Khazanah manuskrip Nusantara hingga kini masih meninggalkan banyak misteri. Jumlahnya yang begitu banyak, dibarengi dengan beragamnya jenis aksara dan pembahasan isi teks yang asing, membuat tabir antara masyarakat dengan manuskrip Nusantara masihlah tebal.
Hal ini membuat manuskrip atau naskah-naskah ini cenderung dibiarkan, atau bahkan ditinggalkan. Fenomena pembiaran manuskrip ini seharusnya sudah tidak terjadi lagi, karena perkembangan ilmu pernaskahan, yakni filologi di Indonesia, mulai berkembang ke arah yang lebih maju.
Kawan GNFI mungkin penasaran, sebenarnya manuskrip Nusantara itu sebanyak apa dan tersimpan di mana saja? Jawabannya sangat banyak! tempat penyimpanannya pun beragam.
Mulai dari museum seperti Museum Redyapustaka di Surakarta atau Museum Sonobudoyo di Yogyakarta. Manuskrip Nusantara juga bisa dijumpai di Perpustakaan, utamanya di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, atau di Perpustakaan Universitas Indonesia.
Selain di perpustakaan dan museum, naskah-naskah atau manuskrip ini juga tersimpan di pondok pesantren, surau, sampai di rumah-rumah warga sebagai koleksi pribadi. Namun, Kawan GNFI juga harus tahu bahwa masih ada ribuan manuskrip Nusantara yang tersebar di berbagai negara, mulai dari Belanda, Prancis, Rusia, hingga Jerman.
Nah, dalam artikel ini akan dibahas mengenai naskah-naskah manuskrip Nusantara yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Berlin atau yang dikenal dengan Staatsbibliothek zu Berlin.
Tangkapan Layar Manuskrip Hikayat Semaun Beraksara Jawi via qalamos.net
Carl Schoemann, Sang Kolektor Manuskrip Nusantara Berkebangsaan Jerman
Pada tahun 1845, seorang guru dari Jerman datang ke Hindia Belanda. Dia adalah Carl Schoemann, dia datang atas permintaan seorang tuan Belanda yang menginginkan pendidikan terbaik bagi putra-putrinya.
Pada masa itu, Jerman memanglah negara dengan kualitas yang sangat baik. Oleh karena itu, banyak orang mempercayakan pendidikan mereka kepada guru yang berasal dari Jerman.
Selain menjadi guru, Carl Schoemann juga tertarik dengan khazanah kebudayaan yang ada di Hindia Belanda. Ia melihat karya-karya Nusantara sebagai karya yang khas, dan oleh karena itu ia bertekad untuk mengumpulkan satu manuskrip dari setiap daerah di Hindia Belanda.
Untuk mendapatkan manuskrip itu, ia membelinya dari pemilik naskah atau menyuruh seorang penyalin naskah untuk menyalin naskah yang ia inginkan. Pada tugas akhirnya di Hindia Belanda, yakni pada tahun 1851, Carl Schoemann berhasil mengumpulkan 350 manuskrip Nusantara dari berbagai daerah dengan berbagai aksara, tema, dan pembahasan.
Sepulangnya dari Hindia Belanda, Carl Schoemann membangun gedung khusus untuk menyimpan naskah-naskah koleksinya. Pada tahun 1877 ia wafat, dan setahun setelahnya naskah-naskah miliknya diserahkan ke Staatsbibliothek zu Berlin yang kini berada di bawah Yayasan Kebudayaan Prussia.
Naskah Nusantara di Berlin, Berteman dengan Kesunyian
Tangkapan Layar Naskah Hikayat Boma dan Hikayat Kerasana via qalamos.net
Naskah-naskah manuskrip yang ada di Berlin kini tersimpan dengan aman dan rapi di Staatsbibliothek zu Berlin. Selain disimpan, perpustakaan juga melakukan digitalisasi naskah agar banyak khalayak yang bisa mengakses dan membaca manuskrip yang disimpan di perpustakaan itu.
Perlu Kawan GNFI tahu kalau manuskrip di Staatsbibliothek zu Berlin setidaknya mencakup empat jenis aksara dan bahasa yakni bahasa Melayu, naskah beraksara Jawi, naskah beraksara dan berbahasa Jawa, naskah beraksara dan berbahasa Batak, serta naskah beraksara dan berbahasa Bugis.
Naskah-naskah ini bisa diakses secara daring dan gratis melalui tautan www.qalamos.net. Di dalam tautan tersebut, kawan GNFI bisa melihat manuskrip nusantara dengan kualitas gambar terbaik, dan bisa diakses kapanpun dan dimanapun.
Meski sudah didigitalisasi, keberadaan manuskrip Nusantara di Jerman masih belum mendapat perhatian yang baik dari masyarakat Indonesia. Sedikitnya informasi mengenai hal ini mungkin menjadi salah satu alasan mengapa naskah-naskah Nusantara yang berada di Jerman ini kurang dikenal.
Tentu setelah mengetahui hal ini, Kawan GNFI jadi lebih paham tentang khazanah naskah Nusantara yang tersimpan di Jerman. Dengan kemudahan dan keterbukaan informasi dari pihak perpustakaan, sudah seharusnya menjadikan masyarakat Indonesia menaruh atensi lebih kepada naskah-naskah ini.
Harapannya tentu akan muncul kajian dan penelitian yang mendalam mengenai manuskrip Nusantara ini. Sebab kalau bukan masyarakat Indonesia yang meneliti, siapa lagi?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


