hanya 1 yang berhasil bagaimana cara agar tetap konsisten dengan resolusi di tahun 2026 - News | Good News From Indonesia 2026

Hanya 1% yang Berhasil, Bagaimana Cara Agar Tetap Konsisten dengan Resolusi di Tahun 2026?

Hanya 1% yang Berhasil, Bagaimana Cara Agar Tetap Konsisten dengan Resolusi di Tahun 2026?
images info

Hanya 1% yang Berhasil, Bagaimana Cara Agar Tetap Konsisten dengan Resolusi di Tahun 2026?


Siapa yang sedang sibuk menyusun resolusi? Biasanya, di awal tahun, sebagian besar orang akan merencanakan kebiasaan selama 12 bulan ke depan. Tujuannya sederhana, agar saat tahun berganti, ada pencapaian konkret yang menandakan jika waktu tidak dihabiskan dengan sia-sia.

Namun, tahun belum berganti, bulan baru saja berjalan, tetapi resolusi itu berhenti di tempat. Setelah berjuang mengumpulkan sisa-sisa motivasi, rencana itu tak kunjung menunjukkan kemajuan. Apakah ada yang relate? Mengapa demikian?

baca juga

Sebagian Besar Resolusi Berhenti Setelah 2-3 Bulan Pertama

Forbes mengeluarkan laporan yang berjudul “New Year’s Resolution Statistics” pada tahun 2023. Hasil dari survei yang dilakukan pada 1.000 orang dewasa menunjukkan berapa lama seseorang mampu mempertahankan resolusinya.

Terdapat masing-masing 22% peserta yang berhenti menjalankan resolusinya setelah 2-3 bulan pertama, 5% yang berhasil mempertahankannya hingga 6 bulan, dan hanya 1% yang berhasil menyelesaikannya setelah 12 bulan.

Jika melihat perbandingannya, maka hanya ada 1 dari 100 orang yang konsisten terhadap resolusinya. Hal ini tentunya mengundang tanda tanya, mengapa begitu sulit untuk menyelesaikan target-target ini?

Mengapa Gagal?

Iswan Saputro, psikolog dalam artikel KlikDokter, mengungkapkan alasan sebagian besar orang tidak mampu menjalankan resolusinya. 

Tujuan yang tidak spesifik dan rencana aksi yang samar adalah salah satunya. Masih banyak yang menetapkan tujuan tanpa indikator pencapaian yang konkret, misalnya ingin rajin berolahraga, tetapi tidak menetapkan standar pencapaian dan langkah-langkah untuk mengeksekusinya.

Selain itu, kondisi lingkungan juga mempengaruhi motivasi dalam menjalankan resolusi. Ketiadaan dukungan hanya akan meningkatkan kegagalan saat motivasi sedang kritis.

Ketidaktahuan akan kapasitas diri juga berpengaruh terhadap resolusi. Hal ini menjadi paradoks, karena tanpa refleksi, bisa saja kita impulsif menetapkan banyak resolusi tanpa tujuan, tetapi saat menghadapi kesulitan, kita cenderung akan membandingkan ketidakberuntungan ini dengan proses orang lain. Hasil akhirnya? Merasa insecure dan kecewa dengan diri sendiri.

Lalu, kurangnya kesabaran akibat result-oriented akan menciptakan proses yang instan. Bisa saja suatu tujuan tercapai dengan cepat, tetapi apakah kita benar-benar menikmati prosesnya? Ketidaksabaran juga membuat kita terlena pada ketidakpastian yang berdampak pada masalah mental.

Selain faktor di atas, kurangnya disiplin, fleksibilitas, dan ketidakmampuan menyikapi kegagalan menjadi alasan mengapa resolusi gagal. Penundaan terus-menerus, ketidakmampuan beradaptasi, dan ekspektasi yang besar akan menciptakan tekanan untuk menjalankan resolusi. Lalu bagaimana cara menjalankan resolusi di tahun 2026?

baca juga

Tips Menyusun Resolusi di Tahun 2026

1. Mulailah dari Refleksi

Merenung adalah koentji!. Yup, Merenung adalah proses untuk memahami kapasitas diri untuk melihat dan mengukur apa saja yang telah dilalui dan sejauh mana kemampuan diri untuk mengemban kebiasaan baru. Namun, kunci dari refleksi adalah kesadaran, agar saat merenung usai, kita telah menentukan prioritas apa yang perlu dilakukan di tahun berikutnya.

2. Tentukan Nilai Hidup

Menciptakan resolusi bukan hanya perihal kebiasaan, melainkan kepribadian apa yang ingin dibentuk pada masa yang akan datang. Kawan bisa saja ingin rajin olahraga, tetapi alasan mengapa olahraga itu penting perlu sejalan dengan tujuan kesehatan yang ingin dicapai.

