penghasil minyak goreng tapi tak merusak lingkungan inilah tengkawang - News | Good News From Indonesia 2026

Penghasil Minyak Goreng Tapi Tak Merusak Lingkungan, Inilah Tengkawang

Penghasil Minyak Goreng Tapi Tak Merusak Lingkungan, Inilah Tengkawang
images info

Penghasil Minyak Goreng Tapi Tak Merusak Lingkungan, Inilah Tengkawang


Tengkawang, atau yang nama lokalnya dikenal sebagai engkabang, merupakan salah satu komoditas hasil hutan bukan kayu khas Kalimantan yang memiliki potensi besar, namun hingga kini belum banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia. Tengkawang berasal dari biji buah pohon meranti, 

terutama dari kelompok meranti merah. Selama ini, meranti lebih dikenal sebagai bahan baku kayu lapis dan kayu bangunan berkualitas tinggi, sementara pemanfaatan bijinya sebagai sumber minyak masih kurang mendapat perhatian.

Minyak atau lemak tengkawang telah lama dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat Kalimantan. Produk ini digunakan sebagai campuran makanan, bahan pembuatan lilin, sabun, hingga kosmetik. 

Minyak tengkawang juga dikenal dengan nama Bornean tallow atau green butter dan memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi.

Jenis Pohon Penghasil Tengkawang

Tengkawang merupakan lemak nabati yang dihasilkan dari biji beberapa jenis pohon meranti dari genus Shorea. Terdapat sekitar 16 jenis Shorea yang diketahui menghasilkan tengkawang. 

Sebanyak 13 di antaranya termasuk kelompok meranti merah yang sebagian besar merupakan jenis endemik Kalimantan Barat, sementara tiga jenis lainnya berasal dari kelompok kayu balau yang juga tersebar di Sumatra dan Semenanjung Malaysia.

Jenis yang paling dikenal dan banyak dimanfaatkan adalah tengkawang tungkul (Shorea stenoptera) karena ukuran buahnya yang besar dan kandungan minyaknya yang tinggi. 

Kalau jenis ini sulit ditemukan, masyarakat biasanya memanfaatkan Shorea pinanga dan Shorea macrophylla sebagai alternatif.

Berbuah Serentak dalam 3-5 Tahun Sekali

Secara alami, pohon tengkawang tidak berbuah setiap tahun. Umumnya, panen raya terjadi setiap tiga hingga lima tahun sekali melalui fenomena yang dikenal sebagai mast fruiting, yakni saat banyak pohon berbuah secara serentak. 

Namun, di beberapa wilayah seperti Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, ditemukan pohon tengkawang yang mampu berbuah setiap tahun. Pola serupa juga diamati pada pohon tengkawang yang ditanam di luar habitat aslinya, seperti di Pulau Jawa.

Meskipun Indonesia memiliki sekitar 267 jenis meranti dari hampir 600 jenis di dunia, belum banyak kajian dan pengelolaan yang diarahkan untuk mengeksplorasi potensi minyak dari jenis-jenis tersebut. 

Kerusakan hutan, hilangnya habitat alami, serta minimnya upaya regenerasi menjadi penyebab utama menurunnya produksi tengkawang dalam beberapa dekade terakhir.

Bernilai Ekonomi Tinggi

Pada era 1990-an, tengkawang sempat menjadi komoditas unggulan Kalimantan Barat. Data menunjukkan ekspor tengkawang mencapai 3.519,2 ton dengan nilai transaksi sebesar 7,7 juta dolar AS. 

Namun, produksi terus menurun seiring berkurangnya populasi pohon penghasil tengkawang, sementara permintaan pasar internasional justru meningkat, terutama dari industri kosmetik.

Minyak tengkawang memiliki karakteristik yang mirip dengan mentega kakao, tetapi dengan kandungan asam lemak bebas dan titik leleh yang lebih tinggi. Sifat ini membuat minyak tengkawang lebih stabil, tidak mudah tengik, dan dapat disimpan dalam jangka waktu lebih lama. 

Karena itu, minyak tengkawang banyak digunakan sebagai bahan baku setara mentega kakao, baik sebagai pengganti maupun substitusi dalam industri pangan dan kosmetik.

baca juga

Dimanfaatkan untuk Kosmetik dan Pangan

Dalam industri kosmetik, minyak tengkawang dimanfaatkan untuk produk perawatan kulit dan rambut. Minyak ini diketahui dapat membantu menjaga elastisitas kulit, menghaluskan kulit yang kering atau terpapar sinar matahari, serta membantu pemulihan luka ringan. 

Untuk perawatan rambut, minyak tengkawang berfungsi menjaga kelembapan dan mendukung produksi sebum alami.

Selain itu, minyak dan mentega tengkawang juga dapat dikonsumsi. Cita rasanya ringan dan tidak jauh berbeda dengan mentega kakao. 

Beberapa pelaku kuliner menilai minyak tengkawang berpotensi digunakan sebagai bahan saus salad, sementara menteganya dapat diaplikasikan pada produk es krim atau gelato.

Tengkawang dalam Masyarakat Dayak

Bagi masyarakat Dayak, khususnya Dayak Bakati, tengkawang memiliki nilai budaya yang penting. Minyak tengkawang telah dimanfaatkan secara turun-temurun dan bahkan pernah diekspor hingga ke Eropa. 

Pohon tengkawang juga kerap dikaitkan dengan nilai keberuntungan dan menjadi bagian dari ritual adat, termasuk sebagai persembahan kepada leluhur.

Keberadaan tengkawang mencerminkan hubungan erat antara masyarakat adat dan hutan. Upaya pelestarian dan pengelolaan tengkawang secara berkelanjutan tidak hanya penting untuk menjaga sumber ekonomi alternatif selain sawit, tetapi juga untuk mempertahankan keseimbangan ekosistem hutan tropis Kalimantan.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.