Aroma bunga dibalut asap dupa wangi serta lentingan genta pendeta Hindu mungkin suatu hal yang langka ditemui jika berada di luar pulau dewata Bali. Kali ini, perjalanan duniawi membawa langkah ini ke Kota Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Salah satu tempat di Indonesia yang dikenal toleran dari sisi kehidupan didalam keragaman suku, ras, dan agama.
Kota Tondano adalah pusat pemerintahan Kabupaten Minahasa, salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara yang diambil dari nama suku bangsa mayoritas di daerah tersebut.
Mungkin banyak orang yang masih kurang fasih dengan keberadaan kota ini, karena memang pamornya masih kalah dibandingkan dengan Kota Manado dan Kota Tomohon.
Namun, menurut sejarah lokal, Kota Tondano adalah pusat peradaban budaya pertama di Sulawesi Utara terutama pada masyarakat suku bangsa Minahasa.
Pada dialog kali ini, pembahasan tertuju pada suatu bentuk keragaman dan aliran toleransi di Kota Tondano, di mana sekelompok orang, sepercik air suci tirta, serangkai sesajen bunga dan buah, serta segenggam dupa yang bernafaskan Hindu hidup damai ditengah riak multikulturalisme.
Ya... satu-satunya pusat peradaban Hindu Bali di Kota Tondano Minahasa yaitu Pura Danu Mandara. Pura ini terletak sekitar 5 km dari pusat Kota Tondano, dan sekitar 25 km dari Kota Manado.
Kondisi geografisnya cukup jauh dari pusat keramaian urban dan dikelilingi hamparan sawah, padang rumput, serta bukit igir hasil denudasi vulkanik kaldera Tondano.
Awal menginjakkan kaki di Pura Danu Mandara, energi atmosfer Bali cukup terasa. Arsitektur Pura Danu Mandara linier dengan keadaan fisik artistektur pura di Bali secara generik.
Ukiran hingga tata letak pura serta bangunan suci di dalam Pura Danu Mandara juga berperspektif sama dengan yang ada di Bali, yakni Asta Kosala Kosali.
Maklum, karena katanya arsitek dan pengeksekusi bangunan pura merupakan masyarakat asli Bali yang sudah lama bermukim di tanah transmigrasi Sulawesi Utara, walaupun beberapa juga ada yang memang didatangkan khusus langsung dari Bali.
Secara umum kenampakan fisik dari Pura Danu Mandara selayaknya pura umat Hindu Bali pada umumnya. Setidaknya bagi para perantau yang rindu suasana Bali, pura ini bisa menjadi tempat ibadah sekaligus menenangkan diri ditengah kerinduan akan pelukan ibu pertiwi Bali.
Umat Hindu dan pengempon Pura Danu Mandara bisa dikatakan tidak begitu banyak alias sedikit. Bahkan terkadang keberadaan umat Hindu di negeri seribu gereja ini terasa sangat minoritas.
Untungnya lingkungan sosial tidak menunjukkan taring kemayoritasannya, sehingga kehidupan sosial multikultural dapat berjalan dengan aman dan damai.
Kebanyakan dari mereka umat Hindu Bali di Pura Danu Mandara adalah mahasiswa yang sedang studi di beberapa perguruan tinggi yang ada di sekitar Kabupaten Minahasa dan Kota Tomohon.
Umat Hindu dan pengempon Pura Danu Mandara merupakan penduduk transmigran asal Bali yang masih mempertahankan adat dan budaya Hindu Bali.
Jadi, tidak terpungkiri budaya Hindu Bali masih terasa kuat di Pura Danu Mandara meskipun ada beberapa aspek yang berbeda dan mengalami akulturasi dan asimilasi. Mulai dari sistem kepercayaan, bentuk sarana dan prasarana ritual, prosesi ritual, bahkan hingga penggunaan bahasa Bali secara informal masih cukup sering terdengar di kalangan umat Hindu yang bersembahyang di Pura Danu Mandara.
Keunikan Lingkungan Sosial Umat Hindu Bali di Sekitar Pura Danu Mandara
Terdapat beberapa hal unik yang ditemukan saat berada di lingkungan sosial umat Hindu Bali dengan berlatar di Pura Danu Mandara, Tondano.
