Cirebon terkenal dengan kebudayaannya yang kental. Sama seperti Solo dan Yogya, Cirebon memiliki keraton yang menjadi tempat tinggal para raja. Keraton tersebut ialah Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman. Cirebon, Solo, dan Yogyakarta juga terkenal dengan tradisi membatiknya.
Batik Cirebon merupakan batik yang cukup populer di kalangan masyarakat, tidak hanya Jawa Barat, tetapi juga Indonesia. Bahkan, batik Cirebon disebut sebagai sentra batik tertua yang juga turut memberikan pengaruh terhadap ragam pola-pola batik di sentra-sentra industri batik lainnya di Provinsi Jawa Barat.
Artikel ini menghimpun informasi seputar jenis dan ragam motif batik Cirebon yang cantik serta kaya makna filosofis dan sejarah. Yuk, simak sampai habis!
3 Jenis Batik Cirebon dan Ciri-ciri Pembedanya
Dalam jurnalnya, Kudiya & Saftiyaningsih (2020: 2) menjelaskan bahwa hingga saat ini batik Cirebon memiliki tiga kelompok produk, yakni batik keraton, batik daerah pesisir atau yang dikenal dengan nama Trusmi, dan batik ciwaringin. 3 jenis batik Cirebon tersebut menyimpan keunikan dan ciri pembeda masing-masing.
Sebagai pembuka, batik keraton pada awalnya tercipta karena kecintaan keluarga keraton terhadap seni lukis. Lukisan tersebut mulanya digores dengan indah di daun lontar yang berfungsi sebagai kanvas. Seiring berjalannya waktu, media lukis keluarga keraton tidak lagi daun lontar, melainkan kain katun. Sejak saat itulah batik keraton mulai beredar di masyarakat.
Dilansir dari Indonesia Kaya, batik keraton memiliki ciri yang khas. Biasanya batik keraton berwarna gelap, misalnya dominan hitam, merah tua, dan cokelat. Selain itu, batik keraton juga mayoritas berbentuk horizontal dalam tiga lajur yang menggambarkan jajaran atas, tengah, dan bawah.
Batik pesisir atau yang dikenal dengan nama batik Bangbirong memiliki warna dasar yang cenderung cerah, seperti biru, hijau, dan merah. Motif batik pesisir berhubungan erat dengan alam sekitar, seperti motif udang, ikan, dan bunga.
Sementara itu, batik ciwaringin mulanya dilakukan oleh para santri pesantren, jadi identik dengan nilai-nilai Islam.
Berbeda dengan batik keraton dan pesisir, Machdalena dkk. (2023) menjabarkan bahwa motif makhluk bernyawa pada batik cirwaringin tidak dilukis secara utuh (sengaja disamarkan), motifnya sederhana, digambar tanpa pola karena tidak didahului gambar sketsa, dan cenderung tidak ada ruang kosong dalam kanvas.
Lebih jauh, batik ciriwangin terkenal akan motifnya yang rumit dan cerah serta kerap memamerkan desain geometris yang rumit dan terinspirasi dari alam. Warnanya pun cenderung berani dan banyak dikaitkan dengan identitas budaya warga Cirebon.
7 Motif Batik Cirebon dan Maknanya
Untuk mengetahui ragam motif batik Cirebon, berikut telah dihimpun informasi seputar sejumlah motif batik khas Cirebon yang cukup terkenal:
1. Motif Batik Megamendung

