Masa perundagian merupakan salah satu fase penting dalam perkembangan masyarakat prasejarah di Indonesia.
Pada masa ini, manusia telah mengenal pembagian kerja yang lebih teratur serta memiliki keahlian khusus, terutama dalam pengolahan logam seperti perunggu dan besi.
Kata perundagian berasal dari kata dasar undagi dari bahasa Bali, yang memiliki arti golongan masyarakat yang mempunyai kepandaian atau keterampilan jenis usaha tertentu.
Masa Perundagian menandai berakhirnya zaman Prasejarah atau Praaksara, yang diperkirakan sekitar 500 tahun sebelum Masehi.
Lantas, bagaimana perkembangan seni dan sistem kepercayaan pada masa perundagian? Simak sampai habis, ya!
Perkembangan Seni pada Masa Perundagian
Perkembangan seni pada masa perundagian tidak dapat dilepaskan dari kemajuan teknologi dan struktur sosial masyarakatnya. Seni bukan hanya menjadi sarana ekspresi, tetapi juga berhubugan dengan ritual, status sosial, dan kepercayaan.
1. Seni Logam sebagai Ciri Utama
Salah satu pencapaian terbesar masa perundagian adalah kemampuan mengolah logam, khususnya perunggu.
Benda-benda logam seperti nekara, kapak corong, bejana perunggu, hingga perhiasan menunjukkan bahwa seni pada masa ini telah berkembang.
Ragam hias yang terukir pada benda-benda tersebut menandakan adanya nilai seni yang kuat, bukan sekadar fungsi praktis.
2. Nekara sebagai Karya Seni dan Simbol Sosial
Nekara merupakan salah satu artefak paling menonjol dari masa perundagian. Benda berbentuk genderang besar dari perunggu ini sering dihiasi motif geometris, gambar manusia, hewan, dan pola alam.
Selain sebagai alat musik atau upacara, nekara juga berfungsi sebagai simbol status sosial. Semakin besar dan rumit hiasannya, semakin tinggi pula kedudukan pemiliknya.
Hal ini menunjukkan bahwa seni pada masa perundagian telah menjadi penanda stratifikasi sosial.
3. Ragam Hias dan Simbolisme
Motif hias pada benda seni masa perundagian tidak dibuat secara sembarangan. Pola spiral, garis sejajar, dan bentuk geometris dipercaya memiliki makna simbolik, seperti perlambang kesuburan, kekuatan alam, atau hubungan dengan dunia roh.
Keberadaan simbol-simbol ini menegaskan bahwa seni pada masa perundagian tidak hanya berorientasi pada keindahan visual, tetapi juga sarat dengan makna spiritual dan kosmologis.
4. Seni sebagai Bagian dari Kehidupan Ritual
Banyak karya seni masa perundagian digunakan dalam konteks upacara adat dan keagamaan. Kapak perunggu, misalnya, tidak selalu dipakai untuk bekerja, tetapi sering dijadikan benda persembahan atau simbol kekuasaan.
Hal ini memperlihatkan bahwa seni telah menjadi bagian integral dari sistem kepercayaan dan kehidupan ritual masyarakat perundagian.
5. Spesialisasi Pengrajin Seni
Para pengrajin logam dan seniman memiliki posisi penting karena keahlian mereka tidak dimiliki oleh semua orang.
Keberadaan kelompok ini mempercepat perkembangan seni, sebab keterampilan diwariskan dan dikembangkan secara turun-temurun, menghasilkan karya yang semakin kompleks dan bernilai tinggi.
Perkembangan Sistem Kepercayaan pada Masa Perundagian
Selain seni, masa perundagian juga ditandai oleh perkembangan sistem kepercayaan yang semakin terstruktur.
Kepercayaan masyarakat tidak lagi bersifat sederhana, melainkan telah memiliki konsep spiritual yang mendalam.
1. Pemujaan terhadap Nenek Moyang
Salah satu ciri utama sistem kepercayaan pada masa perundagian adalah pemujaan terhadap roh nenek moyang.
Masyarakat percaya bahwa arwah leluhur tetap memiliki pengaruh terhadap kehidupan orang yang masih hidup.
Kepercayaan ini mendorong munculnya berbagai ritus dan upacara yang bertujuan untuk menghormati, menenangkan, atau meminta perlindungan dari roh nenek moyang.
2. Tradisi Megalitik yang Berkelanjutan
Meskipun masa perundagian dikenal dengan teknologi logam, tradisi megalitik tetap berlanjut. Bangunan batu besar seperti menhir, dolmen, sarkofagus, dan punden berundak masih digunakan sebagai sarana pemujaan dan penguburan.
Keberlanjutan tradisi ini menunjukkan bahwa sistem kepercayaan masyarakat bersifat akumulatif, tidak serta-merta meninggalkan tradisi lama meskipun teknologi baru berkembang.
3. Kepercayaan Animisme dan Dinamisme
Animisme dan dinamisme tetap menjadi dasar sistem kepercayaan pada masa perundagian. Alam dianggap memiliki roh atau kekuatan gaib yang harus dihormati agar kehidupan berjalan seimbang.
Gunung, sungai, pohon besar, dan benda tertentu dipercaya berkekuatan spiritual. Oleh karena itu, banyak benda seni dan artefak ritual dibuat untuk menjembatani hubungan manusia dengan kekuatan tersebut.
4. Peran Pemimpin Ritual dan Tokoh Spiritual
Dalam masyarakat perundagian, muncul tokoh-tokoh yang berperan sebagai pemimpin ritual atau pemuka spiritual.
Mereka dipercaya berkemampuan berkomunikasi dengan dunia roh dan memimpin upacara adat.
Peran ini semakin memperkuat struktur sosial, karena tidak semua orang dapat menjalankan fungsi keagamaan tersebut. Sistem kepercayaan pun menjadi lebih terorganisasi dan terpusat.
5. Seni sebagai Media Kepercayaan
Seni dan kepercayaan pada masa perundagian memiliki hubungan yang sangat erat. Banyak karya seni dibuat khusus untuk kepentingan religius, seperti nekara yang digunakan dalam upacara pemanggilan hujan atau ritual kesuburan.
Dengan demikian, seni tidak hanya mencerminkan estetika, tetapi juga menjadi media ekspresi kepercayaan dan sarana komunikasi dengan dunia supranatural.
Melalui seni dan kepercayaan, masyarakat pada masa perundagian tidak hanya memenuhi kebutuhan, tetapi juga membangun identitas budaya dan spiritual yang menjadi fondasi bagi perkembangan peradaban selanjutnya di Nusantara.
Itulah informasi mengenai seni dan kepercayaan pada masa perundagian, semoga bisa bermanfaat dan menambah wawasan untuk Kawan GNFI tentang sejarah Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


