unreal milk ketika segelas susu tak lagi memerlukan sapi - News | Good News From Indonesia 2026

UnReal Milk: Ketika Segelas Susu Tak Lagi Memerlukan Sapi

UnReal Milk: Ketika Segelas Susu Tak Lagi Memerlukan Sapi
images info

UnReal Milk: Ketika Segelas Susu Tak Lagi Memerlukan Sapi


Selama berabad-abad, susu selalu memiliki cerita yang sama. Ia berasal dari ternak perah seperti sapi yang diperah setiap hari, lalu mengalir ke meja makan manusia sebagai simbol gizi, alam, dan kerja keras peternak.

Kita terbiasa mengaitkan susu dengan bau kandang, rumput hijau, dan sapi perah yang menjadi bagian dari kehidupan pedesaan. Namun di tahun 2025, cerita itu mulai bergeser. Brown Foods, sebuah startup berbasis di Boston, memperkenalkan UnReal Milk, susu sapi utuh yang diproduksi tanpa melibatkan sapi hidup sama sekali.

Kabar ini pertama kali dilaporkan oleh Daphne Ewing-Chow dalam Forbes (2025) dan langsung mengundang perbincangan luas. Bukan hanya karena teknologinya, tetapi karena ide di baliknya: apakah susu masih bisa disebut “susu sapi” jika tidak pernah keluar dari tubuh sapi?

UnReal Milk bukan susu nabati seperti kedelai, oat, atau almond. Ia juga bukan sekadar minuman pengganti susu. Produk ini dibuat menggunakan kultur sel mamalia, yaitu menumbuhkan sel-sel penghasil susu di laboratorium hingga mampu menghasilkan cairan dengan komposisi biologis yang sama seperti susu sapi alami. Protein, lemak, dan karbohidratnya bukan tiruan, melainkan molekul yang secara struktur dan fungsi setara dengan susu konvensional.

Proses ini berlangsung di dalam bioreaktor, ruang tertutup yang memungkinkan sel tumbuh dalam kondisi sangat terkontrol. Suhu, nutrisi, dan lingkungan kimia diatur agar sel bekerja optimal, seolah-olah masih berada di dalam tubuh sapi.

Brown Foods juga menggunakan kecerdasan buatan untuk meningkatkan efisiensi dan menjaga konsistensi kualitas. Namun bagi konsumen, yang terasa bukanlah teknologinya, melainkan hasil akhirnya: susu yang secara rasa, fungsi, dan sifat pengolahan nyaris tak bisa dibedakan dari susu biasa.

Keunggulan UnReal Milk menjadi semakin jelas ketika masuk ke tahap pengolahan. Karena kandungan nutrisinya lengkap, susu ini dapat diolah menjadi mentega, keju, yogurt, hingga es krim tanpa perlu bahan tambahan atau rekayasa tekstur.

Bagi industri pangan, ini adalah poin krusial. Banyak alternatif susu gagal diterima luas bukan karena rasanya, tetapi karena tidak “berperilaku” seperti susu saat diproses. UnReal Milk justru menjawab masalah itu.

Namun daya tarik terbesarnya bukan hanya pada fungsi, melainkan pada dampaknya. Brown Foods mengklaim bahwa produksi UnReal Milk mampu mengurangi emisi karbon hingga lebih dari 80 persen, penggunaan air hingga 90 persen, dan kebutuhan lahan hingga 95 persen dibandingkan peternakan sapi perah konvensional.

Yang paling signifikan, tidak adanya sapi berarti tidak ada emisi metana, gas rumah kaca yang selama ini menjadi sorotan utama dalam isu lingkungan peternakan.

Dari sisi ilmiah, klaim tersebut tidak berdiri sendiri. Forbes melaporkan bahwa pengujian independen oleh Whitehead Institute for Biomedical Research, lembaga yang berafiliasi dengan MIT, menunjukkan bahwa struktur protein dan lemak UnReal Milk sangat mirip dengan susu sapi alami. Profesor Teknik Kimia MIT, Dr. Richard Braatz, bahkan menyebut teknologi ini sebagai terobosan ilmiah dan teknologi yang signifikan.

Saat ini, UnReal Milk masih berada dalam tahap pengembangan menuju komersialisasi. Tantangan regulasi, penerimaan konsumen, dan skala produksi masih harus dihadapi. Namun jika seluruh proses ini berhasil dilalui, dunia mungkin akan menyaksikan perubahan besar: susu sapi yang diproduksi tanpa sapi.

Lebih jauh lagi, para pendiri Brown Foods tidak memandang teknologi ini hanya sebagai solusi industri susu. Mereka membayangkan sistem ini dapat digunakan untuk menghasilkan susu dari berbagai mamalia, bahkan untuk kebutuhan di wilayah ekstrem, daerah terdampak bencana, kawasan terpencil, hingga misi luar angkasa. Dalam konteks ini, UnReal Milk bukan sekadar produk, melainkan simbol perubahan cara manusia memandang pangan.

Mungkin di masa depan, segelas susu tidak lagi mengingatkan kita pada kandang sapi, melainkan pada pertanyaan yang lebih besar: sejauh mana teknologi akan mengubah hubungan kita dengan alam, hewan, dan makanan yang kita konsumsi setiap hari.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AN
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.