Pertama, bahasa pengantar. Biasanya umat Hindu Bali memang identik dengan penggunaan bahasa Bali saat melaksanakan ritual, terutama sebagai pengantar sosialisasi oleh dan kepada umat.
Hal tersebut jarang terjadi di Pura Danu Mandara, pemangku atau pendeta Hindu dan umat yang datang (pemedek)lebih sering menggunakan bahasa Indonesia.
Fakta tersebut mungkin awalnya akan terasa sedikit ganjil dan kurang terbiasa didengar bagi umat Hindu yang baru pertama kali keluar dari zona ke-Bali-an.
Kedua, kesederhanaan ritual. Masyarakat Hindu Bali di Tondano secara umum atau sering melaksanakan ritual keagamaan di Pura Danu Mandara dengan sarana dan prasarana yang tergolong alit atau sederhana.
Selain itu, pelaksanaan ibadah dan persembahyangan juga tidak sekompleks Hindu di Bali. Tentunya fakta tersebut bertautan linier dengan biaya dan tenaga yang dimiliki umat, dan prosesi (upakara) semacam itu adalah suatu dharma dalam ajaran Hindu, di mana disebutkan bahwa ber-yajna harus berlandaskan ketulusan sesuai kemampuan masing-masing.
Konsep penting yang bisa dipetik sebagai refleksi dari masyarakat Hindu di Pura Danu Mandara adalah haturkanlah yang ada dan bisa dijangkau, bukan memaksakan supaya ada.
Ketiga, kesederhanaan umat. Ketika datang beribadah atau bersembahyang di Pura Danu Mandara, suasana atau vibes Bali tahun 1990-an hingga 2000 masih cukup terasa. Penampilan sebagian besar umat Hindu yang bersembahyang ke pura masih tergolong sederhana, dengan kain atau kamen khas Bali model vintage yang dikenakan dengan sopan dan rapi.
Pola interaksi juga masih menunjukkan adanya ideologi paguyuban yang masih mereka anut. Bahkan, beberapa dari mereka menyatakan bahwa sistem paguyuban harus tetap dipertahankan terutama bagi mereka yang telah hidup dan berkembang di tanah transmigran.
Karena ideologi paguyuban dengan solidaritas mekanik itulah yang menjadi tempat mereka untuk pulang ke rumah yang menerima keadaan mereka tanpa diskriminasi.
Di balik hal unik yang terangkan tersebut, tersirat juga kekurangan yang dapat dijadikan refleksi oleh umat Hindu di manapun berada, bahkan hingga pemangku kebijakan keagamaan terutama PHDI dan Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama.
Pertama, kekurangan narasumber dan pendeta Hindu yang dapat memberikan pengetahuan lebih lagi mengenai ajaran Hindu di seluruh nusantara secara adil dan merata.
Sangat jarang ditemui adanya siraman rohani atau dakwah (dharma wacana) yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ke-Hindu-an bagi umat yang sering beribadah khususnya di Pura Danu Mandara.
Kedua, keterbatasan dana sering menjadi temuan klasik dan mendasar yang menjadi penghambat terutama saat pelaksanaan yajna atau ritual serta untuk pemeliharaan fisik, khususnya Pura Danu Mandara.
Hal ini diharapkan menjadi suatu refleksi untuk mengubah kebijaksanaan pemerintah terkait hal tersebut, mengingat Pura Danu Mandara adalah satu-satunya "nafas" Hindu di Kabupaten Minahasa. Jangan sampai "nafas" itu memudar bahkan hilang hanya karena uang.
Pura Danu Mandara dengan segala bentuk realitas sosioreligi di dalamnya memang memiliki energi kewibawaan atau taksu-nya sendiri. Sikap membeda-bedakan dan membanding-bandingkan tidak selayaknya terniscayakan di tempat suci ini. Hingga pada akhirnya Pura Danu Mandara diharapkan tetap berdiri kokoh dan fungsional. DiĀ tengah gempuran kekurangan yang diangankan dapat segera terselesaikan.
Kisah Pura Danu Mandara ini kiranya juga dapat memberikan pembelajaran bahwa agama Hindu tidak perlu kemeriahan yang berlebihan. Kesederhanaan dalam kesunyian dan ketulusan adalah suatu modal utama untuk bangkit sebagai umat Hindu yang moderat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


