat sebuah gua yang diyakini sebagai jejak sejarah Syekh H. Abdul Qadir Djaelani saat menerima ijazah keilmuan agama dari gurunya, Imam Sanusi. Gua ini dikenal dengan nama Gua Safarwadi Pamijahan, atau sering juga disebut Gua Safarwadi maupun Gua Pamijahan.
Lokasinya berada di lereng gunung yang kini populer dengan sebutan Gunung Mujarod, yang dalam bahasa Sunda bermakna “tempat penenangan” atau tempat untuk menjernihkan hati. Dilansir dari jabar.nu.or.id, penamaan tersebut berkaitan dengan fungsi spiritual gua ini, karena di sanalah Syekh H. Abdul Muhyi kerap melakukan pendekatan diri kepada Allah SWT melalui laku tapa atau semedi sebagai bentuk taqarrub.
Jika dilihat dari sisi alam, gua sebenarnya bisa ditemukan di banyak daerah. Namun, Gua Pamijahan memiliki keunikan tersendiri dibandingkan gua-gua lainnya. Inilah yang membuat Gua Pamijahan berbeda dan menjadi tempat yang banyak disukai serta sering dikunjungi oleh orang-orang.
Berikut ini penulis ingin memaparkan beberapa alasan yang menjelaskan mengapa Gua Pamijahan banyak disukai dan diminati oleh masyarakat.
Pertama, berdasarkan buku Sejarah Perjuangan Syekh H. ‘Abdul Muhyi Waliyullah Pamijahan (hlm. 18–19) karya almarhum Drs. H. A. A. Khaerussalam, Gua Pamijahan digunakan sebagai tempat pembinaan dan pembelajaran dalam menyebarkan ajaran Islam.
Gua ini tidak hanya menjadi tempat ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, tetapi juga dimanfaatkan sebagai tempat belajar. Hal tersebut terlihat dari adanya ruang pendidikan berupa perpustakaan di dalam gua, yang digunakan untuk mempelajari ilmu agama sebelum para murid menyebarkannya ke berbagai daerah.
Kedua, Gua Pamijahan juga dikenal sebagai tempat beribadah para wali. Hal ini dapat dilihat dari adanya bangunan berupa masjid dan menara yang berada di dalam gua. Keberadaan tempat ibadah tersebut menunjukkan bahwa gua ini sejak dahulu digunakan untuk melaksanakan kegiatan keagamaan, seperti berdoa dan beribadah, sehingga hingga kini masih dianggap sebagai tempat yang sakral dan penuh nilai spiritual.
Ketiga, Gua Pamijahan juga dimanfaatkan sebagai tempat tajrid dan taqarrub, yaitu tempat untuk menenangkan diri, membersihkan hati, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal ini terlihat dari adanya ruang khusus di dalam gua yang digunakan untuk bersemedi. Suasana gua yang tenang dan jauh dari keramaian membuat tempat ini cocok untuk berdoa, bermuhasabah, serta memperdalam hubungan batin dengan Sang Pencipta.
Keempat,Gua Pamijahan juga dijadikan sebagai tempat tabarruk, yaitu mencari keberkahan dan menambah kebaikan dengan mengunjungi jejak para wali. Di dalam gua ini terdapat mata air yang dipercaya membawa kebaikan, sehingga airnya sering diambil dan dibawa pulang oleh para pengunjung.
Dalam ajaran Islam, mencari keberkahan atau tabarruk merupakan amalan yang dianjurkan dan telah dikenal sejak lama. Tabarruk dimaknai sebagai upaya menambah kebaikan dan kebermanfaatan hidup dengan mendekatkan diri kepada hal-hal yang memiliki nilai kesalehan. Praktik ini biasanya dilakukan dengan mengunjungi tempat bersejarah, peninggalan orang-orang saleh, atau melalui doa dan zikir, dengan harapan memperoleh keberkahan yang datang dari Allah SWT.
Namun, penting untuk dipahami bahwa tabarruk tidak berarti meminta atau memohon kepada para wali. Segala bentuk doa dan permintaan tetap ditujukan hanya kepada Allah SWT sebagai satu-satunya pemberi rezeki dan pertolongan.
Para wali diposisikan sebagai perantara atau wasilah karena kesalehan dan kedekatan mereka kepada Allah. Dalam Islam, cara ini dikenal dengan istilah tawasul, yaitu memohon kepada Allah dengan menyebut atau melalui perantara orang-orang saleh, tanpa mengurangi keyakinan bahwa segala sesuatu hanya terjadi atas kehendak-Nya.
Dilansir dari Bandung.kompas.com, Kasepuhan Pamijahan, Kiai Endang Adjidin, menyampaikan bahwa di dalam gua terdapat sumber mata air yang terus mengalir meskipun terjadi musim kemarau panjang. Air tersebut kerap digunakan oleh para peziarah untuk berwudu dan diminum karena diyakini memiliki manfaat tersendiri.
Menurutnya, mata air itu sejak dahulu digunakan oleh para wali, termasuk Syekh Abdul Muhyi, untuk berwudu dan mengambil air minum. Kiai Endang juga menuturkan rasa syukurnya karena atas izin Allah SWT, sumber air tersebut tidak pernah kering dan tetap ada dalam kondisi apa pun.
Keunikan lain yang menarik dari gua ini adalah adanya lekukan pada dinding gua yang bentuknya menyerupai kopiah haji. Masyarakat setempat percaya bahwa jika kepala seorang pengunjung pas dengan lekukan tersebut, maka orang itu memiliki tanda atau pertanda akan mendapat kesempatan untuk menunaikan ibadah haji. Kepercayaan ini menambah daya tarik gua dan membuat banyak orang penasaran untuk melihat serta mencobanya secara langsung.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa Gua Pamijahan bukan sekadar gua alam biasa, melainkan memiliki nilai sejarah, keagamaan, dan spiritual yang sangat kuat. Gua ini menjadi saksi perjalanan dakwah para wali, khususnya Syekh Abdul Muhyi, sekaligus berfungsi sebagai tempat ibadah, pembelajaran, perenungan diri, dan pencarian keberkahan.
Keberadaan mata air yang tidak pernah kering serta keunikan bentuk dinding gua semakin menambah daya tarik bagi para peziarah. Semua hal tersebut menjadikan Gua Pamijahan sebagai tempat yang dihormati, disukai, dan terus dikunjungi hingga kini sebagai bagian dari warisan spiritual dan budaya masyarakat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


