Tidak semua perubahan dimulai dari pusat. Sebagian justru bergerak dari pinggiran, berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain, membawa semangat yang sama berbagi dengan tulus dan berkelanjutan. Dari Pulau Jawa hingga Sumatra, kepedulian itu terus dirawat lewat langkah-langkah kecil yang konsisten.
Kepedulian sering kali lahir bukan dari tempat yang gemerlap, melainkan dari ruang-ruang sederhana tempat kehidupan berjalan apa adanya. Dari lorong sempit, rumah-rumah kecil, hingga sudut-sudut wilayah yang jarang disapa kebijakan. Justru dari sanalah gerakan berbagi menemukan maknanya tumbuh pelan, dijaga konsisten, dan bergerak melintasi batas wilayah.
Awal tahun 2026 menjadi momentum penting bagi Ikatan Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Jakarta (IKALUM FKM UMJ). Program Sedekah Beras yang selama ini berjalan dengan senyap tetapi berdampak nyata kembali dilanjutkan. Kali ini dengan semangat yang lebih luas, lebih bermakna, dan melibatkan lebih banyak pihak.
Gerakan ini tidak hanya hidup di Jakarta. Jaringan alumni FKM UMJ membawa semangat yang sama ke berbagai wilayah, mulai dari Pulau Jawa hingga Sumatra, dengan Lampung sebagai salah satu titik penguatan gerakan. Setiap wilayah memiliki cerita dan tantangan sosialnya sendiri, namun satu hal yang menyatukan semuanya adalah kebutuhan akan kehadiran yang tulus dan berkelanjutan.
Sedekah Beras IKALUM FKM UMJ secara konsisten dilaksanakan setiap hari Jumat. Hari yang kerap dimaknai sebagai waktu terbaik untuk berbagi, memperbaiki relasi antarmanusia, dan menumbuhkan kepedulian sosial. Setiap Jumat, para relawan hadir menyusuri lingkungan padat penduduk, menyapa buruh harian, lansia sebatang kara, pemulung, hingga keluarga prasejahtera yang sering kali luput dari data formal.
Bantuan yang disalurkan bukan sekadar beras atau kebutuhan pokok. Kehadiran para relawan membawa pesan yang lebih dalam: bahwa setiap kehidupan memiliki nilai, keterbatasan tidak membuat seseorang kehilangan martabat, dan solidaritas masih hidup di tengah masyarakat.
Kekuatan utama gerakan ini terletak pada konsistensi, bukan kemegahan. Donasi yang terkumpul berasal dari niat baik banyak orang, dikumpulkan secara rutin, lalu disalurkan langsung tanpa jarak. Pendekatan ini membuat Sedekah Beras mampu bertahan dan terus bergerak, meski tanpa sorotan besar.
Perluasan gerakan pada tahun 2026 tidak lepas dari peran para donatur. Dukungan yang diberikan menjadi bahan bakar penting agar Sedekah Beras bisa menjangkau lebih banyak wilayah dan lebih banyak penerima manfaat. Setiap kontribusi, sekecil apa pun, menjadi bagian dari rantai kebaikan yang terus mengalir.
Bagi para alumni FKM UMJ, kegiatan ini juga menjadi ruang belajar yang nyata. Nilai-nilai kesehatan masyarakat, empati sosial, dan keadilan tidak berhenti sebagai teori, melainkan diwujudkan langsung melalui interaksi dengan masyarakat. Relasi yang terbangun menghadirkan pemahaman bahwa perubahan sosial tidak selalu harus menunggu kebijakan besar, tetapi bisa dimulai dari keberanian untuk hadir.
Sedekah Beras IKALUM FKM UMJ membuka ruang bagi siapa saja yang ingin ikut terlibat dalam gerakan kebaikan ini. Setiap Jumat menjadi pengingat bahwa kepedulian tidak pernah mengenal batas wilayah baik di Pulau Jawa maupun Sumatra, termasuk Lampung selama ada niat untuk berbagi dan bergerak bersama.
Dari segenggam beras yang dibagikan dengan tulus, harapan terus dirawat. Pelan, konsisten, dan bermakna seperti semangat yang ingin dijaga IKALUM FKM UMJ sepanjang tahun 2026 dan seterusnya.
Cerita tentang berbagi tidak pernah mengenal peta. Ia bisa lahir di kota besar, menyebar ke daerah pinggiran, lalu tumbuh kuat hingga lintas pulau. Semangat itulah yang menjadi napas gerakan Sedekah Beras sebuah ikhtiar sederhana yang hidup dari konsistensi, bukan dari sorotan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