Jadi, sebelum menentukan resolusinya, usahakan untuk menentukan nilai filosofis yang mendasarinya, agar saat motivasi menurun, kita teringat akan pribadi yang ingin dibentuk pada masa yang akan datang.

3. Tentukan Goals

Setelah menentukan nilai, cobalah menyusun tujuan yang perlu dicapai untuk menghidupi nilai tersebut. Jika ingin sehat, tentunya Kawan perlu menetapkan berbagai kebiasaan untuk mencapainya, seperti berolahraga, makan real food, hingga mengurangi minuman manis.

Agar menurunkan resiko gagal, Kawan cukup 2-3 goals utama yang ingin dicapai beserta rencana aksi dan langkah-langkah kecil yang perlu dilakukan, baik dalam jangka pendek, menengah, hingga panjang.

4. Buatlah Lebih Spesifik Lewat Metode SMART

Saat menentukan target, di sinilah metode SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-Bound) dibutuhkan agar setiap tujuan jadi lebih spesifik. Dalam metode SMART, setiap goals perlu dibuat sejelas mungkin agar otak mampu memetakannya dengan baik, misalnya berjalan kaki di pagi hari.

Setelah menentukan waktu dan kebiasaannya, Kawan perlu menetapkan indikator pencapaiannya, misalnya berjalan kaki di pagi hari selama 30 menit. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan sense of achievement yang dapat meningkatkan motivasi.

Selanjutya, Kawan perlu mengukur kemampuan diri untuk mencapai target yang telah ditetapkan. Apakah berjalan kaki selama 30 menit mampu dicapai saat tubuh belum terbiasa berolahraga dalam jangka waktu lama? Alih-alih menetapkan angka yang besar, Kawan bisa fokus pada langkah kecil agar konsisten.

Lalu, relevansi target dengan nilai hidup juga perlu agar kita bisa menjaga motivasi internal tetap berjalan. Daripada memilih olahraga sebagai tren yang perlu diikuti, carilah relevansi antara olahraga dengan kebiasaan sehat yang mampu meningkatkan kekuatan kita pada usia senja. Hal ini akan menurunkan resiko kegagalan karena melihat kebiasaan sebagai bagian dari diri.

Timeline menjadi langkah terakhir untuk menyusun resolusi, agar dalam setiap tujuan ada sense of urgency yang bisa mencegah penundaan. Alur yang jelas untuk mencapai tujuan akan membuat Kawan jauh lebih konsisten atas resolusi telah ditetapkan.

5. Temukan Teman Bertumbuh!

Menemukan support system untuk mencapai resolusi sama pentingnya dengan perencanaan. Tujuannya sederhana, agar saat motivasi hilang, Kawan punya tempat untuk kembali me-recharge energi dan menyusun kembali tujuan agar sesuai dengan arah yang ditetapkan. Adanya teman bertumbuh juga membuat Kawanmerasa tidak sendiri dalam memperjuangkan perubahan di dalam hidup.

6. Jangan Lupa Abadikan Setiap Perubahan

Mengambil dokumentasi dari proses bertumbuh nyatanya bisa membuat perjuangan jauh lebih bermakna. Mungkin hal ini terlihat biasa-biasa saja, tetapi saat melihat kembali setiap perubahan, Kawan akan melihat betapa jauh langkah dan perjuangan yang telah dilakukan hingga hari ini.

7. Bagaimana Jika Gagal? Lakukan Kembali!

Lalu, bagaimana jika resolusi gagal setelah 2-3 bulan? Apakah itu artinya kita memang tidak mampu membuat resolusi? 

Tidak sama sekali. Tidak perlu menghapus semua resolusi yang ditetapkan. Tidak perlu merasa jika kita akan stuck selamanya. Bisa jadi, kegagalan ini adalah pertanda bagi kita untuk mengambil jeda sejenak dan menyusun bagian-bagian yang memang perlu diperbaiki.

Agar saat mental kembali siap, kita bisa kembali memulai lewat cara-cara yang jauh lebih matang, karena memulai tak pernah mengenal kata terlambat dan gagal tidak pernah menghalangi hidup untuk dijalani kembali.

Namun lebih dari itu, Kawan perlu memahami jika kita adalah manusia yang memerlukan ruang kegagalan untuk bertumbuh, sehingga saat kita keliru, kita tidak sedang salah arah, melainkan pertanda jika kita telah berani untuk melangkah menuju perubahan yang layak diperjuangkan. Selamat bertumbuh dan memaknai setiap prosesnya!

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

NF
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.