Lingkungan hidup tempat manusia beraktivitas sangat rentan mengalami pencemaran, yang mana umumnya berasal dari residu kegiatan produksi maupun konsumsi yang tidak dikelola dengan baik.
Jika dibiarkan berlangsung terus-menerus, pencemaran dapat berkembang menjadi kerusakan lingkungan yang ditandai dengan menurunnya kualitas tanah, air, dan udara.
Dalam kehidupan sehari-hari, kerusakan lingkungan sering kali tidak disadari karena berasal dari aktivitas yang dianggap sepele. Sampah rumah tangga, air bekas mencuci, asap kendaraan, hingga penggunaan bahan kimia pertanian berlebih dapat menjadi sumber pencemaran serius.
Oleh karena itu, penting untuk memahami contoh-contoh kerusakan lingkungan yang kerap terjadi di sekitar masyarakat agar dapat mendorong upaya penanganan yang lebih efektif.
Berikut 5 contoh kerusakan lingkungan di sekitar kita beserta penyebab dan upaya pelestariannya!
- Pembuangan Air Sisa Aktivitas Rumah Tangga ke Lingkungan
Air sisa aktivitas rumah tangga seperti mencuci pakaian, peralatan dapur, dan mandi sering kali langsung dialirkan ke selokan atau sungai tanpa pengolahan. Padahal, air limbah ini mengandung deterjen, sabun, lemak, serta bahan kimia lain yang bersifat toksik bagi organisme perairan.
Pembuangan limbah cair secara sembarangan dapat menurunkan kualitas air, memicu bau tidak sedap, serta mengganggu keseimbangan ekosistem perairan.
Dalam jangka panjang, pencemaran ini juga berisiko mencemari air tanah yang dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari.
Upaya pelestarian yang dapat dilakukan antara lain dengan menerapkan sistem pembuangan limbah cair terpadu, penggunaan bahan pembersih ramah lingkungan, serta penyediaan sistem filtrasi atau pengolahan limbah sederhana sebelum air dibuang ke lingkungan.
- Aliran Irigasi Sawah yang Mengandung Pestisida
Di wilayah pertanian, pencemaran air kerap berasal dari aliran irigasi sawah yang mengandung residu pestisida. Pestisida yang disemprotkan secara berlebihan dapat larut bersama air hujan dan masuk ke saluran irigasi, kemudian mengalir ke sungai atau badan air lainnya.
Masuknya bahan kimia ini ke perairan dapat meracuni organisme akuatik dan mengganggu rantai makanan.
Selain itu, kandungan nutrien berlebih dari pupuk dan pestisida juga berpotensi menyebabkan eutrofikasi, yaitu kondisi perairan kaya nutrisi yang memicu ledakan pertumbuhan alga (algal blooming) dan menurunkan kadar oksigen terlarut.
Upaya pelestarian dapat dilakukan dengan menggunakan pestisida sesuai dosis anjuran, beralih ke pestisida berbahan alami, serta mengatur sistem irigasi agar aliran air limbah pertanian tidak langsung mencemari ekosistem perairan alami.
- Polusi Asap Kendaraan Bermotor
Kendaraan bermotor berbahan bakar fosil menjadi salah satu penyumbang utama pencemaran udara di kawasan perkotaan. Emisi gas buang seperti karbon monoksida, nitrogen oksida, dan partikel halus mencemari udara yang seharusnya bersih dan aman untuk dihirup.
Paparan polusi udara dalam jangka panjang dapat berdampak buruk bagi kesehatan manusia, mulai dari gangguan pernapasan hingga penyakit kardiovaskular. Selain itu, emisi kendaraan juga berkontribusi terhadap pemanasan global dan perubahan iklim.
Upaya pelestarian yang dapat ditempuh antara lain dengan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, beralih ke transportasi umum, menggunakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, serta mendorong penggunaan kendaraan listrik.
- Pembakaran Sampah Rumah Tangga di Permukiman
Praktik pembakaran sampah rumah tangga masih sering dijumpai di lingkungan permukiman, meskipun telah diketahui berbahaya. Sampah yang dibakar biasanya merupakan campuran berbagai jenis material, termasuk plastik, yang saat dibakar menghasilkan gas beracun.
Asap hasil pembakaran mengandung zat berbahaya yang dapat mengganggu kesehatan, menyebabkan iritasi saluran pernapasan, serta menurunkan kualitas udara di sekitar permukiman. Selain itu, pembakaran terbuka juga mencemari lingkungan dan mengurangi kenyamanan hidup masyarakat.
Upaya pelestarian yang dapat dilakukan adalah dengan menghindari pembakaran sampah, menerapkan pengelolaan sampah berbasis pemilahan, serta menggunakan sistem pengolahan seperti insinerator tertutup yang lebih aman dan terkontrol.
- Penumpukan Sampah di Lahan Produktif
Penumpukan sampah di lahan terbuka atau lahan produktif, seperti keberadaan tempat pembuangan sampah (TPS) ilegal, menjadi contoh pencemaran tanah yang sering terjadi. Sampah yang menumpuk dalam waktu lama dapat menimbulkan bau tidak sedap, mencemari tanah, dan menarik vektor penyakit.
Sampah plastik yang sulit terurai juga dapat mengganggu struktur tanah dan menurunkan kemampuan tanah dalam mendukung aktivitas biologis. Jika dibiarkan, kondisi ini akan merusak fungsi lahan dan lingkungan sekitarnya.
Upaya pelestarian meliputi penertiban TPS ilegal, edukasi masyarakat tentang pemilahan dan pengurangan sampah, serta pengembangan sistem pengolahan sampah yang lebih modern untuk mencegah penumpukan di lahan terbuka.
Berbagai contoh kerusakan lingkungan di atas menunjukkan bahwa pencemaran tidak selalu berasal dari aktivitas industri besar, melainkan juga dari kebiasaan sehari-hari masyarakat.
Dengan memahami penyebab dan dampaknya, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif untuk menerapkan upaya pelestarian lingkungan demi menjaga kualitas hidup dan keberlanjutan ekosistem di masa depan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


