macan tutul pernah masuk ke jalanan kota bandung hingga bikin geger warga - News | Good News From Indonesia 2025

Macan Tutul Pernah Masuk ke Jalanan Kota Bandung, hingga Bikin Geger Warga

Macan Tutul Pernah Masuk ke Jalanan Kota Bandung, hingga Bikin Geger Warga
images info

Macan Tutul Pernah Masuk ke Jalanan Kota Bandung, hingga Bikin Geger Warga


Siapa sangka, Kota Bandung yang kini dikenal sebagai kota modern dan pusat kreativitas, pada masa lalu pernah menjadi “rumah” bagi hewan-hewan liar. Salah satunya adalah macan tutul, satwa yang saat ini berstatus dilindungi. Kehadiran macan tutul di jalanan kota Bandung menjadi bagian menarik dalam sejarah pembangunan kota.

Dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe karya sejarawan Haryoto Kunto, disebutkan bahwa pada tahun 1899 kelompok Vereeniging tot nut van Bandoeng en Omstreken (Perkumpulan Kesejahteraan Masyarakat Bandung dan Sekitarnya) mulai merancang pembangunan kota dengan penggerak utama Pieter Sijthoff. Saat itu, Bandung masih berupa hutan lebat yang dipenuhi berbagai satwa liar.

Hutan dan Konflik dengan Hewan Buas

Haryoto menulis, pada masa awal pembangunan, baik orang Eropa maupun pribumi kerap berhadapan dengan satwa liar. Infrastruktur masih sangat sederhana, transportasi darat menggunakan pedati kerbau, dan komunikasi dilakukan secara manual melalui petugas pos.

“Umpamanya saja, hubungan darat Cianjur–Bandung di akhir abad ke-19, masih sering dipotong jalan oleh kawanan harimau atau badak,” tulis Haryoto, lulusan Planologi ITB.

Bandung yang saat itu disebut sebagai berdessa (desa pegunungan) hanya dihuni sekitar 600 orang Eropa. Pemukiman warga masih dikelilingi hutan, sehingga kehadiran harimau, badak, hingga macan tutul adalah hal lumrah.

Haryoto juga mencatat bahwa setengah abad setelah pusat pemerintahan dipindahkan dari Dayeuhkolot ke Bandung, masyarakat masih menjumpai kawanan badak di kawasan Cisitu, hanya beberapa ratus meter dari lokasi Kampus ITB sekarang.

“Badak terakhir yang ditemukan di sekitar Bandung adalah badak yang diawetkan di Museum Zoologi Bogor. Badak itu ditembak di hutan Cililin, Kabupaten Bandung pada 1935,” tulisnya.

Macan Tutul Gegerkan Kota Bandung

Dari sekian banyak peristiwa, yang paling dikenang adalah kemunculan seekor macan tutul di jalanan kota Bandung pada tahun 1920. Hewan buas itu turun dari hutan di pegunungan Bandung utara dan masuk ke kawasan perkotaan, membuat geger warga.

Haryoto menuliskan bahwa macan tutul tersebut akhirnya berhasil dilumpuhkan oleh seorang Toean Jago Tembak dengan bantuan pawang pribumi. Bangkai hewan itu kemudian dipertontonkan seharian di depan Pasar Baru Bandung.

“Konon, lanjutnya, menurut para sesepuh kegagahan si Toean Jago Tembak yang menembak macan tutul hingga mati menjadi topik omongan orang setahun lamanya,” tulis Haryoto.

Ia menambahkan, “Jadi bisa dibayangkan, bagaimana gawatnya kota Bandung di awal abad ke-20.”

Bandung Masih Dikelilingi Hutan

Menurut pegiat Komunitas Aleut, Ridwan Hutagalung, Bandung pada era 1920-an memang belum dipenuhi permukiman. Kawasan hunian hanya terkonsentrasi di pusat kota, terutama sekitar Gedung Sate, Jalan Dago, serta wilayah selatan dan utara.

“Waktu itu, permukimannya baru di pusat-pusat kota. Ya sekitar Gedung Sate, Jalan Dago, permukiman banyak di selatan dan arah utara dan selebihnya masih hutan,” kata Ridwan, dikutip dari Detik.

Ia menyebutkan bahwa hutan-hutan yang masih tersisa di Bandung hingga kini antara lain Gunung Manglayang, Batu Lonceng, dan Cimenyan. Kawasan inilah yang dahulu menjadi habitat macan tutul dan satwa liar lainnya.

“Dari situ mereka turun. Jadi waktu itu habitatnya masih ada. Tahun 1920-an, kawasan Cimenyan ini baru juga dibuka untuk perladangan, mungkin sejak itulah mereka terusir dan mulai merambah ke kota, akhirnya ditembak,” ucap Ridwan.

Jejak Satwa Liar yang Kini Tinggal Cerita

Perjumpaan dengan macan tutul di jalanan Kota Bandung pada 1920 menjadi catatan sejarah yang menggambarkan betapa dekatnya manusia dengan satwa liar di masa lalu. Seiring berkembangnya Bandung sebagai kota modern, habitat alami mereka semakin terdesak.

Kini, macan tutul jawa (Panthera pardus melas) berstatus satwa dilindungi karena populasinya terus menurun. Kisah lama ini bukan sekadar nostalgia, tetapi juga pengingat bahwa keberadaan satwa liar sangat bergantung pada keseimbangan alam dan ruang hidup yang tersedia.

Sumber:

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.