Gunung Kelimutu yang terletak di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, dikenal luas karena memiliki tiga danau kawah di puncaknya. Ketiga danau tersebut adalah Tiwu Ata Polo, Tiwu Ko’o Fai Nuwamuri, dan Tiwu Ata Mbupu.
Keunikan utama Danau Kelimutu terletak pada warna airnya yang dapat berubah-ubah dalam periode tertentu. Warna danau bisa tampak biru, hijau, cokelat, hingga merah gelap, dan perubahan ini dapat terjadi dalam hitungan minggu, bulan, atau bahkan hari.
Fenomena perubahan warna ini menjadikan Danau Kelimutu berbeda dari danau kawah lainnya di Indonesia. Banyak wisatawan datang dengan rasa ingin tahu karena setiap kunjungan dapat menyajikan pemandangan yang tidak sama.
Namun, di balik daya tarik visual tersebut, terdapat proses ilmiah yang kompleks dan terus diteliti oleh para ahli geologi dan vulkanologi.
Pengaruh Mineral Vulkanik dalam Air Danau
Salah satu faktor utama yang menyebabkan perubahan warna Danau Kelimutu adalah kandungan mineral dalam airnya. Air danau kawah ini mengandung berbagai mineral hasil pelapukan batuan vulkanik, seperti besi, mangan, dan belerang.
Mineral-mineral tersebut larut dalam air dan bereaksi dengan oksigen serta unsur kimia lain di lingkungan sekitarnya.
Reaksi kimia yang terjadi akan memengaruhi warna air. Kandungan besi, misalnya, dapat menghasilkan warna kemerahan atau kecokelatan ketika teroksidasi.
Sementara itu, mangan dan belerang dapat memunculkan warna hijau, kebiruan, atau bahkan gelap. Lembaga antariksa NASA pernah menyebut Danau Kelimutu sebagai “volcanic mood rings” karena warna airnya mencerminkan perubahan kondisi kimia dan aktivitas vulkanik di bawah permukaan.
Peran Gas Vulkanik dari Aktivitas Gunung Api
Gunung Kelimutu masih tergolong gunung api aktif. Gas-gas vulkanik seperti sulfur dioksida dan hidrogen sulfida secara berkala dilepaskan dari aktivitas magmatik di dalam bumi.
Gas-gas ini kemudian naik ke permukaan dan larut ke dalam air danau. Proses tersebut mengubah tingkat keasaman atau pH air danau.
Perubahan pH ini sangat berpengaruh terhadap reaksi kimia mineral di dalam air. Air yang semakin asam atau semakin basa akan menghasilkan warna yang berbeda. Data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mencatat bahwa perubahan warna dapat berlangsung cepat.
Pada Mei 2024, misalnya, warna salah satu danau tercatat berubah dari hijau tua menjadi cokelat kehitaman hanya dalam waktu lima hari. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas gas vulkanik memiliki peran signifikan dalam dinamika warna Danau Kelimutu.
Suhu Air dan Pengaruh Musim
Selain mineral dan gas, suhu air juga memengaruhi perubahan warna danau. Ketika suhu air meningkat, endapan mineral di dasar danau dapat terangkat ke permukaan. Pergerakan mineral ini mengubah komposisi air dan berdampak pada warna yang terlihat dari permukaan.
Faktor cuaca dan musim turut berperan dalam proses tersebut. Pada musim hujan, volume air danau bertambah sehingga konsentrasi mineral menjadi lebih rendah dan warna air tampak lebih cerah.
Sebaliknya, pada musim kemarau, penguapan meningkatkan konsentrasi mineral sehingga warna danau terlihat lebih gelap.
Penelitian internasional yang dipublikasikan dalam Bulletin of Volcanology pada tahun 2017 mencatat bahwa perubahan suhu, curah hujan, dan gas vulkanik saling berkaitan dalam menentukan warna danau selama hampir tiga dekade pengamatan.
Diyakini Berkaitan dengan Peristiwa Besar
Di luar penjelasan ilmiah, Danau Kelimutu juga memiliki makna budaya yang kuat bagi masyarakat adat Lio. Pemerhati budaya Flores, Mustafa Chaidir, menyatakan bahwa perubahan warna danau tidak hanya dipandang sebagai fenomena alam, tetapi juga sebagai pertanda tertentu.
Seperti dikutip dari TIMES Indonesia, masyarakat setempat percaya bahwa perubahan warna dapat berkaitan dengan peristiwa besar, termasuk bencana alam.
Mustafa mengungkapkan bahwa sebelum gempa besar Flores pada tahun 1992, masyarakat mencatat adanya perubahan warna Danau Kelimutu.
Meski secara ilmiah perubahan warna dipengaruhi aktivitas vulkanik dan reaksi kimia, kepercayaan tersebut tetap hidup dan diwariskan secara turun-temurun. Masyarakat sering menggelar ritual adat sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan doa agar terhindar dari bencana.
Karakteristik Tiga Danau Kelimutu
Setiap danau di Kelimutu memiliki karakteristik kimia yang berbeda. Tiwu Ko’o Fai Nuwamuri sering dijadikan indikator aktivitas vulkanik karena warna airnya relatif sering berubah.
Tiwu Ata Mbupu merupakan danau sulfat-asam yang pada dekade 1970-an tercatat lebih aktif dibandingkan saat ini. Sementara itu, Tiwu Ata Polo dikategorikan sebagai danau asam-garam dengan tingkat aktivitas vulkanik menengah.
Perbedaan kandungan kimia inilah yang menyebabkan warna ketiga danau tidak pernah sama. Gunung Kelimutu yang berada dalam kawasan Taman Nasional Kelimutu seluas 5.365,5 hektare tidak hanya menyimpan fenomena geologi yang penting, tetapi juga menjadi pusat keanekaragaman hayati dan budaya.
Kombinasi antara proses alam dan nilai budaya menjadikan Danau Kelimutu sebagai salah satu kawasan alam paling unik di Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


