Menutup akhir tahun, masyarakat Desa Ciadeg, Kecamatan Cigombong memilih cara sederhana namun bermakna dalam menyambut pergantian tahun baru 2026. Alih-alih melakukan perayaan seremonial, refleksi akhir tahun digelar melalui hiburan rakyat dan kegiatan pelestarian budaya yang berangkat dari kehidupan sehari-hari warga.
Kegiatan yang berlangsung di penghujung tahun ini menjadi ruang berkumpul masyarakat sekaligus wadah ekspresi para generasi muda yang tergabung dalam komunitas Benaloe dan sekaligus regenerasi seni tradisi.
Beragam kesenian rakyat ditampilkan, seperti calung, tarawangsa, karinding, tarian rakyat, hingga pencak silat Cimande. Seluruh pertunjukan dihadirkan tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai upaya menjaga keberlanjutan budaya lokal yang mulai tergerus perkembangan zaman.

Penampilan Seni Calung di Desa Ciadeg sambut pergantian tahun | sumber: Dok. Pribadi Belgi Alhuda
Bagi masyarakat Ciadeg, seni tradisi tidak berdiri terpisah dari kehidupan sosial. Musik, tari, dan pencak silat merupakan bagian dari keseharian yang diwariskan secara turun-temurun. Melalui panggung hiburan rakyat ini, warga masyarakat, khususnya generasi muda didorong untuk mengenal, mengapresiasi, dan melanjutkan praktik budaya yang selama ini tumbuh di lingkungannya sendiri.
Nuansa refleksi semakin terasa dengan digelarnya nonton bersama film dokumenter Mulih ka Jati, Mulang ka Asal. Film tersebut mengangkat tema tentang makna “pulang”, tidak hanya secara fisik, tetapi juga pulang pada nilai, alam, dan identitas budaya.
Film tersebut juga merupakan pemenang terbaik satu dalam Festival Film Kabupaten Bogor 2025 dari Kecamatan Cigombong. Melalui film tersebut, masyarakat diajak merenungkan pentingnya menjaga jati diri di tengah arus modernisasi yang kian cepat. Pesan yang disampaikan sederhana namun relevan: pelestarian budaya bukan semata-semata hanya jejak masa lalu atau nostalgia, melainkan investasi sosial untuk masa depan.
Selain dimensi budaya, kegiatan refleksi akhir tahun ini juga memberikan dampak ekonomi bagi warga. Terlibatnya para UMKM lokal yang turut berpartisipasi memeriahkan kegiatan ini dengan menghadirkan produk kuliner tradisional, hasil olahan rumah tangga, serta kerajinan tangan buatan warga desa. Kehadiran UMKM menciptakan perputaran ekonomi skala kecil yang berlangsung secara alami, memperlihatkan bagaimana kegiatan budaya dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi lokal.
Interaksi antara penonton, pelaku seni, dan pelaku usaha menciptakan suasana kebersamaan yang hangat. Tidak ada jarak antara panggung dan penonton, antara penjual dan pembeli. Semua hadir sebagai bagian dari komunitas yang sama, saling mendukung melalui cara-cara sederhana.
Refleksi akhir tahun di Desa Ciadeg menjadi penanda bahwa pembangunan desa tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Dari panggung hiburan rakyat, layar tancap film dokumenter, hingga lapak UMKM sederhana, tumbuh kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga budaya dan kemandirian ekonomi.
Menutup akhir tahun dengan kegiatan berbasis budaya dan kebersamaan menjadi pilihan yang bermakna bagi masyarakat Desa Ciadeg. Komunitas atau simpul kreatif kepemudaan yang tergabung dalam Benaloe telah menorehkan semangat berkarya dalam menghidupi Desa dengan aktivitas kreatif. Mereka menyongsong tahun baru dengan harapan bahwa budaya lokal tetap hidup, ekonomi warga terus bergerak, dan jati diri desa tetap terjaga di tengah perubahan zaman yang semakin modern.
Akan tetapi dengan menjaga seni tradisi, nilai-nilai leluhur, norma dan perilaku, generasi muda siap menyongsong generasi emas sebagai generasi yang membawmembawa semangat sebagai bangsa yang besar, bangsa yang mencintai tanah air, bangsa yang berbudaya. Sehingga dapat mengikuti perkembangan zaman tanpa menghilangkan makna dan jati diri.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


