Good News From Indonesia (GNFI) melakukan inisiatif dengan meluncurkan program “Menulis Buku Bersama dengan Kang Maman”. Hal ini untuk mengabadikan kisah-kisah personal tentang ibu dan anak dalam bentuk tulisan, baik puisi maupun artikel.
Agar mendapatkan tulisan berkualitas, GNFI membuka pendaftaran secara umum selama 23 hari. Pada masa itu, total ada 347 peserta yang berpartisipasi tanpa adanya hadiah yang menunjukkan antusias dan loyalitas dari komunitas penulis Kawan GNFI.
CEO GNFI, Wahyu Aji menjelaskan alasan mengapa mengangkat tema mengenai orang tua dalam buku ini. Dia menyebut pengalaman menjadi anak merupakan hal yang bisa dirasakan bersama.
“Jadi mengapa buku nya tentang orang tua. Kalau tentang anak tidak semua bisa bercerita. Tapi kalau tentang orang tua semua orang bisa bercerita,” ucapnya saat ditemui di acara diskusi buku di Binus International JWC Campus, Jakarta (24/4).
Selain itu, program ini diharapkan bisa membantu para penulis yang ingin merasakan bisa menulis buku. Sehingga banyak lahir karya-karya penulis berbakat dalam sebuah buku.
“Saya belum bisa menulis buku, tapi paling tidak menyemangati semua orang untuk menulis buku,” tutupnya.
Bantah Indonesia kurang literasi
Pembicara/GNFI
Maman Suherman atau Kang Maman yang menjadi kurator dalam program ini juga mempunyai tujuan tersendiri. Dia berharap dengan adanya program ini anggapan orang Indonesia kurang literasi bisa terbantahkan.
Penulis buku yang sudah menerbitkan 61 buku hingga saat ini sempat menyinggung naskah La Galigo. Karya sastra dari Suku Bugis ini tercatat sebagai salah satu karya terpanjang di dunia dengan 6.000 halaman.
“Ini naskah yang lahir dari bumi nusantara. Jadi kalau ada orang yang bilang kita negeri yang tidak literat kata siapa?” ucap pria kelahiran 10 November jni.
Anang YB yang sudah menulis sebanyak 100 buku ini juga mengungkapkan rasa ketertarikan mengikuti program ini. Walau jarang menulis antologi, dia mengaku terpanggil karena kisahnya mengenai orang tua.
Anang juga tertarik mengikuti kegiatan ini karena adanya sosok Kang Maman dan juga GNFI. Dia cukup yakin tulisan yang sudah dikurasi akan menjadikan buku ini berkualitas.
“Tapi jaminan di sini ada dua, ini akan dikurasi oleh kang maman. Akan sangat bangga banget saya bisa lolos disitu. Kedua ada GNFI di belakangnya. Sudah pasti buku ini akan berkualitas,” jelasnya.
Sementara itu, Christiyani Kabul mengaku tertarik ikut dalam program ini karena ingin menceritakan kisahnya saat jauh dari keluarga. Wanita yang tengah melanjutkan pendidikan di Irlandia ini berharap kisahnya bisa menginspirasi banyak orang.
“Itu salah satu kisah yang harus aku tulis karena itu membekas di hati saya” ucapnya.
Dukungan dunia literasi
Pegiat literasi/GNFI
Direktur Binus @Senayan, Andreas Chang yang memberikan kata sambutan dalam bedah buku ini juga berharap ada hal positif dari penerbitan buku ini. Dia mengatakan tidak bisa mencapai posisi ini bila tidak membaca.
“Dengan buku kita berubah. Kalau tidak ada buku saya tidak seperti ini,” ucapnya.
Dia berharap akan lahir banyak penulis-penulis berbakat dengan terbitnya buku ini. Sehingga melahirkan budaya literasi dari anak-anak bangsa di masa depan.
Pria kelahiran 5 Oktober ini juga menyoroti judul dari buku ini yang mengangkat soal orang tua. Dia merasa tersentuh karena banyak jasa dari orang tua kepadanya.
“Judul ini luar biasa, tanpa ayah atau ibu kita, tidak akan sampai sini. Ayah saya sangat berjasa, ibu saya sangat berjasa, ibu tiri saya sangat berjasa, nenek saya sangat berjasa,” jelasnya.
“Saya belum membaca tapi dari judulnya saya bergetar. Semoga buku ini laris manis saya pesan satu untuk saya baca,” pungkasnya.
GNFI juga berterima kasih atas dukungan dari Binus Publishing, JNE dan PrimaGraphia dalam proses penerbitan buku ini. Juga dukungan dari Dapur Bu Sastro dan Kopi Janji Jiwa sehingga pelaksanaan bedah buku berjalan dengan baik.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