Motif Megamendung © Hamzah Batik
Batik motif Megamendung merupakan salah satu motif batik Cirebon yang berasal dari kalangan keraton. Sesuai namanya, batik Megamendung memiliki bentuk menyerupai awan yang berwarna putih. Dilansir dari Indonesia Kaya, motif Megamendung memiliki makna kehidupan di dunia atas, kebebasan, hingga representasi awan pembawa hujan sebagai lambang kesuburan dan pemberi kehidupan.
Hal ini juga yang kemudian menjadi perbedaan batik Megamendung dan Wadasan. Jika batik Megamendung didominasi oleh corak awan, Wadasan yang berarti "batu karang" atau "batu cadas" memiliki corak dominan berupa gambar batu karang (Prizilla, 2016).
Konon katanya, batik Megamendung diciptakan oleh Pangeran Cakrabuana, putra Raja Pajajaran dan pendiri Kerajaan Cirebon. Pangeran Cakrabuana juga merupakan paman dari Sunan Gunung Jati.
Dalam versi lain disebutkan, motif Megamendung diadaptasi dari hiasan keramik yang dibawa Putri Ong Tien, putri Kaisar Hong Gie dari masa Dinasti Ming, saat menikah dengan Sunan Gunung Jati. Pernikahan inilah yang menjadi cikal bakal masuknya pengaruh budaya dan tradisi Cina, termasuk dalam proses dan seni pembuatan batik keraton.
Oleh karena itu, motif awan ini memiliki kesamaan dengan motif awan di kebudayaan Tionghoa. Lapisan awan Megamendung terdiri dari lima sampai tujuh warna objek yang monokromatis. Lima warna objek merepresentasikan rukun Islam yang ada lima, sedangkan tujuh warna objek menggambarkan tujuh lapis langit yang telah dilalui Nabi Muhammad SAW saat melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj.
Batik Megamendung menjadi ciri khas dari batik Cirebon. Bahkan, Ketua harian Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB), Komarudin Kudiya mengatakan bahwa motif Megamendung adalah karya sangat luhur dan penuh makna.
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia juga berencana untuk mendaftarkan motif batik Megamendung ke UNESCO agar diakui sebagai salah satu warisan dunia.
2. Motif Batik Singa Payung atau Singa Barong

Gambar Motif Batik Cirebon Singa Barong atau Singa Payung dan Maknanya | Batiktulis.com
Batik Singa Payung biasa disebut juga Batik Singa Barong. Batik ini tercipta karena terinspirasi oleh Keraton Kanoman.
Singa Barong merupakan salah satu jenis hewan mitologi atau magis, menurut kebudayaan Jawa dan Bali. Singa Barong memiliki bentuk gabungan antara singa atau macan yang tampak padabadan, kaki, mata; garuda di bagian sayap, berbadan seperti gajah, dan lidah menjulur layaknya naga. Motif batik ini merupakan simbol spiritual.
Sebagian besar tokoh di Keraton Kasepuhan memaknai batik ini berupakan simbol keharmonisan antaragama di Indonesia. Elang bersayap sebagai simbol Islam, gajah sebagai simbol agama Hindu, naga sebagai simbol agama Buddha, dan singa sebagai simbol agama Protestan (atau budaya Eropa Barat).
Makna pada batik ini juga dapat dilihat berdasarkan pada masing-masing ornamen.
- Gunungan, yang merepresentasikan kisah kehidupan para raja dari awal hingga akhir hidupnya.
- Gerbang Kraton menggambarkan keterbukaan keraton pada masyarakat Cirebon.
- Wadasan, bermakna keraton yang kokoh dan kuat sebagai pusat kerajaan.
- Wit-Wit, bermakna kesabaran para pengrajin ketika proses membatik.
- Daun Pandan merepresentasikan keharuman nama keraton di kalangan masyarakat.
- Singa, bermakna raja sebagai pemimpin dan kekuasaan.
3. Motif Batik Kompeni

Motif Kompeni Perang © Finunu Wordpress
Sesuai namanya, ilustrasi batik Kompeni sangat kental dengan keberadaan Belanda di Indonesia. Ornamen yang digunakan pada batik Kompeni menggambarkan suasana perang pada masa kolonial Belanda dengan adanya tentara VOC, meriam, tank, bambu runcing dan senapan. Selain itu, motif batik ini juga menggambarkan keragaman flora dan fauna di Indonesia.
Dalam batik Kompeni, tentara VOC digambarkan membawa senapan laras panjang dan meriam. Sementara itu, masyarakat Indonesia digambarkan sesuai profesi seperti pedagang dan petani dengan adanya ornamen sawah.
4. Motif Batik Patran Keris
Patran Keris menjadi batik yang diminati oleh masyarakat Jepang. Biasanya, mereka menggunakan batik Patran Keris sebagai bahan pembuatan kimono. Batik ini menjadi motif paling simpel di antara motif lainnya.
5. Motif Batik Paksi Naga Liman

