mengenal gajah blora leluhur gajah asia dari tepian bengawan solo - News | Good News From Indonesia 2026

Mengenal Gajah Blora: Leluhur Gajah Asia dari Tepian Bengawan Solo

Mengenal Gajah Blora: Leluhur Gajah Asia dari Tepian Bengawan Solo
images info

Mengenal Gajah Blora: Leluhur Gajah Asia dari Tepian Bengawan Solo


Gajah Blora bukan sekadar fosil besar yang dipajang di museum, melainkan kisah panjang tentang Jawa purba. Pada tahun 2009, tim Museum Geologi Bandung menemukan temuan luar biasa di tepian Bengawan Solo purba, tepatnya di Dusun Sunggun, Desa Mendalem, Kabupaten Blora. Penemuan ini segera mengubah pemahaman ilmiah tentang sejarah evolusi gajah Asia.

Sekitar 85 persen rangka fosil ditemukan dalam kondisi relatif utuh, sebuah capaian yang sangat langka untuk fosil mamalia besar. Ekskavasi ini dipimpin oleh Iwan Kurniawan bersama tim peneliti Museum Geologi (Publikasi Museum Geologi Bandung, 2011).

Proses penggalian dilakukan secara serius dan melibatkan kerja sama lintas lembaga. Selain Museum Geologi Bandung dan Pemerintah Kabupaten Blora, peneliti dari University of Wollongong, Australia, turut berperan aktif.

Nama Gert van den Bergh dan Mike Morwood tercatat sebagai tokoh penting dalam penelitian ini. Keduanya dikenal luas dalam kajian fauna dan manusia Pleistosen Asia. Ekskavasi dimulai pada November 2009 dengan penerapan metode stratigrafi yang ketat, sesuai standar arkeologi dan paleontologi modern.

Fosil gajah purba, koleksi Museum Geologi Bandung (Foto: dokumen penulis)

Setelah diekskavasi, fosil Gajah Blora menjalani tahap preparasi dan rekonstruksi yang memakan waktu hampir empat tahun. Setiap bagian tulang dibersihkan, dikonsolidasikan, dan disusun kembali dengan cermat untuk memastikan ketepatan anatomis.

Hasil rekonstruksi menunjukkan bahwa fosil tersebut berasal dari satu individu gajah jantan dewasa dengan tinggi sekitar empat meter, panjang tubuh mencapai lima meter, dan berat diperkirakan antara enam hingga delapan ton.

Perkiraan ini didasarkan pada perbandingan morfologis dengan gajah modern, sebagaimana dijelaskan oleh Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) dalam laporan teknisnya (Badan Geologi KESDM, 2012).

Berdasarkan analisis stratigrafi dan konteks geologi, Gajah Blora diperkirakan hidup sekitar 165 ribu tahun lalu pada masa Pleistosen Tengah. Lingkungan Jawa saat itu didominasi oleh padang rumput luas dan hutan terbuka dengan sistem sungai purba yang subur.

Analisis keausan gigi geraham menunjukkan bahwa gajah ini mati pada usia sekitar 49 tahun. Metode penentuan umur melalui keausan gigi merupakan pendekatan baku dalam paleontologi mamalia besar dan dijelaskan secara rinci oleh van den Bergh dalam kajiannya tentang Fauna Jawa (1999).

Secara taksonomi, Gajah Blora diidentifikasi sebagai Elephas hysudrindicus, spesies yang secara luas dianggap sebagai leluhur gajah Asia modern (Elephas maximus). Hubungan evolusioner ini terlihat jelas pada struktur gigi, pola enamel, serta bentuk tengkoraknya yang menunjukkan karakter transisi.

Van den Bergh menegaskan bahwa Elephas hysudrindicus pernah menyebar luas di Asia Tenggara, dan Pulau Jawa merupakan salah satu wilayah kunci dalam persebarannya (van den Bergh, 1999). Temuan Blora memperkuat hipotesis tersebut dengan bukti fosil yang sangat lengkap.

Menariknya, Gajah Blora hidup sezaman dengan manusia purba. Pada periode yang sama, Homo erectus masih menghuni Pulau Jawa. Interaksi antara manusia purba dan megafauna besar ini masih menjadi bahan diskusi ilmiah.

Mike Morwood menyebut Jawa sebagai “laboratorium evolusi alami” karena menjadi tempat hidup berdampingannya manusia purba dan fauna besar dalam rentang waktu yang panjang (Morwood et al., 2003). Dalam konteks ini, Gajah Blora menjadi kunci penting untuk memahami dinamika lingkungan dan adaptasi makhluk hidup pada masa Pleistosen.

Dari sisi narasi, Gajah Blora terasa dekat dengan kehidupan masa kini. Ia bukan fosil asing dari benua lain, melainkan berasal dari tanah Jawa sendiri. Museum Geologi Bandung (2011) menekankan nilai edukatif temuan ini sebagai pintu masuk untuk memahami perubahan iklim, evolusi, dan ekosistem masa lalu. Oleh karena itu, fosil ini kerap dijadikan materi edukasi bagi pelajar dan remaja.

Fosil Gajah Blora, koleksi Museum Geologi Bandung (Foto: dokumen penulis)

Penemuan Gajah Blora juga memiliki makna strategis bagi identitas ilmiah Indonesia. Selama ini, kajian evolusi sering didominasi oleh temuan dari luar negeri. Gajah Blora menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kontribusi penting dalam ilmu paleontologi dunia. National Geographic Indonesia (2012) menyoroti temuan ini sebagai tonggak penting paleontologi nasional karena kelengkapan fosil dan signifikansinya bagi studi evolusi gajah Asia. 

Bagi Kawan GNFI, kisah Gajah Blora dapat dibaca sebagai petualangan sains yang nyata. Ada proses panjang, kerja tim lintas negara, serta ketelitian ilmiah yang konsisten. Lebih jauh, Gajah Blora mengingatkan tentang perubahan alam dan kepunahan spesies besar. Badan Geologi KESDM (2012) menyebut fosil sebagai “arsip alam” yang menyimpan peringatan bagi masa depan manusia dan keberlanjutan lingkungan.

Gajah Blora bukan hanya cerita masa lalu, tetapi jembatan menuju pemahaman yang lebih luas tentang evolusi, lingkungan, dan tanggung jawab manusia. Dari tepian Bengawan Solo purba, leluhur gajah Asia itu mengajak generasi masa kini untuk belajar membaca waktu, alam, dan diri sendiri.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.