Ada yang berbeda ketika mata kita berhenti di hadapan lukisan Madurese Boat at Beach karya Affandi. Tidak ada kemewahan yang ditonjolkan, tidak ada panorama yang dirancang untuk memukau. Lukisan tersebut hanya menampilkan sebuah perahu kayu yang bersandar tenang di tepi pantai, tapi justru dari kesederhanaan itulah sesuatu yang besar berbicara.
Angka yang Fantastis
Rp7,2 miliar untuk sebuah lukisan perahu. Wajar kalau Kawan kebingungan apa yang membuat sebuah karya bisa dihargai setinggi itu?
Alasan yang pertama adalah kelangkaan. Madurese Boat at Beach berasal dari periode 1960an, masa di mana Affandi sedang berada di puncak eksplorasi tekniknya. Karya dari periode ini tidak banyak beredar di pasar seni, sebagian besar sudah tersimpan rapi di tangan kolektor jangka panjang atau di dalam museum. Lukisan yang dilelang dalam Art Jakarta 2022 sebelumnya adalah koleksi pribadi, yang berarti ini adalah kesempatan langka bagi publik untuk bisa memilikinya.
Kedua adalah daya tarik visualnya yang tidak lekang oleh waktu. Affandi dikenal luas sebagai pelopor ekspresionisme Indonesia, sebuah aliran yang menempatkan ungkapan emosi dan pengalaman batin sebagai inti dari sebuah karya.
Dalam Madurese Boat at Beach, pendekatan ini terasa nyata. Affandi tidak melukis perahu sebagaimana adanya secara fotografis, melainkan menuangkan bagaimana ia merasakan kehadiran perahu itu. Energi, gerak, dan kehidupan yang mengelilinginya. Hasilnya adalah karya yang memiliki identitas visual yang sangat kuat dan tidak bisa disamakan dengan pelukis mana pun. Di pasar seni internasional, karya yang memiliki gaya original dan konsisten akan dinilai tinggi karena ia tidak bisa dipalsukan tanpa langsung terdeteksi.
Nilai sebuah lukisan yang bertahan lama bukan sekadar soal nama besar penciptanya, melainkan soal kemampuannya menyentuh sesuatu yang universal dalam diri siapa pun yang melihatnya.
Ketiga, nilai kulturalnya yang dalam. Perahu tradisional Madura bukan objek sembarangan. Ia adalah bagian dari identitas budaya pesisir Nusantara yang sudah ada jauh hingga menjadi simbol kerja keras, keberanian, dan keterikatan masyarakatnya dengan laut. Ketika Affandi memilih mengabadikannya pada 1964, ia sedang mendokumentasikan sesuatu yang otentik dan berharga dari Indonesia.
Kehebatan Sang Pelukis
Ada satu hal yang perlu kita ingat sejak awal jika berbicara soal Affandi, yaitu ia bukan pelukis yang tumbuh dari latar belakang yang mewah atau akademik. Affandi Koesoema lahir di Cirebon sekitar tahun 1907 dan sebelum namanya dikenal luas ia pernah menjadi tukang sobek karcis bioskop dan pembuat iklan untuk menyambung hidup. Justru dari pengalaman hidup yang membumi itulah tumbuh cara pandangnya yang khas, bahwa seni bukan milik kalangan tertentu dan keindahan bisa ditemukan di mana saja.
Ciri khasnya yang paling ikonik adalah teknik plotot, yaitu memeras cat langsung dari tube ke kanvas lalu mengolahnya dengan punggung tangan untuk menghasilkan garis-garis melengkung yang ekspresif. Teknik ini lahir secara tidak sengaja ketika suatu hari kuasnya patah dan ia memilih untuk terus melukis dengan cara apa pun yang bisa ia lakukan. Hasilnya justru menjadi identitasnya yang paling kuat. Tidak ada jarak antara Affandi dan karyanya, emosi mengalir langsung dari dirinya ke kanvas dengan jujur. Mungkin itulah kenapa lukisannya selalu terasa hidup karena memang ada sepotong dirinya yang tertinggal di sana.
Affandi juga bukan seniman yang hanya dikenal di dalam negeri. Ia menerima gelar Grand Maestro di Florence, Italia, mewakili Indonesia di Venice Biennale 1954, dan karyanya telah dipamerkan di berbagai negara di Asia, Eropa, Amerika, hingga Australia. Sepanjang hidupnya ia menghasilkan lebih dari 2.000 lukisan yang menjadi bukti sebuah produktivitas luar biasa dari seorang seniman yang menyebut dirinya sendiri dengan rendah hati sebagai "Pelukis Kerbau."
Di balik julukan sederhana itu tersimpan keyakinan yang kuat bahwa melukis bukan hanya soal teori atau teknik yang rumit, melainkan juga ketulusan dalam melihat dan merasakan dunia di sekitar kita.
Di Balik Angka yang Fantastis
Pada akhirnya, Madurese Boat at Beach yang laku seharga Rp7,2 miliar bukan sekadar pencapaian pasar seni. Ia adalah cerminan dari sesuatu yang lebih besar bahwa karya yang lahir dari kejujuran dan kecintaan yang tulus terhadap kehidupan akan selalu menemukan nilainya, melampaui waktu dan tren yang silih berganti.
Affandi melihat perahu Madura dan memutuskan bahwa ia layak untuk diabadikan. Bukan karena eksotis atau karena akan laku mahal, tetapi karena di situlah ada kehidupan yang nyata. Dan dengan jari-jarinya yang langsung menyentuh kanvas, ia menitipkan semua itu kepada kita.
Jadi, kalau ada yang bertanya mengapa sebuah lukisan perahu kayu bisa laku seharga Rp7,2 miliar? Jawabannya mungkin sesederhana karena Affandi berhasil membuat kita melihat bahwa perahu itu bukan sekadar perahu. Ia adalah representasi Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