Motif Paksi Naga Liman © Budaya Indonesia
Batik Paksi Naga Liman memiliki ornamen yang khas dengan adanya kereta kencana Paksi Naga Liman. Sementara itu, bentuk Paksi Naga Liman merupakan kombinasi dari paksi (garuda), naga (ular) dan liman (gajah). Unsur-unsur tersebut menggambarkan sebagai perpaduan antara kekuatan fisik dan sikap yang melindungi dan didasari sifat kebijaksanaan
Paksi Naga liman merupakan simbol dari kekuatan keraton, yakni paksi (udara), naga (laut) dan liman (darat) yang pada saat itu Keraton Cirebon mencapai kemakmuran.
6. Motif Batik Wadasan
Batik Wadasan adalah batik yang berasal dari Cirebon dan terkenal akan corak batu karangnya yang khas. Nama "Wadasan" diambil dari kata wadas yang artinya batu karang atau batu cadas.
Seperti arti namanya, corak batik Wadasan terinspirasi dari letak Cirebon yang secara geografis memiliki banyak pantai. Kawan dapat menemukan motif batik ini di Keraton Cirebon.
Prizilla (2016) melalui jurnalnya juga bercerita bahwa motif Wadasan dapat dipakai sebagai motif utama maupun pelengkap dalam busana batik. Mirip dengan batik Parang yang memiliki beberapa jenis, misalnya motif Parang Rusak, batik Wadasan juga memiliki beberapa pilihan corak misalnya Rajegwesi, Panji Semirang, dan Wadas Grompol.
Sebagai tambahan insight, batik Wadasan Rajegwesi melambangkan nilai filosofis berupa pengingat agar manusia senantiasa mempunyai "pengaman" yang kuat dan kokoh supaya hidup kita aman dari gangguan eksternal.
Masyarakat Islam Cirebon memaknai kata "pengaman" di sini sebagai akidah yang kuat seperti batu karang. Artinya, kita harus senantiasa kokoh, tidak goyah, dan senantiasa istiqamah terutama saat dihadapkan dengan godaan luar.
7. Motif Ayam Alas atau Ayam Alas Gunung Jati

Kiri Atas, Gambar Motif Batik Cirebon Ayam Alas Gunung Jati pada Perangko Keluaran Pos Indonesia | Kementrian Perindustrian RI
Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati adalah pendiri kerajaan Islam pertama di Cirebon. Batik keratonan bermotif Ayam Alas ini sengaja dibuat untuk menghormati sosok Sunan Gunung Jati mengingat ayam hutan pada dasarnya merupakan hewan kesayangan sultan.
Prizilla (2016) menerangkan bahwa masyarakat percaya bahwa simbol ayam pada batik tersebut melambangkan sikap berani karena ayam kerap bangun dan berkokok di saat fajar. Hal ini membuat ayam juga kerap dianggap sebagai penjaga matahari.
Sekian artikel berjudul "Melihat Pesona 5 Motif Batik Cirebon yang Terkenal, Tak Hanya Indah tapi Juga Sarat Makna Filosofi dengan Ciri Khas dan Sejarahnya".
Semoga informasi ini memberikan pembahaman lebih dalam untuk Kawan GNFI seputar ragam hias batik Cirebon!
Artikel ini diperbaharui tanggal 28 Juli 2026 pukul 14.44 WIB.
Referensi:
- Kudiya, K., & Atik, S. K. (2020). Kekuatan desain motif batik Cirebon sebagai ruang identitas indikasi geografis Indonesia. Waca Cipta Ruang: Jurnal Ilmiah Desain Interior, 6(1), 1-12. [suspicious link removed][cite: 1].
- Machdalena, S., Dienaputra, R. D., Suryadimulya, A. S., Nugraha, A., Kartika, N., & Yuliawati, S. (2023). Motif batik Ciwaringin sebagai identitas budaya lokal Cirebon. Jurnal Panggung, 33(1), 72-87[cite: 3].
- Prizilla, A. B. (2016). Rupa ragam hias batik bernuansa Islam Keraton Cirebon setelah masa pra-Islam. Jurnal Rupa, 1(2), 78-150.
- https://batiksalma.com/motif-motif-khas-batik-trusmi-cirebon/
- https://kumparan.com/viral-food-travel/5-motif-batik-cirebon-unik-dan-punya-makna-dalam-1zqu3mg8XAu
- https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/batik-cirebon-batik-yang-selalu-lekat-dengan-motif-mega-mendung/
- https://batik-tulis.com/batik-singa-barong/
- https://bbkb.kemenperin.go.id/index.php/post/read/literasi_batik_melalui_prangko_0
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


